Sebelum Melangkah ke Depan
December 30th, 2007 by gejor Kehidupan bagaikan perjalanan seorang pengelana. Setiap langkah yang dilakukan menciptakan banyak jejak yang ditinggalkan. Kisah yang indah mengisi hari ataupun tragedi yang menyayat hati.
Sebelum melangkah ke depan, ada baiknya kita melihat ke belakang. Dari 365 hari yang telah kita lalui, setiap harinya memiliki cerita sendiri. Setahun sudah kita lewati. Banyak hal terjadi. Telah mengunjungi berbagai tempat baru, orang-orang baru, pengalaman baru. Cerita tentang keluarga, tentang cinta, teman, maupun pendidikan ataupun karir.
Mengenangnya semoga membuat kita bisa lebih baik di kemudian hari. Apapun itu, selama kita berpikir positif, semuanya adalah yang terbaik untuk kita. Suka ataupun duka.
Dan di esok hari, melangkah di tahun yang telah berganti, berbagai cerita pasti telah menanti. Jika segala sesuatu memang harus terjadi, mau tidak mau, kita semua harus siap menghadapi. Memahami perjalanannya. Cerita kita di dunia akan selamanya terus mengalir sampai nanti.
Selamat Tahun Baru 2008. Semoga harapan baru memberikan semangat baru untuk kita. Being happy. And I Love U all.
Jakarta, Desember 2007
Kebun Binatang Ragunan
December 29th, 2007 by gejor Selasa, Natal di bulan desember ini, aku sebenarnya udah berencana untuk jalan ke Dago Pakar - Maribaya, Bandung. Hanya saja, karena ditahan-tahan ama anak-anak kosan, akhirnya batal. Jadilah hari itu aku mengunjungi saudara-saudara dan teman-teman kita di Kebun Binatang Ragunan. Kangen, sekian lama tidak pernah bersua.
Berangkat jam dua belas siang karena bangun paginya males-malesan. Bareng ama Astaka dan Sapi. Meluncur menuju selatan Jakarta. Banyak pohon di jalan menjelang Ragunan, jadi sejuk. Langit di atas sana juga sudah mulai mendung.
Makan siang di warung depan pintu masuk kebun binatang. Alamak… Harganya mahal, hampir dua kali lipat dari harga-harga sekitar kosanku. Tapi mau gimana lagi. Nggak bisa protes. Makanannya udah dimakan. Hiks…
Memasuki pintu masuk parkir motor utara Kebun Binatang Ragunan, ratusan motor dan mobil udah terlihat memenuhi tempat parkirnya. Ditambah dengan manusia-manusianya, sepertinya jumlahnya ribuan. Maklum, liburan akhir tahun ini mungkin menyebabkan warga Jakarta tumpah ruah ke tempat ini.
Binatang-binatang yang ada sebenarnya nggak begitu menarik perhatianku. Tujuanku ke tempat ini lebih cenderung dengan alasan "biar pernah" aja. Sekaligus hunting foto binatang. Cuman sayang, lensa EOS400Dku masih standar. Binatang-binatang yang mau diambil gambarnya sebagian besar posisinya jauh dari pagar pembatas. Jadi susah berekspresi. Tapi nggak pa pa. Yang penting man behind the gun nya OK. Bhuahaha.
Burung, reptil, monyet, harimau, dan singa kuambil gambarnya. Selain itu beberapa foto tentang suasana kebun binatang yang ramai serta foto-foto narsis Astaka dan Sapi juga mengisi memori kamera.
Satu hal yang yang selalu terjadi adalah, tetap aja aku yang jauh-jauh main ke Ragunan, ketemunya ama anak-anak sekampus juga, es te te telekom. Sebut saja dua orang teman sekelas Astaka dulu. Terus ketemu ama Kentang dan Husni yang juga lagi hunting foto di sana. Dan buset… Lensa yang mereka bawa membuatku minder euy.
Kebun binatangnya sendiri menurutku agak kurang enak. Kalau bau, udah pastilah ya. Secara banyak binatang yang tentu saja nggak tahu aturan harus boker dan pipis di mana. Terus yang membuat pemandangan menjadi terganggu adalah hadirnya para pedagang asongan ataupun yang menggelar dagangannya di lingkungan kebun binatang. Mataku rada sepet ngeliatnya. Bukan bermaksud nggak menghormati orang yang mau cari rejeki sih, cuman ya itu, mengganggu kenyamanan pengunjung. Apalagi sampah-sampahnya banyak juga yang berceceran. Atau kenapa pihak pengelola nggak menyediakan tempat buat mereka? Sejenis kantin atau tempat khusus lainnya? Tanya kenapa?
Selepas adzan azar berkumandang, sekitar jam empat sore, langit bertambah gelap. Hujan pun turun dengan lebatnya. Aku, Astaka, Sapi, Husni, beserta Kentang dan adiknya pun cabut. Untuk kemudian nongkrong di sebuah warung kopi menunggu hujan reda. Setelah cukup lama bertukar cerita tentang kabar masing-masing dan langit cerah kembali, kami pun berpisah.
Jakarta, Desember 2007
Sekali Lagi (Mon Amour)
December 29th, 2007 by gejor Di kala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapan
Kuingin terbang jauh
Biar awan pun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Waktu itu aku menunggu malam untuk selesai berdandan. Bermandikan cahaya bulan berhiaskan senyuman bintang. Seperti yang sudah-sudah. Senja berganti malam memang indah. Langit yang perlahan beranjak merah keemasan. Senja yang begitu menawan. Walaupun kadang suasana senja sering membuat hati terluka.
Kita berjalan menyusuri jejak-jejak malam. Melihat bintang-bintang. Cantiknya rembulan. Tapi pernahkah kita bertanya siapa kita? Sepertinya kita adalah sama. Saat aku merasa berarti di sampingmu. Saat kamu berharga ketika bersamaku. Tapi saat aku terlelap begitu lama, aku bukan siapa-siapa. Dan kita ternyata juga bukan siapa-siapa. Mestikah aku bersedih?
Waktu itu aku sedang tidak menunggu malam. Aku sedang membuka hari. Merangkai goresan lembar demi lembar. Aku tak tahu siapa yang menuntun jemariku. Mungkin itu kamu kawan.
Apakah ceritamu sudah beranjak senja? Begitu tanya mereka. Ketika makin bimbang hatiku untuk menutup hari. Ketika aku terlelap, tertidur, dan bermimpi. Membiarkan semuanya berlalu. Sepertinya biasa saja. Memangnya kenapa kalau aku tertidur lama? Tidur sajalah. Tidak banyak orang yang menunggu untuk bangun. Kehidupan di luar sana akan tetap berjalan.
Kini kita tak lagi berjalan menyusuri jejak-jejak malam. Tak lagi melihat bintang-bintang dan indahnya rembulan. Hanya masih kugenggam erat tanganmu. Selalu. Esok aku akan terbang.
Aku terbangun. Melihat hari itu. Sekali lagi. Selalu ada mimpi. Bukankah kita tak berkuasa atas hidup kita sepenuhnya? Setidaknya jika suatu hari nanti kita mati, kita percaya bahwa kita akan baik-baik saja. Walaupun kita bersedih. Walaupun kita tertawa. Sebenarnya semuanya biasa saja. Walaupun tak sebaik yang kita inginkan. Dan kita tak akan menyesal, karena kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Nanti akan kulihat diriku lagi. Yang sedang terbang. Membelah langit. Menembus awan. Melihat bintang yang menunggu malam selesai berdandan.
Lyrics Taken from Yana Julio - Selamanya Cinta
Bandung, Oktober 2007
Buat Ibunda Tercinta
December 22nd, 2007 by gejor
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku
Lyrics Taken from Potret - Bunda
Jakarta - Desember 2007
Undangan
December 22nd, 2007 by gejor Hari ini ada resepsi teman SMAku. Teman SMAku yang sudah menikah dua minggu yang lalu. Keduanya teman SMAku. Sabu dan Yeppi namanya. Beberapa waktu yang lalu aku ditelpon oleh Lompang (sobatku juga), mengatakan bahwa aku dapat undangan dari mereka. Katanya sebagian besar teman-teman seangkatan waktu SMA diundang. Wuih… Kayaknya resepsi ini bakalan jadi ajang reunian. Apalagi waktunya bertepatan dengan libur panjang akhir tahun. Sepertinya mereka sengaja memilih waktu resepsi mereka ke akhir tahun, agak jauh dari upacara pernikahannya sendiri (akad nikah -red).
Sial… Aku jadi bersedih begini. Nggak bisa datang. Dengan berat hati. Memebayangkan kerja shift-shiftan ada nggak enaknya juga. Ketika orang pada kerja, aku liburan. Ketika orang liburan, aku yang kerja. Dan aku pun hanya bisa menelpon keduanya untuk mengucapkan selamat. Dan yang pasti, ketika mereka menanyakan kapan aku menyusul, hanya bisa kujawab "May", sambil tertawa.
Flash back ke belakang, ternyata sudah sekian lama waktu berlalu. Kuingat satu persatu wajah dan nama teman-teman lamaku. Mulai dari yang sekelas sampai ke kelas lain dan jurusan yang lain pula. Sebagian besar masih kuingat. Dan parahnya, ada yang kuingat tapi kulupa namanya.
Sepertinya semua sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing. Dan kehadiran teman-teman lama, dulu, sedikit banyak telah berpengaruh dalam hidup kita sekarang. Masih dan ingin kulihat kembali, masihkah akan selalu bisa bersama-sama lagi. Melihat seragam putih abu yang dikenakan. Mengenang cerita-cerita penuh semangat dan romantika ketika SMA. Begitu menyenangkan.
Sabtu sore seusai hujan. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana saat ini teman-temanku penuh suka cita di acara itu. Hhhh… Happy wedding for you my friends. Wish all the best for you.
Jakarta, Desember 2007
Harta Karun untuk Semua
December 12th, 2007 by gejor Mari kita lebih peduli pada nasib bumi kita!
Save the nature, save the earth!!!
Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff - The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung "orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masapenggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik?" Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadi nya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.
Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran ilmu alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL "Tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?" Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun "Haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?"
Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?
Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intin… dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, ”Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadi kan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.
Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.
Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
Taken from Dewi Lestari - Harta Karun untuk Semua
Jakarta, Desember 2007
Adelin Lis dan Nurdin Halid
November 17th, 2007 by gejor Aku mungkin nggak begitu mengerti tentang politik. Nggak begitu mengerti tentang hukum. Tetapi dua tokoh yang kutulis sebagai judul dari tulisanku ini cukup menyita perhatianku. Beberapa koran belakangan ini selalu mengupas berita tentangnya. Tiap kali buka detik, pasti ada berita tentang mereka.
Adelin Lis, Sang Raja Kayu dari Medan. Berstatus bebas setelah melalui proses penyidangan di Medan, Sumatera Utara. Memang sih kalau dilihat dari sisi hukum, ia katanya hanya kena hukum perdata. Cukup didenda atas kesalahan yang dilakukannya. Hanya terkena vonis masalah kesalahan administrasi. Tapi kalau aku melihat dari mata orang awam, bagaimana ribuan hektar hutan di wilayah yang menjadi kekuasaanya dulu itu hilang? Bagaimana lingkungan rusak? Bagaimana habitat mahluk hidup yang ada di sana? Harimau Sumatera misalnya, saat ini hanya berjumlah 400 ekor di dunia. Entah nanti.
Sedangkan Nurdin Halid, ketua umum PSSI ini, entah bagaimana cara berpikir tokoh-tokoh pemimpin bidang olah raga di negara ini. Sudah jelas-jelas ada teguran dari FIFA atas kasusnya. Masa PSSI dipimpin oleh seorang yang sedang dipenjara? Dan penyebabnya lagi, memalukan. Korupsi. Beugh…!!! Seperti nggak ada orang lain yang bisa dipilih lagi untuk memimpin organisasi tersebut. Ga kebayang ketika ia memberikan semangat moral kepada para pemain PSSI yang mati-matian bertanding demi mengharumkan nama bangsa. Nah, sedangkan ia sendiri seperti itu. Mungkin dibenarkan hal tersebut dilakukan ketika pedoman dasar mereka yang dilihat. Pedoman dasar yang mereka buat tanpa menghiraukan pedoman internasional yang menjadi patokan setiap asosiasi sepak bola tiap negara.
Aku memang tak begitu mengerti masalah politik dan hukum. Tapi dari dua orang ini, dari kasus mereka, yang pasti, bagaimanapun pembelaan mereka, hati kecilku tetap nggak bisa menerima atas apa yang mereka lakukan dan atas apa yang mereka dapatkan.
Jakarta, November 2007
Jalan-jalan ke Pulau Pramuka
October 20th, 2007 by gejorTerlambat
Pagi yang cerah. Alarm pada HPku telat berbunyi. Ternyata jam yang kuseting salah. Rencana berangkat ke Pulau Pramuka pagi ini yang direncanakan jam lima pagi akhirnya telat menjadi jam enam lewat. Berangkatnya pun hanya berdua. Aku bersama Ufo, teman satu kosanku di Jakarta, anak STT Telkom juga, dari Bali. Sedangkan teman-temanku lainnya yang mengatakan ingin ikut, ternyata ga jelas sampai hari H keberangkatan. Ya sudah, tanpa banyak menunggu, akhirnya berangkat berdua, setelah kemaren belanja seadanya untuk bekal perjalanan.
Sampai di Muara Angke pukul tujuh pagi lewat. Menuju ke dermaga, alamak, kapal motor menuju Pulau Pramuka baru saja berangkat. Aku telat hanya beberapa menit. Kapal motor berikutnya jam satu siang.
Sial. Aku dan Ufo hanya bisa saling menyalahkan karena bangun kesiangan.
Jalan-jalan di Muara Angke
Akhirnya, daripada menghabiskan waktu hanya dengan menunggu keberangkatan kapal berikutnya, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan di seputaran Muara Angke.
Muara Angke merupakan sebuah dermaga yang menghubungkan Jakarta dengan pulau-pulau di Kep. Seribu. Juga merupakan kota nelayan dengan pasar ikan.
Beberapa gambar tentang Muara Angke kuambil dari kamera digitalku yang LCDnya sudah rusak. Banyak pedagang yang menawarkan ikan segar kepadaku ketika aku melihat-lihat pasar.
Masuk di komplek pusat jajanan Muara Angke, berjajar warung-warung lesehan yang menjual ikan laut bakar dan sejenisnya. Rata-rata sudah tutup karena saat itu bulan puasa. Kulihat satu warung ada orang yang sedang membakar ikan. Aku dan Ufo pun memutuskan untuk sarapan pagi ikan bakar di tempat itu.
Lama kuhabiskan waktu di warung ikan bakar yang bernama Sentral itu. Sambil bertanya-tanya tentang Muara Angke dengan pemilik warung. Juga tidur-tiduran dan menghabiskan beberapa bekal yang kubawa.
Menjelang tengah hari, kami pun beranjak meninggalkan warung tersebut menuju dermaga tempat kapal motor yang akan menuju Pulau Pramuka.
Berangkat
Di dalam kapal motor, sebelum berangkat, memang terasa cukup gerah dan panas. Sedikit memusingkan dan membuat perut mual jika tidak terbiasa dengan goyangan kapal.
Tepat jam satu siang, kapal pun berangkat. Angin berdesir menghapus keringat yang menetes. Melewati kapal-kapal lain yang parkir di dermaga. Di seberang timur, di wilayah Ancol, terlihat gedung-gedung bertingkat yang baru dibangun.
Di tengah laut lepas, perasaan takutku mulai muncul karena gelombang mulai bertambah besar. Sedangkan Muara Angke di belakang sudah terlihat jauh. Di seberang, di sebelah kanan, pulau pertama yang dilewati adalah Pulau Bidadari. Sedangkan Pulau Pramuka masih jauh, salah satu pulau terjauh yang akan kami tuju.
Melewati Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut
Satu jam lewat, kapal motor berlabuh di Pulau Untung Jawa. Nama pulau ini kuketahui karena aku sengaja pindah ke depan di samping nahkoda dan bertanya kepadanya. Sementara Ufo dan penumpang lainnya kebanyakan tertidur selama perjalanan.
Di seberangnya lagi, kira-kira tidak lebih dari satu kilometer, ada Pulau Rambut. Sempat kubaca di sebuah artikel, kalau Pulau Rambut tidak berpenghuni. Hanya ada sesekali petugas Taman Nasinal yang berpatroli atau memantau tempat itu. Pulau Rambut merupakan tempat burung-burung di Kepulauan Seribu sekaligus rumah berbagai jenis ular dan reptil lainnya. Memang, ketika kulihat pulau itu, banyak burung beterbangan dan mencari makan di tengah laut. Dan mungkin kelak, pulau itu akan kukunjungi.
Mengarungi Laut Lepas Lagi
Beranjak dari Pulau Untung Jawa, kapal motor pun melaju lagi menerjang ombak menuju jauh ke utara. Pulau Untung Jawa mulai samar tak terlihat. Pulau-pulau lain juga samar terlihat di belakang. Di depan belum terlihat ada pulau. Hatiku ciut juga di tengah lautan lepas ini.
Kira-kira masih 2 jam lagi untuk sampai ke Pulau Pramuka, begitu kata nahkoda ketika kutanya. Kapal-kapal motor mulai jarang terlihat. Hanya satu dua perahu nelayan terlihat di kejauhan. Sempat pula berpapasan dengan sebuah kapal kilang minyak yang cukup besar. Melewati belakang kapal tersebut, kulihat nahkoda melakukkan manuver untuk mengendalikan kapal motor karena gelombang dan arus di belakang kapal kilang minyak terbentuk akibat haluannya yang cukup lebar. Mengerikan juga melihatnya.
Tiba di Pulau Pramuka
Itu Pulau Pramuka. Tunjuk nahkoda kepadaku pada samar-samar pulau jauh di depan. Terlihat dua tower tegak berdiri. (BTS Telkomsel dan XL. Operator lain mana nih?).
Mendekati Pulau Pramuka, terlewati juga sebuah pulau kecil. Namanya Pulau Air. Kata nahkoda, pulau tersebut merupakan pulau pribadi seorang pejabat tinggi masa orde baru. Terlihat di pinggir pantainya sebuah bangunan yang menyerupai vila.
Mesin kapal mulai berhenti pelan-pelan. Kapal pun merapat. Aku pun melompat ke tepian dermaga tempat kapal menepi setelah mengucapkan terima kasih pada nahkoda.
Pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, cukup menngesankan. Pantainya terlihat bersih. Airnya jernih kebiruan. Sepertinya memang dijaga untuk kegiatan berwisata. Kalu berenang di sini, sepertinya nyaman juga.
Beranjak menuju ke dalam, terbentang pintu gerbang dengan bertuliskan "Selamat Datang di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu". Tepat di depan dermaga, ada sebuah rumah Sakit Umum Kepulauan Seribu dan sebuah masjid yang cukup besar. Angin berdesir menyejukkan suasana yang panas.
Survey Mencari Tempat Bermalam
Di samping rumah sakit, ada sebuah tempat penyewaan jasa snorkling. Di depannya juga tertulis Pusat Informasi Pulau Pramuka. Aku masuk ke sana dan bertanya mengenai informasi seputar Pulau Pramuka.
Kata penjaganya, ada beberapa vila sebagai tempat bermalam dengan harga sekitar tiga ratus ribuan. Alamak, mahalnya, gumamku dalam hati. Aku juga bertanya-tanya mengenai kegiatan snorkling dan diving di tempat ini. Sepertinya cukup terjangkau untuk kegiatan sekelas itu. Dari 35.000 sampai 500.000, untuk peralatan dasar sampai yang komplit untuk diving.
Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun melihat-lihat vila yang dimaksud. Vila-vila tersebut memang tempatnya cukup nyaman dan indah. Di depan pantai, dinaungi beberapa pohon mangrove. Tapi sayang, kami hanya berdua. Sepertinya begitu berlebihan jika aku menyewa vila tersebut.
Kemudian aku survey lebih ke dalam lagi. Kudapatkan sebuah rumah penduduk yang bisa kusewa. Harganya bisa kutawar. Cukup murah dibandingkan harga-harga vila dan jumlah orangnya tidak dibatasi. Tempatnya bersih dan nyaman walaupun pemandangan di sekitar vila kalah dengan vila-vila sebelumnya yang kulihat. Tapi tak mengapa, toh aku akan lebih menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di pulau ini daripada menghabiskan waktu di rumah tempat bermalam.
Senja di Pulau Pramuka
Setelah istirahat sejenak di rumah yang kami sewa, kami pun jalan-jalan di sepanjang pantai. Airnya jernih dengan pasirnya yang putih. Karang yang ada sepertinya sedikit. Mungkin lebih ke dalam terumbu karangnya banyak dan indah.
Terlihat beberapa penduduk di sepanjang pantai yang sedang membibitkan pohon mangrove. Akan ditanam di pantai pulau pramuka, kata mereka ketika kutanya. Dan memang di sepanjang pantai, terutama di pantai timur Pulau Pramuka, terlihat pohon-pohon mangrove yang baru ditanam.
Ibu-ibu dan beberapa anak kecil terlihat berkeliling pulau dengan mengendarai odong-odong, sejenis kendaraan sepeda motor dengan gerobak tarik. Kata seorang penduduk, memang begitulah rutinitas sore penduduk di Pulau Pramuka. Sungguh aneh menurutku, mengelilingi pulau setiap sore. Padahal kalau jalan kaki, mengelilingi pulau ini tidak sampai satu jam.
Seperti halnya daerah pantai pada umumnya, hal menarik yang kita temui di Pulau Pramuka tentu saja adalah suasana matahari terbenam. Langit yang memerah dengan bayang-bayang matahari di laut memang sungguh indah. Buat yang hobi fotografi, tentu tak akan bosan mengekpresikan imajinasinya mengambil momen-momen seperti itu.
Ketika Malam Menjelang
Setelah makan malam di sebuah warung, kami jalan-jalan lagi. Suasana tidak begitu ramai. Bisa dibilang sepi. Mungkin karena sebagian besar warga sedang sholat tarawih di masjid Pulau Pramuka ini. Di beberapa tempat, anak-anak kecil terlihat sedang bermain kembang api dan petasan, khas suasana bulan ramadhan.
Di dermaga, hanya ada beberapa kapal motor dan juga ojek kapal sedang parkir. Beberapa orang juga terlihat sedang memancing. Di beberapa sudut kejauhan, satu dua pasang muda-mudi tampak sedang berduaan.
Di dermaga ini, aku sempat ngobrol dengan ketua rw salah satu pulau pramuka. Dia bercerita cukup banyak mengenai pulau ini. Dan sempat menginterogasiku, dari bertanya ada perlu apa sampai pertanyaan apakah kami membawa barang-barang terlarang seperti tembakau aceh misalnya. Sialan.
Tak begitu lama aku ngobrol dengan ketua rw tersebut. Ia akan berangkat ke Pulau Kelapa untuk ikut mengantar seorang warga yang akan melahirkan dan akan dibawa ke Jakarta malam itu.
Malam makin larut, aku masih duduk di tepian dermaga. Menikmati suasana malam dengan deburan kecil ombak di sepanjang pantai. Di seberang, lampu-lampu perumahan di Pulau Panggang dan sebuah keramba ikan terlihat kerlap-kerlip.
Dan aku pun beranjak ketika mata mulai mengantuk.
Hari Berikutnya
Aku bangun kesiangan. Rencana untuk snorkling pagi itu pun batal. Selain duit yang mulai menipis, aku juga enggan berenang di pantai yang sangat panas. Di pulau ini tidak ada ATM, jadinya duit benar-benar dikeluarkan sesuai perencanaan. Nggak bisa sembarangan menghamburkan duit jika yang dibawa dari Jakarta pas-pasan.
Di bagian timur pulau ini, kami singgah di sebuah rumah tempat penyelamatan penyu. Ada banyak penyu berbagai ukuran di tempat itu. Juga bibit-bibit pepohonan yang berjajar rapi, terutama bibit mangrove.
Seorang bapak-bapak terlihat sedang menyiram bibit-bibit pohon. Sekilas, kulihat wajahnya dengan sebuah foto peraih penghargaan kalpataru di dinding tembok, sama. Seperti dia Pak Salim, seperti yang tertulis pada piagam penghargaan itu.
Aku mendekatinya, dan mulai membuka obrolan. Awal yang mengagetkan, begitu gumamku dalam hati ketika ia menyambutku dengan tidak ramah. Sepertinya ia tidak begitu suka dengan wisatawan. Aku pun membiarkan dia berbicara panjang lebar padaku tentang beberapa orang yang tidak mengerti tentang penyelamatan penyu dan penanaman mangrove. Juga tentang orang-orang yang mengaku dari LSM atau peneliti yang pernah datang ke tempat ke tempat itu. Sedangkan Ufo melihatku dari kejauhan, bingung melihatku seperti dimarahi oleh Pak Salim.
Aku mulai memperkenalkan diri ketika ia terlihat mulai tenang dan menjadi ramah, serta senang dengan apa yang diceritakannya. Ia pun bercerita panjang lebar lagi. Tentang usahanya yang lebih dari lima tahun untuk menggerakkan penduduk untuk melakukan penanaman mangrove di sepanjang pantai. Tentang penyelamatan penyu-penyu di kepulauan Seribu. Sampai kerja samanya dengan Taman Nasional. Dan tentang kesadaran kita akan pentingnya penyelamatan lingkungan.
Pak Salim mulai senang menjelaskan tentang pembibitan yang dilakukannya ketika aku banyak bertanya mengenai masalah tersebut. Diajaknya aku berkeliling di sekitar rumah tempat pembibitannya itu. Ditunjukkannya aku bibit-bibit yang seharusnya harganya tidak mahal. Beberapa bibit lavender, butun, dan yang lain tampak di sela-sela bibit mangrove. Bagaimana caranya membibitkan yang baik. Katanya, dia akan sangat bangga jika ada orang yang mau mengembangkan bibit-bibit tersebut. Cukup dengan menanamnya dan membiarkan dia hidup.
Menjelang tengah hari, aku pun pamit kepadanya. Dibekali dua biji butun untuk kubawa pulang. Nati kamu tanam itu di kampusmu di Bandung. Atau di kosanmu di Jakarta. Kalau bisa dikembangkan. Begitu dia berpesan kepadaku.
Kembali Pulang
Menjelang pukul satu siang, kami mulai berkemas. Mengembalikan kunci rumah dan berpamitan kepada pemiliknya. Di dermaga, kapal motor yang menuju Muara Angke baru saja tiba. Kira-kira menunggu lima belas menit, kapal pun berangkat. Meninggalkan Pulau Pramuka yang hanya sekejap aku kunjungi. Tapi cukup memeberikan banyak cerita dan pengalaman dalam hidupku. Dengan tempat dan orang-orang baru yang kutemui.
Jakarta, September 2007
Surat dari Bengkulu
September 19th, 2007 by gejor Rabu, 13 September 2007, aku naik angkot pulang dari Kampung Bali (lokasi aktivitas utamaku selama ini). Di angkot perbincangan hangat masih sekitar Pilkada Walikota dan Wakil Kodya Bengkulu yang berlangsung kemarin, Selasa, 12 september 2007.
Isunya masih sekitar kemenangan sementara calon Ahmad Kenedi/Edison Simbolon, yang bersaing ketat dengan pasangan Chalik Efendi/Arifin Daud. Kondisi sedikit menghangat karena Chalik dan Kenedy adalah pasangan yang kini sedang berstatus sebagai Walikota dan Wakil yang sedang non aktif. Disinyalir (menurut versi umum), kemenangan Kenedy akan berbuntut dengan menyeret Chalik ke meja hijau atas kasus yang didugakan kepadanya selama ini.
…
Pukul 17.00 WIB, bibi menyuruhku menangkap ayam piaraan kami untuk lauk sahur nanti. "Tangkaplah sore ini saja, biar bisa dikerjakan nanti petang." katanya.
Aku perhatikan ayam jago yang akan kutangkap belum pulang. "Memang ayam jago ini agak bandel, sering gak pulang. Lebih baik disembelih saja." katanya pada Paman, tentang ayam yang akan kutangkap.
Pukul 18.00 WIB, kulihat ayam yang kuincar sudah mulai berjalan pulang, kugiring ia supaya masuk ke kandang dan mudah ditangkap. Ayam yang lain sudah duluan masuk.
Tiba-tiba aku lihat di beranda bibiku lari ke dalam, kalau tidak salah dengar Pamanku berteriak "Ada gempa….!!!"
Rumah di komplekku ada tiga buah saja, satu baru dibuat tapi belum dihuni sama orangnya. Tiga keluarga dengan anak-anak masih kecil, seumuran SD.
Aku belum begitu merasakan goncangan gempa.
Lalu bumi mulai bergoyang halus, lama kelamaan agak keras dan kasar getarannya. Aku melihat rumah di hadapanku juga ikut bergetar hebat. Maka mulai terasa goncangan dahsyat itu.
Tiga keluarga berlarian keluar beserta anak-anaknya masing-masing. Pamanku mendekap adikku yang terkecil, sedang bibi mendekap adikku yang tertua. Mereka bertiarap di atas tanah lapang yang kebetulan cukup luas di depan rumah kami. Aku dan abangku saja yang masih berdiri.
Satu menit, berlalu goncangan masih mengeras dan menghebat. Sayup-sayup ada mulut yang melafalkan "Allahu Akbar…!!!", seperti kompak. Mulut-mulut yang lainnya pun secara spontan menucapkan kata yang sama. Aku merinding.
Anak-anak mulai menangis di sela suara orang tua mereka yang berusaha menenangkan walau mereka sendiri kulihat sangat tidak tenang.
Aku masih berdiri, sama seperti abangku. Kulihat abangku agak cukup tenang.
Lima menit berlalu, goncangan masih terasa keras. Aku berpikir, "Inikah akhir dari semua ini? Kiamat……!!!" Tapi kutepis jauh-jauh. Mau kiamat atau tidak yang penting kita harus berusaha untuk selamat.
Tempat kami saat ini adalah tempat teraman. Rumah-rumah di sekeliling kami bergoyang sangat kentara, ada suara barang-barang berjatuhan dan mungkin pecah. Mobil yang diparkir di depan juga ikut bergerak sendiri.
Kakiku mulai gemetar, agak kaku karena menahan posisi tubuh agar tidak jatuh. Hampir sepuluh menit, goncangan sudah mulai melemah, tapi tetap dengan ayunan yang halus dan tidak biasa. Aku seperti berdiri di atas perahu besar, sangat besar dan bergoyang dengan halus di atas permukaan air. Sungguh terasa demikian.
Listrik semua padam. Aku mendengar isakan tangis ketakutan dari beberapa orang di sekitarku. Mungkin juga aku sudah juga begitu.
"Coba telepon ibu di kampung!", aku menjagakan abangku yang masih trauma dengan kejadian barusan. Yang lain seperti tersadar dan mencoba menelpon, tapi semuanya gagal.
Aku berinisiatif masuk rumah, mungkin mau sholat magrib dulu. Dengan penerangan seadanya, kutunaikan ibadah (mungkin untuk yang terbaik selama ini) ini seadanya juga. Tiba-tiba hpku bergetar tanda ada pesan masuk.
Pengirim : Gejor. "Jim, lagi di mana? Bengkulu gempa. Lu masih aman kan ne?"
Ah Gejrot, pikirku. Saudaraku, Astacala…
Segera kubalas. "Aku aman saja, kami semua aman. Tolong kabari infonya, kami hilang kontak, listrik mati."
Lalu ada jawaban "Info sementara gempa berkekuatan 7.9 SR telah terjadi. Berpusat di Bengkulu. Berpotensi tsunami. Lu ati-ati aja. Dapat dari Detik."
Masya Allah, berarti barusan sudah terjadi gempa terkuat yang pernah kualami. 7,9 SR. Segera kami berembuk. Malam ini kami tidak ada yang tidur di rumah, buat bivak di halaman.
Aku kemudian ditugaskan membeli lampu senter ke depan. Kuhidupkan motor dan memasuki jalanan utama Kota Bengkulu. Jalanan hampir macet. Sirine peringatan tsunami sudah meraung-raung menambah suasana menjadi tegang. Di persimpangan banyak polisi menjaga kondisi agar tertib.
Aku akhirnya mendapatkan lampu senter. Dari penjaga toko (yang satu-satunya masih buka) aku mendapat kabar, bahwa telah terjadi eksodus besar-besaran dari warga di pinggir pantai.
"Ini menuju ke arah Panti…."
Panti, pekikku. Itu adalah lokasi rumah kami. Berarti mereka ini semua akan menuju ke sana. Segera kuputar Honda Win-ku pulang. Ternyata, lokasi rumah kami adalah lokasi yang telah direkomendasikan untuk tempat evakuasi.
Malam ini begitu menegangkan. Tapi aku sedikit terhibur dengan adanya telepon dan sms dari orang-orang terdekatku, orang yang kucintai. Mereka semua memberikan pompaan semangat yang tidak bisa kubayangkan dalam tulisan secuil ini.
Malam kami lewatkan dengan suasana tegang, tidur tidak bisa sama sekali. Sebab gempa susulan masih sering terjadi.
Lewat tengah malam, akhirnya listrik kembali hidup. Seperti juga menimbulkan kelegaan tiada tara kepada kami semua. Sebentar lagi kami akan makan sahur, dari ayam yang kutangkap tadi.
"He… He… He… Masih mendingan makan ayam yang dimasak tergesa-gesa seperti ini daripada digoyang gempa…." seloroh pamanku yang juga memaksa kami untuk juga tersenyum.
…
Kamis, 1 Ramadhan / 14 September 2007, pagi menjelang siang ini aku mendapatkan info tambahan baru dari kawan-kawan di Jakarta. Semuanya memberitakan, membantu keterbatasan kami dalam mengakses informasi yang putus karena listrik mati.
Aku mengendarai motor berkeliling kota. Situasai sudah seperti biasa. Di Jalan Natadirja ada beberapa bangunan yang rusak berat, Masjid Babusalam, dealer Yamaha, dan beberapa ruko yang baru dibangun terlihat retak-retak hebat. Kantor Dinas Pariwisata juga terlihat atap genteng dan beberapa dinding keramiknya pecah dan berjatuhan.
Membelok ke arah kiri, di Jalan Pembangunan. Gedung Bulog rusak berat, Gedung Pajak retak-retak. Di depan, masjid terbesar di Bengkulu, kubahnya juga terlihat retak. Lurus saja aku memasuki perkantoran Gubernur. Ada beberapa tenda dari Departemen Sosial sudah berdiri, ada beberapa pengungsi yang meninggalinya. AKu juga berpapasan dengan beberapa rekan wartawan dari berbagai media, cetak dan elektronik, juga tv.
Kuteruskan perjalanku hingga mencapai warnet ini, dan kutulis kisah ini segenap kemampuan dan keterbatasanku mengingat.
Aku belum sempat ke arah pantai.
Sekian dulu.
…
Salam duka dari Bengkulu.
Jimbo.
Taken from Jimmi Piter - Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu, September 2007