Tunjukkan Jalan Itu Padaku

                Saat melihat jalan itu. Darahku berpacu. Misteri itu menunggu. Adrenalin berontak kuat. Tak ingin hidup tenang. Aman duduk berleha di dalam rumah. Dan misteri itu selalu menunggu. Ketakutannya membayangi. Tapi segala keingintahuan tak ingin dilepaskan dan dikalahkan. Salahkah itu?
                Sombong? Mungkin.
                Sok? Mungkin juga.
                Tak hanya itu. Di dalam dunia ini. Semuanya. Di alam semesta ini. Masih indahkah hidup itu jika semua yang kau mau dan yang menjadi mimpi itu sudah kau punya ? Kenapa ?
                Hidupku dan hidupmu. Yang mungkin identik. Atau mungkin ada perbedaan. Mungkin kecil. Atau mungkin cukup lebar. Dari kecil hidup dalam belaian orang tua. Bersekolah. Belajar yang rajin. Jadi juara. Jadi anak yang soleh. Taat. Kuliah. IP melangit. Kemudian lulus. Wisuda. Dengan predikat cum laude. Lalu bekerja. Di perusahaan ternama. Gajinya berjuta. Nikah. Kawin. Punya anak. Jadi tua. Duduk di kursi roda. Dan kemudian menunggu ajal.
                Siklus hidup yang indah. Begitu katanya.
                Tak adakah yang lain?
                Katanya hidup itu penuh teka-teki. Teki-teki silang. Berbagai persoalan menghiasinya. Kotak-kotak jawabannya yang selalu menanti. Banyak yang benar dari jawaban untuk setiap persoalan. Tak selalu benar yang dibutuhkan. Tapi tepat itu pasti. Untuk bisa mendukung berbagai persoalan pada kotak-kotak yang lain. Dan disebutnya itu kebijaksanaan. Identik dengan hidup di dunia.
                Katanya hidup itu penuh dengan mimpi. Yang menjadikan setiap kita punya harapan. Entah untuk apa. Dan setiap mimpi dan harapan akan penuh dengan hal-hal yang mengejutkan. Setiap langkah yang dilakukan. Akan membawa setiap kita pada kematangan, kemandirian, dan proses untuk menuju akhir. Dan, yang pasti bukan berkutat pada akhir. Tapi proses untuk akhir itu. Maka tetaplah bermimpi. Karena semua itu suatu saat akan menjadi kenyataan.
                Saat melihat jalan itu. Ketika hidup ada pada batasnya. Dekat dengan surga. Mungkin juga neraka. Ketika luka masih dibawa. Ketika dosa-dosa tersenyum menyapa. Ketika banyak keinginan yang belum tercipta. Ketika beribu mimpi belum memberi arti. Sejuta tanya menghadang untuk dijawab. Dalam waktunya yang sempit.
                Ketika hidup ada di ujung ajal. Ingatkan pada ibu yang selalu menyayangiku. Yang tak sanggup aku melihatnya menangis. Pada bapakku yang selalu ingin membuatku bahagia. Masih bisakah untuk mengucapkan maaf dan terima kasih atas segala tindak dan segala ulah? Masih punya waktukah aku untuk menangis di pangkuannya?
                Ketika dingin. Cahaya putih yang indah menunggu. Ingatkan pada gadis impian. Yang menanti dengan cemas dan harap. Yang kalau ia mau, dengan wajahnya yang manis tentu tak sulit mendapatkan pengganti. Pada semua teman dan malaikat yang ada di putaran jalanku. Yang selalu bermain dengan waktuku. Masih bisakah aku memberikan sesuatu yang pernah kujanjikan? Masih sempatkah aku mengembalikan milikmu yang pernah kaupinjamkan?
                Ketika dingin. Sunyi. Menderu kalbu menjadi hawa panas. Aku menggeliat. Ingin melupakan ketersesatan itu. Aku menggeliat lagi. Di mana jalan itu? Tunjukkan padaku!
                Ternyata mimpi.  Aku terbangun. Mendapatkan diriku terdampar di sebuah tempat.  Di sebuah sudut bumi ini. Di malam ini. Tak ada yang peduli. Sendiri. Sunyi. Sepi. Dengan ribuan problema yang menari-nari. Menghimpit menusuk hati.
                Aku menggeliat lagi. Dan tak ada yang peduli. Aku bermimpi di tempat ini. Tercipta dari ingin dan segala harapan. Tersesatkah aku ?

Bandung, Agustus 2005

Leave a Reply