Saman

                 Ia bersimpuh tanpa membantah, sampai kedua ujung dadanya menyentuh kedua ibu jari kaki sang lelaki. Disekanya telapak itu dengan rambutnya. Kemudian ia tengadah, dengan setitik air di mata kirinya, setitik darah di mata kanannya. Lalu perlahan ia merambat ke atas, sepanjang tungkai lelaki tadi. Wajahnya berhenti di pangkalnya yang rimbun seperti pepohonan. Ia merintih “Kasihanilah, aku cuma haus. Buah yang ini bukan terlarang, kan?”.

                Saman mampu menangkap carut-marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Suatu zaman yang hiruk pikuk dengan peristiwa maupun lalu lintas informasi kultural, sehingga sering sukar untuk dipahami. Ada daya magnet yang membuat pembaca tidak ingin melepaskannya.
                Saman adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami yang akan berjudul Laila Tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan, beberapa sub plot berkembang melampaui rencana. Tahun 2001, lanjutannya terbit sebagai novel terpisah berjudul Larung. Kini Saman dan Larung merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri.
                Ayu Utami. 2001. Saman. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Jurnal Kebudayaan Kalam.

Bandung, Oktober 2004

Leave a Reply