Sebuah Kisah Klasik (Part 3 : Berpetualang)
Suatu siang yang cukup terik, Gejor bengong memandangi Doglo dan Pituh yang asyik main catur di depan wartel Undariver.
“Skak MAT!” ujar pituh penuh kemenangan dan senyum mengejek pada Doglo.
“Huh, kalah lagi. Kalah lagi.” Doglo kesal kemudian membubarkan papan catur.
Tiba-tiba Gejor berseru pada keduanya.
“Oi…, kita jalan-jalan yuk. Berpetualang.” ajak Gejor.
“Berpetualang?” Doglo dan Pituh tampak mikir. Kayak Albert Einstein yang lagi mikir rumus Fisika. Sok banget.
“OK. Siapa takut” jawab mereka sambil menirukan iklan shampoo.
Maka, singkat cerita, berangkatlah mereka untuk jalan-jalan lagi. Kali ini dengan misi berpetualang. Gejor naik motor sendiri. Doglo dan Pituh berdua berboncengan mengikuti Gejor.
Mereka melaju motornya menuju kawasan timur Kabupaten Klungkung. Namanya daerah Dawan. Cukup banyak bukit-bukit yang malang melintang di kawasan itu serta hutan-hutan yang cukup lebat di dalamnya.
Gejor memacu motornya melaju ke arah utara. Naik turun bukit. Keluar masuk jalan-jalan kecil dan menyusuri hutan-hutan milik penduduk. Dan bahkan jalan yang tidak mereka ketahui sama sekali pun mereka masuki. Bahkan sampai mentok di depan jurang segala. Doglo dan Pituh kelihatan senang juga keliling-keliling di hutan perbukitan yang cukup luas itu. Katanya, mereka senang karena bisa ketemu ama saudara-saudara mereka yang sering mereka temui bergelayutan dari satu pohon ke pohon lain.
Di antara mereka bertiga, Gejor yang paling nekat. Disinari teriknya matahari dan debu-debu jalanan ia masih tetap melaju motornya. Sedangkan Doglo dan Pituh sudah terlihat capek mengikutinya. Bahkan mereka mengancam akan meninggalkan Gejor yang nggak mau balik.
“Kalo kalian mo pulang, pulang duluan deh” ujar Gejor sambil menikmati suasana perbukitan.
Tapi walaupun udah disuruh pulang duluan, Doglo dan Pituh masih saja mengikuti Gejor. Ternyata mereka khawatir ninggalin Gejor di sana sendirian.
Karena saking lamanya mereka keliling di tempat itu, akhirnya mereka sampai di wilayah menara di salah satu puncak bukit daerah itu. Suasananya sejuk. Sepi. Mereka istirahat di sana.
Gejor duduk bersandar pada sebuah batu sambil melihat pemandangan perbukitan di kanan kiri serta laut biru di kejauhan.
Sementara Doglo dan Pituh berbaring di atas rumput sambil bercanda.
“Eh, Glo buah apaan tuh di sana?’ tanya Pituh sambil menunjuk sebuah pohon yang sedang berbuah lebat.
Mereka beranjak mendekati pohon itu.
“Oh, ini namanya jambu mete” jawab Doglo sok tau.
“Ah, sok tau kamu Glo. Ini kan jambu monyet. Liat aja, jambunya mirip kamu!” sambung Pituh lebih sok tau lagi.
“Mau jambu monyet kek, jambu kera kek, yang penting sekarang aku lapar” ucap Doglo kemudian naik pohon itu, memetik buahnya, lalu memakannya.
“Enak nggak Glo?” tanya Pituh.
“Kalo nggak enak, pasti udah nggak aku makan.” jawab Doglo.
Pituh pun ikut naik. Memetik buahnya dan memakannya juga. Tapi sebelumnya Pituh mengicip-icip dulu buah itu. Setelah tau rasanya enak, baru kemudian ia memakannya.
Setelah beberapa menit, keduanya sepah-sepeh sambil memegangi perutnya.
“Aduh Glo, katanya buah itu bisa dimakan. Kok perutku sakit?” rintih Pituh sambil memegangi perutnya.
“Iya nih. Nggak tau. Perutku juga sakit.” jawab Doglo.
Gejor yang melihat kedua sobatnya merintih buru-buru mendekatinya.
“Kenapa kalian?’
“Ini nih Jor. Gara-gara Si Doglo bilang kalo buah itu bisa dimakan, perutku jadi sakit” ujar Pituh sambil menunjuk sisa-sisa buah yang mereka makan.
“Waduh, Tuh, Glo. Jangan-jangan kalian makan buah beracun” Gejor menakut-nakuti keduanya.
“Ah, masa sih?’ tanya Doglo nggak percaya.
“Iya Glo. Mungkin kalian berdua bisa mati.” sambung Gejor tambah menakut-nakuti.
“Hah. Ja… jangan begitu dong Jor” Pituh ketakutan.
“Makanya, kalo belum tau buah itu bisa dimakan atau nggak, jangan dimakan dulu dong. Salah sendiri.” ujar Gejor.
Tapi Gejor khawatir juga melihat Doglo dan Pituh masih slekak-slekek.
“Nih Glo, Tuh. Minum dulu gih” Gejor berkata sambil memberikan botol minum yang ia bawa di ransel kecilnya.
Glek glek glek aaah. Doglo dan Pituh meminumnya bergantian. Sampai airnya habis.
“Gimana? Udah baikan?” tanya Gejor.
“Udah. Tapi masih terasa sakit dikit” jawab Pituh.
“Aaaah, udah ilang sakitnya” ujar Doglo kemudian menarik nafas panjang dan merentangkan kedua tangannya.
Botol minum itu pun dikembalikan pada Gejor.
”Makasih Jor” kata mereka.
Gejor yang juga haus mengambil botol itu, melihat isinya, kemudian melemparkannya ke kepala sobat-sobatnya itu begitu tau isinya udah kosong.
“Dasar brengsek…!!!” Gejor memaki.
“Ha… ha… ha… Sori Jor. Sengaja.“ Mereka ketawa.
“Kita pulang aja yuk!” ajak Gejor dengan cemberut.
“Ayo”
Maka kembalilah mereka bertiga naik motor untuk pulang. Mereka naik motor menuruni bukit. Mesin motor tidak mereka hidupkan. Mereka terlihat asyik bercanda-canda. Lupa akan sakit perut Doglo dan Pituh akibat buah yang telah mereka makan. Dan lupa juga akan haus Gejor yang tidak disisain minum.
“Glo, kalo seumpama di tengah jalan begini kita nemu tai kebo, mau nggak kalo dibagi dua?” cetus Pituh tiba-tiba.
“Enak aja. Ya nggak mau dong!” jawab Doglo dengan segera.
“Wah, kamu rakus amat. Tai kebo mau dimakan sendiri!”
Doglo diam. Telmi dia. Sedangkan Pituh dan Gejor tertawa terbahak-bahak. Ha… ha… ha… !!!
Bandung, Februari 2002