Gejor, adalah cowok rada kurus kerempeng asal Klungkung
yang sekolah di Ekasma. Tapi walaupun kurus, yang penting keren dan
seksi. Punya banyak cerita. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari
yang seru sampai yang garing. Dari yang romantis sampai yang horor.
Dari yang menyentuh hati sampai yang membuat tawa terpingkal-pingkal.
Pokoknya, nikmati aja berbagai kisah di story of Gejor WebBlog. Sebuah Kisah Klasik.
Salah satu cerita adalah tentang Gejor dan dua orang
sahabat karibnya. Waktu SMA. Yang satu namanya Doglo dan yang satu lagi
namanya Pituh.
Doglo adalah seorang anak yang hobinya makan. Sehingga
nggak mengherankan jika doi badannya subur kayak karung beras. Doglo
itu usianya setahun lebih tua dari Gejor. Maklum. Soalnya pada waktu SD
Doglo pernah nggak naik kelas. Atau lebih tepat jika dibilang nggak
lulus ujian. Penyebabnya, pas pada waktu Ebtanas, anak itu cuek bebek
malah asyik ngintip orang mandi di Kali Unda. Nggak peduli ama
teman-temannya yang lagi pusing-pusing di sekolah ngejawab soal-soal
ujian. Dan gilanya lagi, pada waktu pengumuman kelulusan, itu anak
dengan pede datang ke sekolah buat minta ijazah. Terang aja guru-guru
pada ngedumel meladeni Doglo yang merengek-rengek minta ijazah. Hi… hi…
hi…!!!
Teman Gejor yang satu lagi, Pituh. Adalah seorang anak
yang ngaku-ngaku pendiam, tapi hobinya suka bikin ribut. Anak ini juga
punya hobi ngerjain orang dan nggak akan berhenti ngerjain orang sampai
orang yang dikerjainnya nangis setengah mati atau kalo nggak, Pituh
yang dibuat hampir mati. Pituh ini umurnya sebaya dengan Gejor. Ia
lumayan keren (Kera Tulen). Makanya nggak mengherankan kalo banyak
cewek-cewek yang suka. Suka ngejek, suka ngolok-ngolok, suka membantai,
dan sejenisnya.
Nah, ceritanya begini. Pada waktu liburan cawu 3 kelas
2, Gejor, Doglo dan Pituh rajin banget nongkrong di depan Wartel
Undariver. Yaitu wartel milik bokap Doglo dan sekaligus juga rumah Si
Doglo.
Suatu sore yang cerah gemah ripah loh jinawi, Gejor,
Doglo, dan Pituh berniat jalan-jalan ke pantai. Namanya Pantai Klotok
nan indah permai. Mereka naik motor tua taon tujuh puluhan milik Doglo.
Naiknya bertiga.
“Nggak pa pa nih Glo kita naik motor ini bertiga?”
tanya Gejor pada Doglo yang duduk di tengah-tengah, diapit oleh Doglo
dan Pituh.
“Kamu nggak percaya ama motorku ya Jor? Walaupun
begini, motor ini pernah menghantarkan saya jalan-jalan ke Galian C.”
jawab Doglo dengan bangga kemudian bersiap-siap menghidupkan motornya.
Setelah motor hidup, gigi satu pun dimasukkan oleh
Doglo. Motor melesat semaput kayak mau terbang karena Doglo ngegasnya
tiba-tiba. Pituh yang duduk di belakang misuh-misuh karena hampir
terjungkal.
“Sialan kamu Glo! Aku hampir jatuh nih.” maki Pituh sambil berusaha berpegangan erat meraih pinggang Doglo.
“Oh, jatuh kan nggak pa pa. Paling juga masuk rumah
sakit. Atau kalo beruntung cuman masuk kuburan” jawab Doglo seenaknya.
“Huh. Orang jahat.” Pituh ngedumel.
Motor pun dihidupkan kembali dan akhirnya melaju
membawa Doglo, Gejor, dan Pituh sambil diiringi lagu dangdut yang
mereka nyanyikan secara serempak.
Belum tiga menit perjalanan, motor tiba-tiba ngadat.
“Busyet. Apaan nih Glo. Kok ngadat?’ tanya Pituh.
“Wah. Sialan. Mesinnya ngambek lagi nih.” Mereka turun, kemudian Doglo memeriksa bagian bawah motornya.
“Tuh, tolong kamu dorong dong motor ini!” pinta Doglo.
“Enak aja. Emangnya aku apaan?” jawab Pituh sambil pasang muka masem.
“Yah, jangan gitu dong Tuh. Tolong sekaliiii aja. Kamu
juga Jor. Kan kita naikin motor ini sama-sama” rengek Doglo.
Gejor dan Pituh memandang Doglo kesal.
“Lagian motor rongsokan begini masih dibawa. Dinaikin bertiga lagi.”
Tapi. Setelah dirayu-rayu dengan rayuan super maut oleh
Doglo, akhirnya Gejor dan Pituh mau juga ngedorong itu motor.
“Itung-itung olah raga, kan seger.” sambung Doglo.
“Diem kamu!” seru Gejor dan Pituh berbarengan sambil cengar-cengir diliatin oleh cewek-cewek yang lewat.
Satu…….. dua… tiga. Dan grung grung grung mesin motor
pun menyala. Doglo berteriak-teriak girang. Motornya langsung meluncur.
Tinggal Gejor dan Pituh yang berlari-lari mengejarnya dengan nafas
senin kamis.
Sesampainya di Klotok, mereka nggak langsung
jalan-jalan di pantai. Mereka malah asyik nongkrong di bawah pohon
singapore. Doglo dan Pituh naik pohon singapore dan melahap
buah-buahnya dengan rakus. Persis seratus persen kayak monyet.
“Hai Jor. Kamu nggak suka buah singapore? Enak euy!” ujar Doglo dari atas pohon singapore.
“Huu.! Makanan monyet kayak gituan dimakan.” ujar Gejor yang duduk di bawah pohon.
“Eh, dibilangin enak nggak percaya. Nih, kalo nggak
percaya cobain!” sambung Doglo sambil melempar buah kecil singapore ke
arah Gejor.
Gejor menangkapnya. Mengicip-icipnya. Dan….. Ternyata enak.
“Wah, enak . Lemparin lagi dong!” pinta Gejor.
“Enak aja. Kalo mau lagi, naik sini dong!” ujar Doglo.
Gejor pun naik. Berusaha mencari buah-buah Singapore
yang mulai hampir habis. Kemudian melahapnya dengan rakus pula. Dan
malah, kini Gejor yang paling keliatan kayak monyet.
Setelah ketiga anak itu puas menggasak pohon singapore,
mereka melanjutkan misinya dengan jalan-jalan di pantai. Lumayan
katanya. Sore-sore begini, banyak cewek-cewek nih yang juga jalan-jalan
di pantai.
Setelah hari beranjak petang. Mereka akhirnya
memutuskan untuk pulang. Pulangnya kembali naik motor Doglo bertiga.
Dan, naik motor yang hobinya ngadat kayak punya Si
Doglo ini ternyata lebih menyebalkan daripada naik Mercedez Benz.
Bayangin aja, baru jalan beberapa kilo, sudah minta macem-macem. Selain
bunyinya yang udah kayak kapal terbang, kadang-kadang klaksonnya bunyi
terus-menerus nggak mau berhenti. Kadang-kadang jalannya
mengangguk-angguk kayak orang nafsu banget, sehingga Gejor yang duduk
di tengah malah dibuatnya gepeng. Belum lagi tugas ngedorong jika
mesinnya mati. Akibatnya, Gejor dan Pituh yang ketiban sial dapet tugas
ngedorong. Duh, malu-maluin. Mana diliatin cewek-cewek cakep lagi.
Motor tua Doglo jenis bebek empat tak ini memang
harusnya untuk dua orang aja. Tapi, karena mereka rada-rada gila, maka
nekatlah mereka untuk dudukinnya bertiga. Dan ketika melintas di
Perempatan Agung Klungkung mereka distop oleh polisi. Doglo dan Pituh
tampak ketakutan. Sedangkan Gejor tampak tenang-tenang aja. Cuek.
“Saudara-saudara ini bagaimana. Kenapa naik motor bertiga?” hardik Pak Polisi.
“Lho Bapak ini bagaimana sih? Kalo kami naik berempat ya nggak muat dong!” sahut Gejor kalem.
Polisi itu manggut-manggut. Mereka pun bebas.
To Be Continued …..
Bandung, Februari 2002