Liburan sudah akan berakhir. Dan hari-hari menjelang ke sekolah merupakan hari-hari yang menderitakan. Sebab jika sudah nggak liburan lagi, nggak bisa nongkrong lagi atau nggak bisa jalan-jalan lagi.
Tapi apakah benar seperti itu?
Nggak juga. Sebab, walaupun liburan udah ada di ujung tanduk, Gejor, Doglo, dan Pituh masih suka juga nongkrong ataupun jalan-jalan. Dan, anggotanya malah nambah satu lagi, Gung Erick.
* * *
Pagi itu, sinar mentari masih tampak remang-remang. Gejor lagi di kamarnya sambil berdendang kecil mengikuti lagu yang mengalun di radio. Tampak di meja belajarnya berserakan beberapa kertas. Sementara buku-bukunya terlihat memenuhi rak yang memanjang di bagian atas meja belajarnya. Gejor memang rajin belajar. Makanya koleksi buku-buku yang ia miliki pun cukup banyak. Ada Donal Bebek, Doraemon, sampai Ksatria Baja Hitam. Emang buku-bukunya rata-rata semua pada gokil. Katanya bisa dipake sebagai hiburan jika abis pusing-pusing dengan hapalan rumus-rumus Kimia.
Sementara Gejor terlihat asyik menulis sesuatu, Ayu yang pagi itu juga udah bangun iseng menghampirinya.
“Eh, Jor. Lagi ngerjain apaan? Kayaknya serius amat, sampai nggak nyadar ada bidadari cantik yang datang”
Gejor menoleh. Di sampingnya udah berdiri Ayu.
“Oh, sori. Kirain kucing”.
“Sialan”
Ayu mengintip apa yang ditulis Gejor.
“Apaan tuh Jor?”
“Oh, ini formulir buat pengurus Osis. Kan aku di sekolah jadi pengurus Osis. Walaupun tugasnya cuman ngurus-ngurus urusan yang nggak perlu diurus.” jawab Gejor seenaknya.
Ayu merhatiin dengan seksama formulir Gejor.
“Kok formulir pengurus Osis isi gambar bunga-bunga gitu?’
“Wah, ini di baliknya malah isi gambar Crayon Sinchan segala. Aneh bin ajaib ya?”
Keduanya ketawa bareng.
Selang beberapa menit kemudian Ayu keluar dari kamar Gejor. Sementara Gejor udah siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Weker di samping tempat tidur Gejor nunjukin pukul enam lewat lima menit. Mungkin karena kangen ama teman-temannya, Gejor berangkatnya pagi-pagi sekali.
Dengan bersiul-siul kecil, dia mengambil motor kesayangannya, kemudian memanaskan mesinnya sebentar. Tasnya yang panjang dicangklongkan di bahu. Wajahnya terlihat cerah. Ayu yang melihat semua itu sempat menggoda.
“Tumben Jor, pagi-pagi begini udah berangkat. Kangen ya?”
“Jangan ribut. Ntar kalo aku pulang nggak aku kasi oleh-oleh.”
“Wah, emang kamu mau bawain oleh-oleh buat saya?” Ayu semangat.
“Siapa bilang mau bawain oleh-oleh.”
“Kok tadi nawarin?”
“Nawarin kan bukan berarti mau memberi.”
Ayu sebel. Gejor cekikikan.
“Udah ya. Aku berangkat dulu, kakakku yang cantik.” ujar Gejor pada Ayu, sambil kedip mata menggoda.
“Dadaaah. Ati-ati ya!”
“Yo’ i”
Motor pun beringsut-ingsut meninggalkan pekarangan rumah. Gejor memacunya pelan sambil bernyanyi-nyanyi kecil lagu Damai milik Wayang.
“Kuhirup udara pagi bersama sinar mentari, kulalui hari ini dengan hati berseri…”.
Ia tidak langsung menuju ke sekolah, melainkan menuju rumah Gung Erick. Katanya mau berangkat sama-sama. Bersama Gung Erick, Gejor kemudian menuju Wartel Kaliunda, rumah Doglo.
Di depan wartel, Doglo kelihatan lagi asyik memberi makan dan memandikan burung-burungnya. Doglo memang senang memelihara burung. Berbagai jenis burung ia punyai. Ada burung tekukur, burung merpati, dan burung dara. (Lho, apa bedanya?). Tapi yang pasti, burung yang paling disayangnya cuman satu. Nggak tau burung apa itu namanya. (Penasaran?). Dan setiap pagi serta sore, Doglo rajin memandikan serta memberinya makan biar cepat gede. Hi.. hi.. hi… (Kok ketawa?)
Gejor dan Gung Erick yang baru aja tiba di sana kesal melihat Doglo yang masih pake celana kolor dan kaos oblong belum siap untuk berangkat ke sekolah.
“Glo, gimana sih kamu? Udah jam tujuh. Ayo dong cepetan berangkat!” ujar Gung Erick.
“Ah. Bentar aja. Tanggung. Toh ini hari pertama masuk sekolah. Paling nggak ada kegiatan belajar.” jawab Doglo.
Sementara dari kejauhan tampak Pituh datang. Dan hampir sama dengan Gung Erick, Pituh ngajakin Doglo buat berangkat.
“Yuk Glo. Berangkat!” ajak Pituh.
“Entaran”
“Ya. Payah nih si Doglo.” Gung Erick dan Pituh geleng-geleng kepala.
“Eh ngomong-ngomong kamu udah mandi Glo?’ tanya Gung Erick.
“Belum.” jawab Doglo polos.
“Hah. Jadi dari tadi kamu belum mandi? Wah, gimana sih kamu Glo, masa burungmu aja yang dimandiin, sedangkan kamu sendiri nggak mandi dari tadi.” sambung Pituh.
“Aku belum mandi bukan sejak tadi Tuh, tapi sejak kemaren” ujar Doglo lebih polos lagi.
“Waaah. Bagus Glo.” Pituh mengacungkan jempol.
“Kenapa?” Doglo tampak cuek.
“Ya jadinya aku nggak perlu susah-susah jika disuruh nyari kambing.” Ha… ha… ha… !!!
Doglo yang diledek abis-abisan pun akhirnya mandi. Setelah Doglo siap, mereka berempat pun berangkat ke sekolah. Menuju Ekasma yang letaknya di jalan Flamboyan.
Di sekolah, terlihat murid-murid belum ada yang masuk kelas. Belum kelihatan ada tanda-tanda kegiatan belajar mengajar. Anak-anak sebagian besar tampak ngerumpi di depan kelasnya masing-masing. Selain itu terlihat pula anak-anak kelas satu baru yang masih tampak kalem-kalem.
“Wah, lumayan nih. Banyak cewek baru yang cakep di sini.” ujar Gung Erick sambil menebarkan pandangannya ke arah sekumpulan cewek kelas satu baru yang sedang duduk-duduk.
“Iya nih. Kayaknya aku bakalan lebih semangat masuk sekolah.” sambung Pituh.
“Huh…, cewek mulu yang diurusin” Doglo mencibir. Sementara Gejor cuman senyum-senyum aja ga ada komentar. Ya, maklum, di antara mereka berempat, Gejor dan Doglo memang nggak berpengalaman dalam masalah cewek.
“Kita kenalan ama mereka yuk!” ajak Gung Erick.
“Ayo.” Pituh semangat.
Gung Erick dan Pituh pun kenalan ama cewek-cewek itu. Berusaha milih mana yang paling cakep. Tapi, walaupun yang kenalan cuman Gung Erick dan Pituh, cewek-cewek itu malah ngelirik Gejor yang nggak ikut join. Sementara, Doglo yang merasa nggak diperhatiin ngeloyor pergi kemudian menarik tangan Gejor untuk mengikutinya. Gung Erick dan Pituh pun kemudian menyusul.
* * *
Cerita pun terus berlanjut. Yang pasti, pada suatu hari nanti, akan ada suatu cerita cinta dari perkenalan itu. Dan tentunya akan menghiasi persahabatan mereka berempat.
To Be Continued …..
Bandung, Februari 2002