Archive for August, 2005

Tunjukkan Jalan Itu Padaku

Thursday, August 25th, 2005

                Saat melihat jalan itu. Darahku berpacu. Misteri itu menunggu. Adrenalin berontak kuat. Tak ingin hidup tenang. Aman duduk berleha di dalam rumah. Dan misteri itu selalu menunggu. Ketakutannya membayangi. Tapi segala keingintahuan tak ingin dilepaskan dan dikalahkan. Salahkah itu?
                Sombong? Mungkin.
                Sok? Mungkin juga.
                Tak hanya itu. Di dalam dunia ini. Semuanya. Di alam semesta ini. Masih indahkah hidup itu jika semua yang kau mau dan yang menjadi mimpi itu sudah kau punya ? Kenapa ?
                Hidupku dan hidupmu. Yang mungkin identik. Atau mungkin ada perbedaan. Mungkin kecil. Atau mungkin cukup lebar. Dari kecil hidup dalam belaian orang tua. Bersekolah. Belajar yang rajin. Jadi juara. Jadi anak yang soleh. Taat. Kuliah. IP melangit. Kemudian lulus. Wisuda. Dengan predikat cum laude. Lalu bekerja. Di perusahaan ternama. Gajinya berjuta. Nikah. Kawin. Punya anak. Jadi tua. Duduk di kursi roda. Dan kemudian menunggu ajal.
                Siklus hidup yang indah. Begitu katanya.
                Tak adakah yang lain?
                Katanya hidup itu penuh teka-teki. Teki-teki silang. Berbagai persoalan menghiasinya. Kotak-kotak jawabannya yang selalu menanti. Banyak yang benar dari jawaban untuk setiap persoalan. Tak selalu benar yang dibutuhkan. Tapi tepat itu pasti. Untuk bisa mendukung berbagai persoalan pada kotak-kotak yang lain. Dan disebutnya itu kebijaksanaan. Identik dengan hidup di dunia.
                Katanya hidup itu penuh dengan mimpi. Yang menjadikan setiap kita punya harapan. Entah untuk apa. Dan setiap mimpi dan harapan akan penuh dengan hal-hal yang mengejutkan. Setiap langkah yang dilakukan. Akan membawa setiap kita pada kematangan, kemandirian, dan proses untuk menuju akhir. Dan, yang pasti bukan berkutat pada akhir. Tapi proses untuk akhir itu. Maka tetaplah bermimpi. Karena semua itu suatu saat akan menjadi kenyataan.
                Saat melihat jalan itu. Ketika hidup ada pada batasnya. Dekat dengan surga. Mungkin juga neraka. Ketika luka masih dibawa. Ketika dosa-dosa tersenyum menyapa. Ketika banyak keinginan yang belum tercipta. Ketika beribu mimpi belum memberi arti. Sejuta tanya menghadang untuk dijawab. Dalam waktunya yang sempit.
                Ketika hidup ada di ujung ajal. Ingatkan pada ibu yang selalu menyayangiku. Yang tak sanggup aku melihatnya menangis. Pada bapakku yang selalu ingin membuatku bahagia. Masih bisakah untuk mengucapkan maaf dan terima kasih atas segala tindak dan segala ulah? Masih punya waktukah aku untuk menangis di pangkuannya?
                Ketika dingin. Cahaya putih yang indah menunggu. Ingatkan pada gadis impian. Yang menanti dengan cemas dan harap. Yang kalau ia mau, dengan wajahnya yang manis tentu tak sulit mendapatkan pengganti. Pada semua teman dan malaikat yang ada di putaran jalanku. Yang selalu bermain dengan waktuku. Masih bisakah aku memberikan sesuatu yang pernah kujanjikan? Masih sempatkah aku mengembalikan milikmu yang pernah kaupinjamkan?
                Ketika dingin. Sunyi. Menderu kalbu menjadi hawa panas. Aku menggeliat. Ingin melupakan ketersesatan itu. Aku menggeliat lagi. Di mana jalan itu? Tunjukkan padaku!
                Ternyata mimpi.  Aku terbangun. Mendapatkan diriku terdampar di sebuah tempat.  Di sebuah sudut bumi ini. Di malam ini. Tak ada yang peduli. Sendiri. Sunyi. Sepi. Dengan ribuan problema yang menari-nari. Menghimpit menusuk hati.
                Aku menggeliat lagi. Dan tak ada yang peduli. Aku bermimpi di tempat ini. Tercipta dari ingin dan segala harapan. Tersesatkah aku ?

Bandung, Agustus 2005

Save the World (Satu Langkah Kecil)

Tuesday, August 23rd, 2005

                ketika pohon terakhir telah ditebang

                dan air terakhir telah diminum
                saat itu kita sadar
                bahwa uang tak dapat dimakan

                Petikan kata itu aku baca pada sebuah papan yang dipasang oleh polisi hutan di suatu gunung yang pernah kudaki. Sederhana memang. Tapi mempunyai arti yang dalam kalau dipikirkan lebih jauh lagi. Atau mungkin hanya sekedar tulisan tak berarti jika kita tak mau ambil pusing. Tapi aku diajarkan untuk membuat semua yang aku miliki dan yang aku alami memiliki arti. Walaupun kecil, semoga selalu memiliki arti.
                Ketika aku SD dan SMP, aku mengikuti yang namanya Pramuka. Waktu SMA, aku ikut yang namanya Sispala. Waktu kuliah, aku juga ikut yang namanya Mapala. Organisasi yang mengatakan bahwa dirinya adalah sebagai penggiat alam terbuka, petualang, pembela dan aktivis lingkungan.
                Tapi, entah kenapa. Makin banyak aktivis dan pembela lingkungan makin banyak lingkungan yang menangis. Makin banyak aku berkegiatan alam terbuka, makin banyak aku berpetualang, makin banyak aku berkunjung ke suatu tempat, makin banyak aku tahu bahwa tempatku di bumi ini makin menyedihkan.
                Penebangan hutan, pencemaran air, udara, sampah, krisis energi. Dan entah apalagi.
                Hutanku makin sempit. Sungaiku makin kotor. Udaraku makin pengab. Makin panas. Dan jiwaku makin merana melihat semua itu. Aku kecewa.
                Mungkinkah aku bisa bermain-main lagi di gunung, di hutan, di sungai, di tebing, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi.
                Atau, jika aku masih diberi kesempatan, untuk memiliki anak, cucu, cicit, dan penerus-penerusku nanti dari orang yang aku cintai, masihkah mereka bisa untuk melihat bahwa bumi ini masih indah. Hutannya masih lebat dengan berbagai tumbuhan menghijau dan beraneka satwa di dalamnya. Sungainya masih mengalir jernih tanpa limbah yang membuat hati enggan dan tanpa banjir di musim penghujan. Tebingnya masih bisa dijamah tanpa ada gangguan mesin-mesin baja yang mengambil batunya atau gedung-gedung pencakar langit yang di kemudian hari akan menggantikannya.
                Sering aku berpikir dan kecewa. Melihat banyaknya manusia-manusia bersifat kapitalis berlebihan. Hidup, belajar, dan bekerja tidak lagi untuk keuntungan yang bersifat moral dan cinta kasih antar sesama dan lingkungan tempatnya hidup. Tidak lagi untuk keuntungan yang memberikan tempat bagi manusia untuk hidup berdampingan dan untuk bisa menikmati semua isi dunia dengan cukup. Tidak berlebihan.
                Sekarang, di masa ini, dan entah nanti, kapitalisme yang berlebihan banyak kutemui. Hidup, belajar, dan bekerja hanya untuk keuntungan ekonomi belaka. Prinsip dengan waktu yang sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Tak ayal lagi, semua isi bumi dikuras habis tanpa memperhitungkan kesanggupannya untuk menyediakan gantinya lagi. Tanpa memperhitungkan rezeki penerus di masa nanti. Semua isi bumi digali. Dibabat habis. Dijual. Uangnya ditumpuk berjuta-juta, bermilyar-milyar. Yang sebenarnya semua itu kalau dikelola dengan bijak adalah cukup.
                “Lebih baik memiliki sedikit dan cukup tapi berarti, daripada memiliki banyak tapi tak ada arti.” Andai semua orang mengerti. Kalau cukup dan berarti itu indah. Walaupun aku tak memungkiri kalau aku sering tergoda untuk memiliki banyak dan lebih.
                Sebenarnya, aku, kamu, atau kalian bisa untuk tetap menjaga bumi ini. Satu tindakan kecil aja. Sekali lagi, “satu tindakan kecil”. Nggak usahlah terlalu jauh-jauh memikirkan hutan, sungai, atau tebing yang tidak setiap hari akan kita temui sebagai manusia yang hidup dalam gemerlap peradaban kota. Atau memikirkan orang-orang yang berkutat dengan eksplorasi demi uang belaka.
                Satu tindakan kecil aja. Setidaknya satu tindakan untuk dirimu sendiri. Atau satu lingkup kecil di sekitarmu. Apa aja. Tidak konsumtif kek. Buang sampah pada tempatnya kek. Tanam pohon kek. Atau kek kek lainnya yang bisa menjaga kelestarian bumi ini.
                Satu contoh misalnya. “Buanglah sampah pada tempatnya”.
                Mungkin tulisan itu “basi”. Atau mungkin akan ada yang ketawa membacanya. Acuh tak acuh. Peduli amat.
                Aku tahu, walaupun aku membuang sampah pada tempatnya, hal itu tidak akan mengurangi jumlah sampah yang merajalela. Tapi,  kalau aku berpikir, setidaknya hal itu bisa untuk tidak menambah jumlah sampah yang ada. Atau, minimal lingkungan sekitar kita enak buat dilihat karena sampah-sampah sudah diletakkan pada tempat yang benar.
                Dan… sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi ini. Satu langkah kecil aja. Satu langkah yang bisa kau mulai dari dirimu sendiri.
                Bayangkan kalau semua orang melakukan suatu langkah kecil untuk tidak membuang sampah sembarangan. Melakukan langkah kecil untuk menanam pohon. Melakukan suatu langkah kecil yang berguna. Melakukan langkah-langkah kecil untuk tidak ikut menambah kerusakan di bumi ini. Dan semua langkah itu disatukan. Mungkin bumi ini akan tetap indah sampai waktunya kelak ia memang harus menutup mata.
                Semoga hutanku masih tetap menghijau, airku terus mengalir, udaraku selalu meneduhkan, dan bumiku masih menghidupkan.
                Semoga…

Bandung, Agustus 2005

Larung

Tuesday, August 9th, 2005

            Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang bintang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tari telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para prajurit dengan pinggul mereka agar percaya pada komunisme, bukan pada segala Tuhan. Sembari bernyanyi genjer-genjer. Tetapi aku tahu ibumu dan istri Nyoman Pintar kerap berada di bangsal dan mengajari sesama istri tentara membikin ketupat dan janur dari daun nyiur. Mereka semua pendatang. Dan daun genjer hanyalah sayuran yang membuat tinjamu lengket panjang.

            Larung adalah kelanjutan Saman, novel karya Ayu Utami. Pada awalnya, dua novel ini direncanakan sebagai sebuah buku berjudul Laila Tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan, beberapa sub plot berkembang melampaui rencana. Kini Saman dan Larung merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri.
            Ayu Utami. 2001. Larung. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.

Bandung, Oktober 2004

Saman

Tuesday, August 9th, 2005

                 Ia bersimpuh tanpa membantah, sampai kedua ujung dadanya menyentuh kedua ibu jari kaki sang lelaki. Disekanya telapak itu dengan rambutnya. Kemudian ia tengadah, dengan setitik air di mata kirinya, setitik darah di mata kanannya. Lalu perlahan ia merambat ke atas, sepanjang tungkai lelaki tadi. Wajahnya berhenti di pangkalnya yang rimbun seperti pepohonan. Ia merintih “Kasihanilah, aku cuma haus. Buah yang ini bukan terlarang, kan?”.

                Saman mampu menangkap carut-marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Suatu zaman yang hiruk pikuk dengan peristiwa maupun lalu lintas informasi kultural, sehingga sering sukar untuk dipahami. Ada daya magnet yang membuat pembaca tidak ingin melepaskannya.
                Saman adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami yang akan berjudul Laila Tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan, beberapa sub plot berkembang melampaui rencana. Tahun 2001, lanjutannya terbit sebagai novel terpisah berjudul Larung. Kini Saman dan Larung merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri.
                Ayu Utami. 2001. Saman. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.

Bandung, Oktober 2004

Ketika Tiba di Bandung

Tuesday, August 9th, 2005

                Pagi menjelang siang. Cahaya mentari bersinar cukup terik. Lalu-lalang kendaraan tampak makin ramai. Gejor melangkahkan kakinya turun dari bus. Ia tiba di Bandung kembali setelah liburan sebulan lebih ke Bali.
                “Hai, Jor. Kamu ada yang jemput?” tanya seorang cewek yang sempat dikenalnya di dalam bus.
                “Oh, nggak. Kenapa?”
                “Eh, nggak sih. Aku dijemput ama tanteku. Mau ikut?” tawarnya sambil menunjuk seorang perempuan setengah baya.
                Gejor menoleh.
“Makasih. Aku ntar naik angkot aja. Toh cuman bawa barang segini.” jawab Gejor sambil menunjuk ransel dan tas kecil yang dicangklongkan di bahunya.
                 “Ehm, iya deh. Kalo begitu, aku duluan ya.” ujarnya sambil tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Gejor.
                Gejor menggangguk sambil memandang cewek itu yang kemudian masuk ke sebuah civic berwarna biru tua tak jauh darinya.
                Gejor pun kemudian duduk di pinggir jalan sendiri sambil menunggu angkot. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. Heran, kok nggak ada angkot kosong yang lewat sih, batin Gejor ngeliat angkot-angkot yang lewat, semuanya bejubel penumpang.
                Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, ia pun akhirnya naik angkot. Lumayan, cuman ada satu penumpang dalam angkot itu yang nantinya turun beberapa meter dari tempat Gejor naik. Di sebuah perempatan jalan, kemacetan sudah mulai terlihat. Uuhhh….!!! Gejor mendesah pelan. Bau khas Bandung sudah dihirupnya lagi. Bau macet, bau pengamen, bau pengemis, serta  bau-bau lain yang menjengkelkan tapi lumayan menyenangkan dan mengasyikkan. Nah lho?
                Di depannya  kini  sudah berdiri seorang  pengamen muda  yang mengalunkan lagu I Miss U But I Hate U milik Slank. Gejor manggut-manggut mengikuti irama lagu itu sambil cuek bebek ama itu pengamen walaupun lagu yang dinyanyikannya sangat dinikmati. Ya terang aja, udah tau di dalam angkot cuma ada dua orang penumpang, Gejor dan sopir angkotnya doang. Itu pengamen masih aja ngamen. Ya udah, yang pasti, pengamen itu kemudian hanya gigit jari setelah selesai nyanyi cuman diberi senyum manis dan ucapan terima kasih oleh Gejor.

Bandung, November 2002

Sebuah Kisah Klasik (Part 3 : Berpetualang)

Tuesday, August 9th, 2005

            Suatu siang yang cukup terik, Gejor bengong memandangi Doglo dan Pituh yang asyik main catur di depan wartel Undariver.
            “Skak MAT!” ujar pituh penuh kemenangan dan senyum mengejek pada Doglo.
            “Huh, kalah lagi. Kalah lagi.” Doglo kesal kemudian membubarkan papan catur.
            Tiba-tiba Gejor berseru pada keduanya.
            “Oi…, kita jalan-jalan yuk. Berpetualang.” ajak Gejor.
            “Berpetualang?” Doglo dan Pituh tampak mikir. Kayak Albert Einstein yang lagi mikir rumus Fisika. Sok banget.
            “OK. Siapa takut” jawab mereka sambil menirukan iklan shampoo.
            Maka, singkat cerita, berangkatlah mereka untuk jalan-jalan lagi. Kali ini dengan misi berpetualang. Gejor naik motor sendiri. Doglo dan Pituh berdua berboncengan mengikuti Gejor.
            Mereka melaju motornya menuju kawasan timur Kabupaten Klungkung. Namanya daerah Dawan. Cukup banyak bukit-bukit yang malang melintang di kawasan itu serta hutan-hutan yang cukup lebat di dalamnya.
            Gejor memacu motornya melaju ke arah utara. Naik turun bukit. Keluar masuk jalan-jalan kecil dan menyusuri hutan-hutan milik penduduk. Dan bahkan jalan yang tidak mereka ketahui sama sekali pun  mereka masuki. Bahkan sampai mentok di depan jurang segala. Doglo dan Pituh kelihatan senang juga keliling-keliling di hutan perbukitan yang cukup luas itu. Katanya, mereka senang karena bisa ketemu ama saudara-saudara mereka yang sering mereka temui bergelayutan dari satu pohon ke pohon lain.
            Di antara mereka bertiga, Gejor yang paling nekat. Disinari teriknya matahari dan debu-debu jalanan ia masih tetap melaju motornya. Sedangkan Doglo dan Pituh sudah terlihat capek mengikutinya. Bahkan mereka mengancam akan meninggalkan Gejor yang nggak mau balik.
           “Kalo kalian mo pulang, pulang duluan deh” ujar Gejor sambil menikmati suasana perbukitan.
            Tapi walaupun udah disuruh pulang duluan, Doglo dan Pituh masih saja mengikuti Gejor. Ternyata mereka khawatir ninggalin Gejor di sana sendirian.
            Karena saking lamanya mereka keliling di tempat itu, akhirnya mereka sampai di wilayah menara di salah satu puncak bukit daerah itu.  Suasananya sejuk. Sepi. Mereka istirahat di sana.
            Gejor duduk bersandar pada sebuah batu sambil melihat pemandangan perbukitan di kanan kiri serta laut biru di kejauhan.
            Sementara Doglo dan Pituh berbaring di atas rumput sambil bercanda.
            “Eh, Glo buah apaan tuh di sana?’ tanya Pituh sambil menunjuk sebuah pohon yang sedang berbuah lebat.
            Mereka beranjak mendekati pohon itu.
            “Oh, ini namanya jambu mete” jawab Doglo sok tau.
            “Ah, sok tau kamu Glo. Ini kan jambu monyet. Liat aja, jambunya mirip kamu!” sambung Pituh lebih sok tau lagi.
            “Mau jambu monyet kek, jambu kera kek, yang penting sekarang aku lapar” ucap Doglo kemudian naik pohon itu, memetik buahnya, lalu memakannya.
            “Enak nggak Glo?” tanya Pituh.
            “Kalo nggak enak, pasti udah nggak aku makan.” jawab Doglo.
            Pituh pun ikut naik. Memetik buahnya dan memakannya juga. Tapi sebelumnya Pituh mengicip-icip dulu buah itu. Setelah tau rasanya enak, baru kemudian ia memakannya.
            Setelah beberapa menit, keduanya sepah-sepeh sambil memegangi perutnya.
            “Aduh Glo, katanya buah itu bisa dimakan. Kok perutku sakit?” rintih Pituh sambil memegangi perutnya.
            “Iya nih. Nggak tau. Perutku juga sakit.” jawab Doglo.
            Gejor yang melihat kedua sobatnya merintih buru-buru mendekatinya.
            “Kenapa kalian?’
            “Ini nih Jor. Gara-gara Si Doglo bilang kalo buah itu bisa dimakan, perutku jadi sakit” ujar Pituh sambil menunjuk sisa-sisa buah yang mereka makan.
            “Waduh, Tuh, Glo. Jangan-jangan kalian makan buah beracun” Gejor menakut-nakuti keduanya.
            “Ah, masa sih?’ tanya Doglo nggak percaya.
            “Iya Glo. Mungkin kalian berdua bisa mati.” sambung Gejor tambah menakut-nakuti.
            “Hah. Ja… jangan begitu dong Jor” Pituh ketakutan.
            “Makanya, kalo belum tau buah itu bisa dimakan atau nggak, jangan dimakan dulu dong. Salah sendiri.” ujar Gejor.
            Tapi Gejor khawatir juga melihat Doglo dan Pituh masih slekak-slekek.
            “Nih Glo, Tuh. Minum dulu gih” Gejor berkata sambil memberikan botol minum yang ia bawa di ransel kecilnya.
            Glek glek glek aaah. Doglo dan Pituh meminumnya bergantian. Sampai airnya habis.
            “Gimana? Udah baikan?” tanya Gejor.
            “Udah. Tapi masih terasa sakit dikit” jawab Pituh.
            “Aaaah, udah ilang sakitnya” ujar Doglo kemudian menarik nafas panjang dan merentangkan kedua tangannya.
            Botol minum itu pun dikembalikan pada Gejor.
            ”Makasih Jor” kata mereka.
            Gejor yang juga haus mengambil botol itu, melihat isinya, kemudian melemparkannya ke kepala sobat-sobatnya itu begitu tau isinya udah kosong.
            “Dasar brengsek…!!!” Gejor memaki.
            “Ha… ha… ha… Sori Jor. Sengaja.“ Mereka ketawa.
            “Kita pulang aja yuk!” ajak Gejor dengan cemberut.
            “Ayo”
            Maka kembalilah mereka bertiga naik motor untuk pulang. Mereka naik motor menuruni bukit. Mesin motor tidak mereka hidupkan. Mereka terlihat asyik bercanda-canda. Lupa akan sakit perut Doglo dan Pituh akibat buah yang telah mereka makan. Dan lupa juga akan haus Gejor yang tidak disisain minum.
            “Glo, kalo seumpama di tengah jalan begini kita nemu tai kebo, mau nggak kalo dibagi dua?” cetus Pituh tiba-tiba.
            “Enak aja. Ya nggak mau dong!” jawab Doglo dengan segera.
            “Wah, kamu rakus amat. Tai kebo mau dimakan sendiri!”
            Doglo diam. Telmi dia. Sedangkan Pituh dan Gejor tertawa terbahak-bahak. Ha… ha… ha… !!!

Bandung, Februari 2002

Summit Attack Gede Pangrango (Part 2)

Tuesday, August 9th, 2005

            Pukul empat lewat tiga puluh menit. Di pagi yang dingin, berteman butiran-butiran embun, bulan dan bintang yang menampakkan keindahannya di sela-sela kepergian mendung hitam, serta lekukan-lekukan Puncak Gunung Gede dan runcingnya Puncak Pangrango, tenda doome pun dipacking lagi. Bergegas meninggalkan pos jaga itu tanpa ucapan terima kasih kepada sang penjaga pos. Berjalan di jalan setapak di sela-sela ladang penduduk. Mampir di sebuah saung kosong. Sebagian kembali melanjutkan mimpi, dan sebagian lagi membongkar logistik menyiapkan sarapan pagi.
            Selanjutnya, kaki ini pun kemudian melangkah lagi setelah perut yang kosong terisi logistik yang sejak kemarin bercokol terus di punggung serta perut terisi terkuras di cekukan tanah buatan tramontina bersama tisue putih ternoda yang menemaninya.
            Ladang-ladang yang penuh dengan bawang sepertinya tersenyum melihatku datang berjalan menyusuri mereka. Hutan rimba terlihat memanggil-manggil di kejauhan. Kabut-kabut putih di atas sana tak henti-hentinya bermain bersama puncak-puncak gunung sehingga tidak banyak acuan yang bisa kudapatkan untuk orientasi. Tapi di lain pihak, aku kurang suka akan perjalanan ini karena ternyata tidak sedikit manusia yang berjalan searah dan setujuan dengan perjalananku. Apalagi ditambah keributan dan bunyi hiasan leher anjing di tubuh mereka.
            Berjalan dan terus berjalan. Santai dan sering istirahat. Melewati ladang lalu memasuki hutan rimba. Jalan setapak mulus bagaikan jalan tol di dalam hutan untuk seorang yang berbet merah Astacala di lengan bajunya yang hitam, sedikit demi sedikit mulai memaksa nafas ini untuk berpacu. Tetapi sayang, jalan setapak yang kulalui ini masih saja terlihat plastik-plastik kecil berserakan yang sudah pasti asalnya tidak jatuh dari langit dan tentu saja berasal dari pendaki-pendaki sialan yang menamakan dirinya pecinta alam tetapi tidak tahu arti dari kata pecinta alam itu sendiri.
            Pukul dua belas siang. Flysheet dibuka seadanya. Waktunya makan siang ditemani rintiknya hujan di dalam rimba Gunung Gede, rimba yang begitu banyak ada manusia yang ingin mencicipi keindahannya tetapi dengan begitu saja tidak mau menghargai keindahan yang diberikan oleh rimba itu sendiri.
            Dua jam lebih berlalu begitu saja saat makan siang. Nyantai amat. Entah memang karena malas untuk gerak cepat atau lemahnya perintah sang komandan, perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, gelap menghadang dan sisa-sisa gerimis hujan pun menyambut dalam rimba. Lembah Surya Kencana yang menjadi tujuan untuk camp hari itu belum kesampaian. Kepala yang mulai berat, nafas yang tersengal karena bersaing berebut oksigen dengan penghuni hutan yang jumlahnya tidak sedikit, perut lapar yang hanya disogok oleh suapan-suapan biskuit kering.   
            Sedikit demi sedikit kaki yang terus mengayun itu tetap melangkah. Samar-samar mulai tercium bau belerang menyengat. Sudah dekat, begitu batinku. Jalan yang kutempuh mulai mendatar. Keluar dari lebatnya hutan rimba di gelapnya malam, terpampang di depanku samar-samar lembah berupa lapangan luas dengan ribuan edelweis yang menghampar. Angin bertiup kencang. Celingukan berkeliling di sela-sela edelweis mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan doome. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman, bagi-bagi tugas. Bangun shelter dan masak. Tanpa bikin api karena selain peraturan naik ke gunung itu yang melarang, juga tidak adanya kayu-kayu yang kelihatan bisa dibakar. Terpaksa tubuh ini akhirnya berteman dengan dingin.
            Dan entah kenapa malam itu perasaan jadi agak aneh. Seekor anjing datang ikut menemani. Di daerah yang sudah mendekati puncak gunung ini ada anjing? Aku bertanya dalam hati.
            “Hush!!! Hush!!!” Aku mengusirnya.
            Tapi anjing itu tidak mau pergi. Hanya beranjak tidak jauh dari tempat berdirinya doome dan flysheet-flysheet yang membentang. Dan anjing itu malah tiduran di samping tumpukan batu-batu dan melihat kami dengan tatapan yang tidak jelas seolah kami ini tontonan baginya.
            Wuush… Sialan!!! Aku jadi merinding. Jadi teringat cerita Oelil waktu naik Rinjani dimana ia nggak nyadar mendirikan camp di samping tumpukan batu yang ternyata esok paginya baru diketahui kalau tempat itu adalah sebuah makam.
            Ah, masa bodoh. Peduli amat ama anjing itu. Toh aku nggak punya niat buruk. Buru-buru aku masuk doome setelah makan dan masak agar-agar buat besok pagi. Dan ternyata, anjing itulah yang punya niat buruk, yang sedikit demi sedikit mendekati logistik yang berserakan. Mau maling ternyata itu anjing. Ya udah, dari pada kehilangan, logistik pun kembali masuk ke dalam ransel.
            Uahemmm…!!! Dengan mata masih mengantuk aku keluar doome. Hamparan padang rumput yang luas dengan ribuan edelweis yang indah serta latar puncakan-puncakan gunung kecil di belakangnya terpampang di depanku. Mentari pagi bersinar terang. Kesempatan. Pakaian lapanganku yang basah kuhamparkan di atas bebatuan yang mulai memanas. Sementara kegiatan pagi itu berjalan lambat. Padahal, target hari ini, sore harinya sudah harus berada di Puncak Pangrango.
            Siang pun menjelang. Dan aku baru melanjutkan perjalananku. Anjing yang kemarin malam menemani entah kemana. Sudah pergi atau mungkin sudah berpindah ke camp pendaki lain untuk berburu logistik.
            Menyusuri Lembah Surya Kencana yang indah dengan ribuan edelweis, bertemu dengan jalur pendakian dari Sukabumi, perjalanan mulai menanjak di sela bebatuan besar dan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon kerdil dan gersang serta bau belerang yang semakin menyengat. Dan tentunya di hari yang merupakan hari libur itu, waktu aku melakukan perjalananku, cukup banyak juga manusia yang memenuhi gunung.
            “Astacala…..!!!” teriakku dalam hati.
            Summit Attack. Puncak Gunung Gede sudah berada di bawah telapak kakiku. Berdiri di bibir kawah dengan tebing-tebing indah memanjang yang mengelilinginya. Kuhirup udara yang mengalir bebas. Langit biru dengan awan putih terpampang di sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan keringat yang menetes dari letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara dari kawah di bawah sana mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau belerang yang menyengat. Dan alam yang indah itu rupanya sedikit pelit untuk memperlihatkan Puncak Gunung Pangrango yang ada di seberang sana. Kabut-kabut silih berganti datang dan pergi menyelimuti puncak gunung itu.
            Bendera merah Astacala terbentang, senyum manis terpampang, serta tampang-tampang beruk yang riang pun mulai dikeluarkan. Kamera digital yang selalu menemaniku dengan setia tetap bersedia mengabadikan setiap perjalanan walaupun sang energi si baterai charger sudah tersendat-sendat untuk membantunya.
            Pukul satu lewat tiga puluh menit, siang. Hati ini mulai tak yakin akan bisa tiba di Puncak Pangrango sore ini.
            “Ayo…!!! Kita jalan lagi. Nggak usah target tempat” ujarku memberi keputusan pada yang lain.

To Be Continued …..
Bandung, April 2004

Dia Menari

Tuesday, August 9th, 2005

Dia menari
Ketika langit berpelangi
Bergerimis di sela dingin
Merah dan semburat jingga
Oh indahnya …

Dia mengalun
Dalam dendang lagu syahdu
Dia berirama
Bersama bunga yang layu

Dia memelukku
Ketika melukaiku
Dia menciumku
Ketika menikamku

Dia menari
Ketika bintang bersembunyi
Malam hitam dipeluk angin
Menari Menari Menari
Oh indahnya …

Denpasar, November 2004

Sebuah Kisah Klasik (Part 4 : Gung Erick dan Anjingnya)

Tuesday, August 9th, 2005

            Gejor punya seorang teman. Namanya Anak Agung Erry Pradnyana Bagus Genjing. Oleh teman-temannya sering dipanggil dengan Gung Erick. Umurnya sebaya dengan Gejor. Di rumahnya, Gung Erick memelihara seekor anjing. Anjing ini mempunyai hobi menggigit sepatu atau sendal. Hampir sama dengan tuannya.
            Pada suatu ketika anjing ini menggigit sepatu milik Doglo yang sedang main ke rumah Gung Erick. Tetapi, setelah puas menggigit sepatu, anjing itu muntah-muntah. Kemudian pingsan. Mau tau sebabnya? Ya, anjing itu nggak tahan ama bau sepatu Doglo yang lebih parah daripada sambal terasi.  Makanya, untuk hari-hari berikutnya anjing itu ketakutan jika Doglo main ke sana lagi. Nggak mau lagi menggigit sepatu atau pun sendal milik Doglo. Kapok.
            Anjing Gung Erick yang merupakan anjing jenis Doberman ini merupakan anjing yang sangat manis. Dan kalo diperhatikan dengan seksama, sangat cakep lagi. Makanya karena cakep, anjing itu oleh Gung Erick diberi nama Gejor.
    Saking cakepnya, banyak anjing-anjing tetangga yang jatuh cinta. Tetapi jatuh cintanya bukannya sama si anjing, tetapi ama pemiliknya, Gung Erick. Mungkin karena oleh anjing-anjing tetangga itu, Gung Erick mampu memikat cinta dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Cie…!!! Makanya jangan heran kalau melihat Gung Erick sering dikejar-kejar anjing.
            Nah, pada suatu hari, Gejor sempat bertamu ke rumah Gung Erick.  Tentu saja Gejor ngamuk-ngamuk begitu tahu anjing Gung Erick diberi nama sama dengan dirinya.
            “Wah, Rick. Tega amat kamu ngasi nama keren begitu sama anjing jelek begini.” Gejor ngedumel.
            “Lho, kenapa emangnya Jor?”
            “Ya. Kan Gejor itu namaku. Gimana sih kamu. Kok dikasi ke anjing?”
            “Oh. Aku ngasi nama kamu sama anjingku tujuannya baik Jor.” sambung Gung Erick.
            “Baik apanya?”
            “Ya kan aku jadinya inget kamu terus Jor.”
            “Inget apanya. Kamu sengaja ya?”
            “Bukan begitu Jor. Sueer. Biar aku inget terus ama kamu. Lagian anjing ini manis dan cakep. Kan mencerminkan diri kamu.” ujar Gung Erick sambil tersenyum.
            “Aaaah. Mau manis, mau cakep. Pokoknya nggak boleh pake namaku.” sergah Gejor yang merasa dirinya diolok-olok. Tetapi dalam hatinya, Gejor senang juga dibilang manis dan cakep. Walaupun untuk tingkatan anjing. Hi… hi… hi… !!!

Bandung, Februari 2004

Sebuah Kisah Klasik (Part 2 : Maling Ubi)

Tuesday, August 9th, 2005

            Suatu malam, kira-kira pukul setengah delapan, adalah tiga orang anak. Gejor, Doglo, dan Pituh yang saat itu sedang berada di rumah Doglo, tepatnya di kamar Doglo. Doglo dan Pituh asyik tidur-tiduran di kasur. Sementara Gejor tampak sibuk lagi bikin PR Matematika, tugas dari sekolahnya.
            Sambil diselingi cerita-cerita konyol dari mereka bertiga, terdengar lagu-lagu dari kaset album Mega Rock Ballad mengalun memenuhi kamar. Ada lagunya Queen dengan We Are The Champion, ada Nazareth dengan Love Hurts, ada Guns N’ Roses dengan November Rain, ada Mr. Big dengan To Be With You, serta lagu-lagu lain dari kaset itu yang diputar berulang-ulang. Dan sesekali, lagu Kopi Dangdut yang sempat terekam di kaset bajakan itu pun sempat ikut meramaikan suasana pada malam itu.
            ”Huaaaah” Gejor menarik nafas lega.
            “Akhirnya selesai juga.” ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu cepat-cepat merapikan buku-buku yang berserakan di lantai.
    Sementara Doglo dan Pituh masih sibuk tidur-tiduran di kasur.
            “Kayaknya aku mau pulang dulu Glo!” ujar Gejor sambil melihat jam dinding kuno yang bergelayutan di atas tempat tidur Doglo.
            “Wah , saya ikutan dong Jor!” ujar Pituh
            “Ikut sampai di mana?”
            “Ya ikut sampai di rumahku lah”
            “Sori. Itu namanya ngantar, bukan ikut.”  Gejor pura-pura nggak mau.
            “Wah, jahat benar kamu Jor. Aku kan nggak bawa motor.” sambung Pituh lagi.
            “Pokoknya aku nggak mau. Yuk ya. Dadaah!” Gejor beranjak meninggalkan mereka.
            Ketika Gejor baru keluar kamar, Ibu Doglo masuk membawa minum dan setoples kue-kue kering. Gejor jadi ragu-ragu untuk pulang.
            “Katanya mau pulang, Jor. Ayo sana pulang!” usir Pituh dengan kejam.
            “Sori, pulangnya terpaksa ditunda.” Gejor mencibir.
            “Lho, Gejor mau pulang? Kok buru-buru?” sapa ibu Doglo.
            “Oh, anu Tante. Soalnya saya belum minta ijin ama ortu kalo pulangnya malem. Dan lagian saya juga belum mandi.’ jawab Gejor.
            “Bukan Tante. Gejor cepat-cepat pulang karena udah mo bobok dan pengen dikelonin ama mamanya” Pituh nyerocos.
           Gejor  melotot. Doglo dan Pituh ketawa.
            “Nginep di sini aja Jor! Ntar kalo mau mandi, mandi di sini aja. Terus kalo mau nelpon pulang, nelpon dulu tuh di wartel. Biar ibu Gejor nggak khawatir” sambung Ibu Doglo.
            Gejor berpikir sejenak.
            “Ehm, iya deh Tante. Saya nginep di sini aja.” ujar Gejor.
            “Nah, kalo begitu minum dulu gih. Ini udah Tante buatin minum.”
            “Makasih Tante.” jawab Gejor dan Pituh berbarengan kemudian berebutan mengambil stoples kue.
            Malam itu, setelah mereka mandi rame-rame di Kali Unda, nyemplung malem-malem, Doglo dan Pituh tampak nyanyi-nyanyi diiringi gitar di depan wartel ditemani Bagong, si penjaga wartel. Terlihat Pituh main gitar nggak digesek, tapi ditiup, mengiringi Doglo yang menyanyi dengan suara raksasa. Sehingga komplitlah nyanyian mereka kayak suara helikopter yang kecebur di selokan.
            Sementara di dalam wartel, Gejor terlihat nelpon ke rumahnya.
            Setelah selesai nelpon, Gejor gabung ama Doglo, Pituh, dan Bagong untuk nyanyi-nyanyi. Gejor ikutan, nyanyian mereka malah tambah ancur.
            Beberapa menit kemudian terdengar suara kruyuk kruyuk.
Dan setelah didengarkan secara seksama, ternyata itu adalah suara perut Doglo yang lagi keroncongan. Lapar.
            “Jor! Kita nyari makanan yuk!” ajak Doglo.
            “Ayo. “ jawab Gejor yang dijawab juga oleh Pituh
            “Di mana kita beraksi nih?” tanya Pituh pada Doglo.
            “Beraksi? Beraksi apaan? Emangnya kita mo nangkap maling?” tanya Gejor
            “Ya beraksi nyari makanan dong. Gimana sih kamu, nggak tau bahasa gaul aja.” ujar Doglo.
            Gejor cuman manggut-manggut aja nggak ngerti plus curiga karena terlihat Doglo dan Pituh menyiapkan kantong kresek.
            Maka, berangkatlah Gejor, Doglo, serta Pituh untuk nyari makanan. Pituh naik motor milik Gejor sendirian, sedangkan Gejor nebeng bareng Doglo. Motornya bukan motor tua Si Doglo lagi. Mereka bertiga nggak pake helm. Dan mereka sempat keliling-keliling kota. Katanya mau nyari polisi dulu. ?????
            Setelah keliling-keliling kota, mereka memacu motornya menuju ke jalan Kecubung, Galiran. Tiba di areal persawahan mereka berhenti.
            “Glo. Kok nyari makanan di tempat seperti ini?’ tanya Gejor pada Doglo.
            “Sssstttt! Jangan ribut. Kamu jaga-jaga aja di sini. Awasi jika ada orang datang” ujar Doglo kemudian turun ke sebuah sawah dimana di dalamnya terlihat banyak ada tanaman ubi jalar.
           “HAH! Gejor kaget.
            Doglo kemudian menyusul Pituh yang sudah sibuk mencabuti tanaman ubi itu.
            Beberapa menit kemudian, kantong kresek sudah penuh dengan ubi. Mereka kembali naik motor.
            “Ayo cabut!” seru mereka. Dan mereka pun memacu motornya dengan riang.
            “Glo! Kita nyolong ya?’ tanya Gejor pada Doglo yang ngeboncengnya.
            “Ah, nggak. Saya udah minta ijin kok ama pemiliknya tadi.”
            “Emang pemiliknya ada sewaktu kamu mintain ijin?’ tanya Gejor lagi.
            “NGGAK” jawab Doglo polos.
            Sesampainya mereka kembali di Wartel Undariver, Pituh sibuk menumpuk-numpuk kayu bakar di pinggir jalan dibantu oleh Gejor. Sedangkan Doglo datang dari dalam wartel membawa korek api.
            Mereka duduk-duduk di pinggir jalan sambil membuat api unggun kecil. Ubi jalar hasil rampokan di sawah mereka bakar di sana.
            Gejor ngomel-ngomel menasehati keduanya.
            “Tuh, Glo! Kok tega-teganya kalian ngajakin saya nyuri sih? Kan kalian tau kalo nyuri itu perbuatan yang nggak baik.”
            “Ah, sok kamu Jor. Kayak nggak pernah nyolong aja.” ujar Pituh pada Gejor.
            “Nggak pa pa Jor. Kan udah diijinin ama pemiliknya” sambung Doglo.
            “Diijinin, diijinin apanya”
            “Sudahlah Jor. Walaupun ubinya kita curi toh di sana masih banyak ada ubi sisanya. Lagian kita cuman ngambil sedikit begini.” ujar Doglo sambil memperlihatkan kantong kresek besar seukuran karung beras sepuluh ton.
            “Nih Jor. Ubinya udah mateng.” Pituh melempar sebuah ubi ke arah Gejor.
            Gejor makan juga ubi itu dengan perasaan yang nggak enak walaupun ubi yang dimakannya enak. Dan Gejor malah jadi ketagihan.
            “Wah Glo. Enak juga nih ubi. Kapan-kapan kita beraksi lagi yuk!’ ajak Gejor.
            “Yeeee. Tadi sok alim bilang nyolong nggak baik. Sekarang ngajak” jawab Doglo ngeledek.
            “Tapi Jor. Kita Ngelakuin ini cuman iseng aja kok. Cuman sekali-sekali. Jadi nggak baik kalo kita sering-sering nyolong ubi. Dosa.” Doglo balik menasehati. Sedangkan Pituh manggut-manggut aja tanda setuju. Sementara mulutnya penuh mengunyah ubi. Krauk krauk, begitu bunyinya.
            Setelah kenyang makan ubi, mereka nyanyi-nyanyi lagi ditemani api unggun yang menyala kecil. Mereka bertiga kelihatan happy sekali menikmati malam yang semakin larut. Sesekali mereka bubar karena silih berganti tercium bau kentut memenuhi udara yang dikeluarin oleh mereka.
            Maklum. Abis makan ubi sekarung.

Bandung, Februari 2002