Larung

            Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang bintang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tari telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para prajurit dengan pinggul mereka agar percaya pada komunisme, bukan pada segala Tuhan. Sembari bernyanyi genjer-genjer. Tetapi aku tahu ibumu dan istri Nyoman Pintar kerap berada di bangsal dan mengajari sesama istri tentara membikin ketupat dan janur dari daun nyiur. Mereka semua pendatang. Dan daun genjer hanyalah sayuran yang membuat tinjamu lengket panjang.

            Larung adalah kelanjutan Saman, novel karya Ayu Utami. Pada awalnya, dua novel ini direncanakan sebagai sebuah buku berjudul Laila Tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan, beberapa sub plot berkembang melampaui rencana. Kini Saman dan Larung merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri.
            Ayu Utami. 2001. Larung. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.

Bandung, Oktober 2004

Leave a Reply