Archive for July, 2006

Air Mengalir Sampai Jauh

Monday, July 3rd, 2006

Langit mendadak runduk kelabu
Di sini kita tak sempat lagi bicara tentang sepi
Dan membenahi jejak mimpi selama ini
"Hidup tak perlu ditangisi" katamu

Untuk memulai hidup ini dibutuhkan keberanian
Namun tak usah berlebihan
Karena gerimis luruh pun menyimpan kemungkinan

Sungai yang angkuh tengadah dipermainkan musim
Menjebak hidup kita dari gelombang tak terduga
"Hidup harus lebih dari sekadarnya"

Budi Laksmono (1959-1986)
Diambil dari "Jejak Kampus di Jalan Alam, 40 Tahun Mapala UI"

Sebuah Kisah Klasik (Part 5 : Di Awal Sekolah)

Monday, July 3rd, 2006

    Liburan sudah akan berakhir. Dan hari-hari menjelang ke sekolah merupakan hari-hari yang menderitakan. Sebab jika sudah nggak liburan lagi, nggak bisa nongkrong lagi atau nggak bisa jalan-jalan lagi.

    Tapi apakah benar seperti itu?
    Nggak juga. Sebab, walaupun liburan udah ada di ujung tanduk, Gejor, Doglo, dan Pituh masih suka juga nongkrong ataupun jalan-jalan. Dan, anggotanya malah nambah satu lagi, Gung Erick.

    * * *

    Pagi itu, sinar mentari masih tampak remang-remang. Gejor lagi di kamarnya sambil berdendang kecil mengikuti lagu yang mengalun di radio. Tampak di meja belajarnya berserakan beberapa kertas. Sementara buku-bukunya terlihat memenuhi rak yang memanjang di bagian atas meja belajarnya. Gejor memang rajin belajar. Makanya koleksi buku-buku yang ia miliki pun cukup banyak. Ada Donal Bebek, Doraemon, sampai Ksatria Baja Hitam. Emang buku-bukunya rata-rata semua pada gokil. Katanya bisa dipake sebagai hiburan jika abis pusing-pusing dengan hapalan  rumus-rumus Kimia.
    Sementara Gejor terlihat asyik menulis sesuatu, Ayu yang pagi itu juga udah bangun iseng menghampirinya.
    “Eh, Jor. Lagi ngerjain apaan? Kayaknya serius amat, sampai nggak nyadar ada bidadari cantik yang datang”
    Gejor menoleh. Di sampingnya udah berdiri Ayu.
    “Oh, sori. Kirain kucing”.
    “Sialan”
    Ayu mengintip apa yang ditulis Gejor.
    “Apaan tuh Jor?”
    “Oh, ini formulir buat pengurus Osis. Kan aku di sekolah jadi pengurus Osis. Walaupun tugasnya cuman ngurus-ngurus urusan yang nggak perlu diurus.” jawab Gejor seenaknya.
    Ayu merhatiin dengan seksama formulir Gejor.
    “Kok formulir pengurus Osis isi gambar bunga-bunga gitu?’
    “Wah, ini di baliknya malah isi gambar Crayon Sinchan segala. Aneh bin ajaib ya?”
     Keduanya ketawa bareng.
    Selang beberapa menit kemudian Ayu keluar dari kamar Gejor. Sementara Gejor udah siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Weker di samping tempat tidur Gejor nunjukin pukul enam lewat lima menit. Mungkin karena kangen ama teman-temannya, Gejor berangkatnya pagi-pagi sekali.
    Dengan bersiul-siul kecil, dia mengambil motor kesayangannya, kemudian memanaskan mesinnya sebentar. Tasnya yang panjang dicangklongkan di bahu. Wajahnya terlihat cerah. Ayu yang melihat semua itu sempat menggoda.
    “Tumben Jor, pagi-pagi begini udah berangkat. Kangen ya?”
    “Jangan ribut. Ntar kalo aku pulang nggak aku kasi oleh-oleh.”
    “Wah, emang kamu mau bawain oleh-oleh buat saya?” Ayu semangat.
    “Siapa bilang mau bawain oleh-oleh.”
    “Kok tadi nawarin?”
    “Nawarin kan bukan berarti mau memberi.”
    Ayu sebel. Gejor cekikikan.
    “Udah ya. Aku berangkat dulu, kakakku yang cantik.” ujar Gejor pada Ayu, sambil kedip mata menggoda.
    “Dadaaah. Ati-ati ya!”
    “Yo’ i”
    Motor pun beringsut-ingsut meninggalkan pekarangan rumah. Gejor memacunya pelan sambil bernyanyi-nyanyi kecil lagu Damai milik Wayang.
    “Kuhirup udara pagi bersama sinar mentari, kulalui hari ini dengan hati berseri…”.
Ia tidak langsung menuju ke sekolah, melainkan menuju rumah Gung Erick. Katanya mau berangkat sama-sama. Bersama Gung Erick, Gejor kemudian menuju Wartel Kaliunda, rumah Doglo.
    Di depan wartel, Doglo kelihatan lagi asyik memberi makan dan memandikan burung-burungnya. Doglo memang senang memelihara burung. Berbagai jenis burung ia punyai. Ada burung tekukur, burung merpati, dan burung dara. (Lho, apa bedanya?). Tapi yang pasti, burung yang paling disayangnya cuman satu. Nggak tau burung apa itu namanya. (Penasaran?). Dan setiap pagi serta sore, Doglo rajin memandikan serta memberinya makan biar cepat gede. Hi.. hi.. hi… (Kok ketawa?)
    Gejor dan Gung Erick yang baru aja tiba di sana kesal melihat Doglo yang masih pake celana kolor dan kaos oblong belum siap untuk berangkat ke sekolah.
    “Glo, gimana sih kamu? Udah jam tujuh. Ayo dong cepetan berangkat!” ujar Gung Erick.
    “Ah. Bentar aja. Tanggung. Toh ini hari pertama masuk sekolah. Paling nggak ada kegiatan belajar.” jawab Doglo.
    Sementara dari kejauhan tampak Pituh datang. Dan hampir sama dengan Gung Erick, Pituh ngajakin Doglo buat berangkat.
    “Yuk Glo. Berangkat!” ajak Pituh.
    “Entaran”
    “Ya. Payah nih si Doglo.” Gung Erick dan Pituh geleng-geleng kepala.
    “Eh ngomong-ngomong kamu udah mandi Glo?’ tanya Gung Erick.
    “Belum.” jawab Doglo polos.
    “Hah. Jadi dari tadi kamu belum mandi? Wah, gimana sih kamu Glo, masa burungmu aja yang dimandiin, sedangkan kamu sendiri nggak mandi dari tadi.” sambung Pituh.
    “Aku belum mandi bukan sejak tadi Tuh, tapi sejak kemaren” ujar Doglo lebih polos lagi.
    “Waaah. Bagus Glo.” Pituh mengacungkan jempol.
    “Kenapa?” Doglo tampak cuek.
    “Ya jadinya aku nggak perlu susah-susah jika disuruh nyari kambing.” Ha… ha… ha… !!!
    Doglo yang diledek abis-abisan pun akhirnya mandi. Setelah Doglo siap, mereka berempat pun berangkat ke sekolah. Menuju Ekasma yang letaknya di jalan Flamboyan.
    Di sekolah, terlihat murid-murid belum ada yang masuk kelas. Belum kelihatan ada tanda-tanda kegiatan belajar mengajar. Anak-anak  sebagian besar tampak ngerumpi di depan kelasnya masing-masing. Selain itu terlihat pula anak-anak kelas satu baru yang masih tampak kalem-kalem.
    “Wah, lumayan nih. Banyak cewek baru yang cakep di sini.” ujar Gung Erick sambil menebarkan pandangannya ke arah sekumpulan cewek kelas satu baru yang sedang duduk-duduk.
    “Iya nih. Kayaknya aku bakalan lebih semangat masuk sekolah.” sambung Pituh.
    “Huh…, cewek mulu yang diurusin” Doglo mencibir. Sementara Gejor cuman senyum-senyum aja ga ada komentar. Ya, maklum, di antara mereka berempat, Gejor dan Doglo memang nggak berpengalaman dalam masalah cewek.
    “Kita kenalan ama mereka yuk!” ajak Gung Erick.
    “Ayo.” Pituh semangat.
    Gung Erick dan Pituh pun kenalan ama cewek-cewek itu. Berusaha milih mana yang paling cakep. Tapi, walaupun yang kenalan cuman Gung Erick dan Pituh, cewek-cewek itu malah ngelirik Gejor yang nggak ikut join. Sementara, Doglo yang merasa nggak diperhatiin ngeloyor pergi kemudian menarik tangan Gejor untuk mengikutinya. Gung Erick dan Pituh  pun kemudian menyusul.

    *  * *
    Cerita pun terus berlanjut. Yang pasti, pada suatu hari nanti, akan ada suatu cerita cinta dari perkenalan itu. Dan tentunya akan menghiasi persahabatan mereka berempat.

To Be Continued …..
Bandung, Februari 2002

Summit Attack Gede Pangrango (Part 3)

Monday, July 3rd, 2006

    Menuruni jalan berbatu, meninggalkan Puncak Gunung Gede yang baru saja memberikan senyum dan keindahannya padaku. Melalui jalur perjalanan menuju tempat yang menjadi langganan camp para pendaki, Kandang Badak, ternyata di jalur ini juga tidak kalah sedikit manusia-manusia yang ingin mencari senyum dan keindahan Gunung Gede.
    Pukul empat lewat tiga puluh menit, sore. Kandang Badak, telah dipenuhi oleh para pendaki. Aku, Oelil, Sinchan, dan Adek hanya istirahat sebentar di tempat itu. Aku mulai masuk ke tempat yang lebih dalam ke tengah hutan menyusuri jalan setapak kecil yang menuju Puncak Pangrango mencari tempat strategis untuk mendirikan shelter. Bivak didirikan, kayu dikumpulkan, makan malam disiapkan, dan wuah….. nikmatnya malam itu. Hujan tidak turun. Langit yang cerah dengan indahnya meperlihatkan malaikat bintang-bintang padaku. Api unggun menyala dengan girang menghangatkan tubuh yang lelah ini bersama satu nesting kacang ijo yang baru saja menjadi bubur membuat hati yang sombong ini sadar dan bersyukur betapa indah dan berarti nikmatnya anugerah Tuhan. Yang tentunya sungguh berbeda jika setiap suap kacang ijo yang aku makan saat itu dengan setiap suap kacang ijo yang aku makan dari warung indomie rebus di depan kampusku. Yang tentunya berbeda hangatnya tidur dalam sleeping bag berteman api unggun dan dinginnya malam dengan tidur di bawah selimut di atas kasur di dalam sekre atau di dalam kosku. Yang tentunya berbeda jiwa ini sebagai manusia yang kecil di di tengah hutan rimba dalam gelapnya malam dengan jiwa modern yang berkutat dengan gemerlapnya peradaban.
    Pagi-pagi sekali, pukul empat pagi lebih. Aku sengaja bangun lebih pagi walupun mata masih berat. Terpaksa dan harus. Untuk mengejar ketertinggalan waktu perjalanan. Hari ini, Puncak Pangrango harus sudah dicapai dan kembali turun melalui jalur Cibodas. Sarapan pagi yang cukup. Berbekal biskuit dan permen, nasi dan lima butir telor rebus, agar-agar, serta kacang ijo sisa semalam yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, perjalanan menuju Puncak Pangrango pun dilaksanakan. Ransel-ransel dan barang-barang yang kiranya tidak diperlukan hari itu disembunyikan di kerimbunan semak-semak di bawah cerukan pohon besar. Beban berkurang, speed bertambah, semoga target hari ini tercapai, harapku.
    Sedikit berbeda dengan Gunung Gede, Gunung Pangrango dengan hutan yang lebat dan banyaknya pohon-pohon tumbang melintang di setiap jalur perjalanan terlihat sepi akan pendaki. Angin berdesir menyapu peluh yang menetes. Segarnya air pegunungan dalam pevles dan botol air mineral yang bercampur sunfilt serta hembusan-hembusan Djarum Coklat mengiringi sela-sela istirahat. Vegetasi-vegetasi puncak di ketinggian 3000 mdpl Puncak Pangrango bergoyang ditiup angin.
    Summit Attack. Puncak Pangrango, aku tiba. Tak ada kawah, tak ada tebing yang indah, dan tak ada bau belerang. Puncak Pangrango, hanya dikelilingi oleh pepohonan penghuni hutan. Puncak Pangrango, hanya berdiri sebuah tiang beton petunjuk ketinggian dan sebuah gubuk tanpa atap. Puncak Pangrango, hanya dataran yang tidak begitu luas dengan rumput dan bunga-bunga hutan yang dipayungi pepohonan.
    Tak begitu lama aku menghabiskan waktuku di Puncak Pangrango. Kaki ini pun kemudian menuruninya kembali. Dengan tersendat menahan otot paha yang ditarik. Pegal. Dan…, ternyata cepat juga. Kembali lagi ke Kandang Badak. Punggung ini pun juga kembali terbebani oleh ransel, walaupun beratnya telah berbeda dengan hari-hari kemarin. Berjalan dan terus berjalan. Kali ini terus menurun dan hujan. Hujan yang sungguh lebat. Walaupun tubuhku telah terbungkus oleh raincoat, tetap saja basah dan hawa dingin menyelimuti. Berjalan di jalan setapak yang berbatu. Cukup panjang. Melewati bebatuan yang mengalirkan air panas yang bersumber dari kawah Gunung Gede. Uap air yang mengepul dari kejauhan sudah kelihatan. Sedikit cuci muka, perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai yang mengalir di sepanjang lembahan. Dan aku pun tiba di sebuah jalan yang bercabang. Terlihat papan petunjuk jalan tergantung di sebuah tiang yang sengaja dibuat, mungkin oleh petugas jaga wana. Satu menunjuk ke arah darimana aku datang, satu menunjuk ke Cibodas, dan satunya lagi menunjuk ke arah air terjun. Oelil, Sinchan, dan Adek tidak tertarik untuk melihat air terjun yang letaknya tidak begitu jauh, dan tidak pula begitu dekat. Ransel aku tinggalkan menuju air terjun. Berjalan sekitar tiga puluh menit. Tiga air terjun berjejer di tebing-tebing yang begitu indah. Pelangi terlihat di sela-sela deburan air yang membias dari tebing.
    Tapi, aku tidak lama menikmatinya karena berpacu dengan waktu. Ayunan kaki pun dilanjutkan lagi walaupun telapak kaki ini sudah mulai berteriak. Dan…, akhirnya sampai juga. Sebuah pos penjagaan yang lebih besar dari pos penjagaan yang pertama terlihat. Dengan cuek, aku, Oelil, Sinchan, dan Adek melewatinya begitu saja. Tanpa melapor, karena kami tahu, kami naik juga sebenarnya tidak jauh beda dengan tidak melapor.
    Di bawah, kebun raya Cibodas kulewati. Terlihat pula hamparan lapangan golf. Dan Puncak Pangrango yang berselimutkan kabut dengan hijaunya pepohonan di dalamnya. Sedangkan Puncak Gunung Gede, lebih memilih untuk bersembunyi dalam selimut kabut-kabut yang lebih tebal. Mungkin Puncak Gunung yang indah itu enggan untuk didatangi lagi. Atau mungkin ia menyimpan suatu misteri yang tak ingin diungkapkan, seperti diri ini yang tak akan pernah lepas dari yang namanya misteri jiwa dan kehidupan.

Bandung, April 2004