Summit Attack Gede Pangrango (Part 2)

            Pukul empat lewat tiga puluh menit. Di pagi yang dingin, berteman butiran-butiran embun, bulan dan bintang yang menampakkan keindahannya di sela-sela kepergian mendung hitam, serta lekukan-lekukan Puncak Gunung Gede dan runcingnya Puncak Pangrango, tenda doome pun dipacking lagi. Bergegas meninggalkan pos jaga itu tanpa ucapan terima kasih kepada sang penjaga pos. Berjalan di jalan setapak di sela-sela ladang penduduk. Mampir di sebuah saung kosong. Sebagian kembali melanjutkan mimpi, dan sebagian lagi membongkar logistik menyiapkan sarapan pagi.
            Selanjutnya, kaki ini pun kemudian melangkah lagi setelah perut yang kosong terisi logistik yang sejak kemarin bercokol terus di punggung serta perut terisi terkuras di cekukan tanah buatan tramontina bersama tisue putih ternoda yang menemaninya.
            Ladang-ladang yang penuh dengan bawang sepertinya tersenyum melihatku datang berjalan menyusuri mereka. Hutan rimba terlihat memanggil-manggil di kejauhan. Kabut-kabut putih di atas sana tak henti-hentinya bermain bersama puncak-puncak gunung sehingga tidak banyak acuan yang bisa kudapatkan untuk orientasi. Tapi di lain pihak, aku kurang suka akan perjalanan ini karena ternyata tidak sedikit manusia yang berjalan searah dan setujuan dengan perjalananku. Apalagi ditambah keributan dan bunyi hiasan leher anjing di tubuh mereka.
            Berjalan dan terus berjalan. Santai dan sering istirahat. Melewati ladang lalu memasuki hutan rimba. Jalan setapak mulus bagaikan jalan tol di dalam hutan untuk seorang yang berbet merah Astacala di lengan bajunya yang hitam, sedikit demi sedikit mulai memaksa nafas ini untuk berpacu. Tetapi sayang, jalan setapak yang kulalui ini masih saja terlihat plastik-plastik kecil berserakan yang sudah pasti asalnya tidak jatuh dari langit dan tentu saja berasal dari pendaki-pendaki sialan yang menamakan dirinya pecinta alam tetapi tidak tahu arti dari kata pecinta alam itu sendiri.
            Pukul dua belas siang. Flysheet dibuka seadanya. Waktunya makan siang ditemani rintiknya hujan di dalam rimba Gunung Gede, rimba yang begitu banyak ada manusia yang ingin mencicipi keindahannya tetapi dengan begitu saja tidak mau menghargai keindahan yang diberikan oleh rimba itu sendiri.
            Dua jam lebih berlalu begitu saja saat makan siang. Nyantai amat. Entah memang karena malas untuk gerak cepat atau lemahnya perintah sang komandan, perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, gelap menghadang dan sisa-sisa gerimis hujan pun menyambut dalam rimba. Lembah Surya Kencana yang menjadi tujuan untuk camp hari itu belum kesampaian. Kepala yang mulai berat, nafas yang tersengal karena bersaing berebut oksigen dengan penghuni hutan yang jumlahnya tidak sedikit, perut lapar yang hanya disogok oleh suapan-suapan biskuit kering.   
            Sedikit demi sedikit kaki yang terus mengayun itu tetap melangkah. Samar-samar mulai tercium bau belerang menyengat. Sudah dekat, begitu batinku. Jalan yang kutempuh mulai mendatar. Keluar dari lebatnya hutan rimba di gelapnya malam, terpampang di depanku samar-samar lembah berupa lapangan luas dengan ribuan edelweis yang menghampar. Angin bertiup kencang. Celingukan berkeliling di sela-sela edelweis mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan doome. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman, bagi-bagi tugas. Bangun shelter dan masak. Tanpa bikin api karena selain peraturan naik ke gunung itu yang melarang, juga tidak adanya kayu-kayu yang kelihatan bisa dibakar. Terpaksa tubuh ini akhirnya berteman dengan dingin.
            Dan entah kenapa malam itu perasaan jadi agak aneh. Seekor anjing datang ikut menemani. Di daerah yang sudah mendekati puncak gunung ini ada anjing? Aku bertanya dalam hati.
            “Hush!!! Hush!!!” Aku mengusirnya.
            Tapi anjing itu tidak mau pergi. Hanya beranjak tidak jauh dari tempat berdirinya doome dan flysheet-flysheet yang membentang. Dan anjing itu malah tiduran di samping tumpukan batu-batu dan melihat kami dengan tatapan yang tidak jelas seolah kami ini tontonan baginya.
            Wuush… Sialan!!! Aku jadi merinding. Jadi teringat cerita Oelil waktu naik Rinjani dimana ia nggak nyadar mendirikan camp di samping tumpukan batu yang ternyata esok paginya baru diketahui kalau tempat itu adalah sebuah makam.
            Ah, masa bodoh. Peduli amat ama anjing itu. Toh aku nggak punya niat buruk. Buru-buru aku masuk doome setelah makan dan masak agar-agar buat besok pagi. Dan ternyata, anjing itulah yang punya niat buruk, yang sedikit demi sedikit mendekati logistik yang berserakan. Mau maling ternyata itu anjing. Ya udah, dari pada kehilangan, logistik pun kembali masuk ke dalam ransel.
            Uahemmm…!!! Dengan mata masih mengantuk aku keluar doome. Hamparan padang rumput yang luas dengan ribuan edelweis yang indah serta latar puncakan-puncakan gunung kecil di belakangnya terpampang di depanku. Mentari pagi bersinar terang. Kesempatan. Pakaian lapanganku yang basah kuhamparkan di atas bebatuan yang mulai memanas. Sementara kegiatan pagi itu berjalan lambat. Padahal, target hari ini, sore harinya sudah harus berada di Puncak Pangrango.
            Siang pun menjelang. Dan aku baru melanjutkan perjalananku. Anjing yang kemarin malam menemani entah kemana. Sudah pergi atau mungkin sudah berpindah ke camp pendaki lain untuk berburu logistik.
            Menyusuri Lembah Surya Kencana yang indah dengan ribuan edelweis, bertemu dengan jalur pendakian dari Sukabumi, perjalanan mulai menanjak di sela bebatuan besar dan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon kerdil dan gersang serta bau belerang yang semakin menyengat. Dan tentunya di hari yang merupakan hari libur itu, waktu aku melakukan perjalananku, cukup banyak juga manusia yang memenuhi gunung.
            “Astacala…..!!!” teriakku dalam hati.
            Summit Attack. Puncak Gunung Gede sudah berada di bawah telapak kakiku. Berdiri di bibir kawah dengan tebing-tebing indah memanjang yang mengelilinginya. Kuhirup udara yang mengalir bebas. Langit biru dengan awan putih terpampang di sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan keringat yang menetes dari letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara dari kawah di bawah sana mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau belerang yang menyengat. Dan alam yang indah itu rupanya sedikit pelit untuk memperlihatkan Puncak Gunung Pangrango yang ada di seberang sana. Kabut-kabut silih berganti datang dan pergi menyelimuti puncak gunung itu.
            Bendera merah Astacala terbentang, senyum manis terpampang, serta tampang-tampang beruk yang riang pun mulai dikeluarkan. Kamera digital yang selalu menemaniku dengan setia tetap bersedia mengabadikan setiap perjalanan walaupun sang energi si baterai charger sudah tersendat-sendat untuk membantunya.
            Pukul satu lewat tiga puluh menit, siang. Hati ini mulai tak yakin akan bisa tiba di Puncak Pangrango sore ini.
            “Ayo…!!! Kita jalan lagi. Nggak usah target tempat” ujarku memberi keputusan pada yang lain.

To Be Continued …..
Bandung, April 2004

Leave a Reply