Summit Attack Gede Pangrango (Part 3)
Menuruni jalan berbatu, meninggalkan Puncak Gunung Gede yang baru saja memberikan senyum dan keindahannya padaku. Melalui jalur perjalanan menuju tempat yang menjadi langganan camp para pendaki, Kandang Badak, ternyata di jalur ini juga tidak kalah sedikit manusia-manusia yang ingin mencari senyum dan keindahan Gunung Gede.
Pukul empat lewat tiga puluh menit, sore. Kandang Badak, telah dipenuhi oleh para pendaki. Aku, Oelil, Sinchan, dan Adek hanya istirahat sebentar di tempat itu. Aku mulai masuk ke tempat yang lebih dalam ke tengah hutan menyusuri jalan setapak kecil yang menuju Puncak Pangrango mencari tempat strategis untuk mendirikan shelter. Bivak didirikan, kayu dikumpulkan, makan malam disiapkan, dan wuah….. nikmatnya malam itu. Hujan tidak turun. Langit yang cerah dengan indahnya meperlihatkan malaikat bintang-bintang padaku. Api unggun menyala dengan girang menghangatkan tubuh yang lelah ini bersama satu nesting kacang ijo yang baru saja menjadi bubur membuat hati yang sombong ini sadar dan bersyukur betapa indah dan berarti nikmatnya anugerah Tuhan. Yang tentunya sungguh berbeda jika setiap suap kacang ijo yang aku makan saat itu dengan setiap suap kacang ijo yang aku makan dari warung indomie rebus di depan kampusku. Yang tentunya berbeda hangatnya tidur dalam sleeping bag berteman api unggun dan dinginnya malam dengan tidur di bawah selimut di atas kasur di dalam sekre atau di dalam kosku. Yang tentunya berbeda jiwa ini sebagai manusia yang kecil di di tengah hutan rimba dalam gelapnya malam dengan jiwa modern yang berkutat dengan gemerlapnya peradaban.
Pagi-pagi sekali, pukul empat pagi lebih. Aku sengaja bangun lebih pagi walupun mata masih berat. Terpaksa dan harus. Untuk mengejar ketertinggalan waktu perjalanan. Hari ini, Puncak Pangrango harus sudah dicapai dan kembali turun melalui jalur Cibodas. Sarapan pagi yang cukup. Berbekal biskuit dan permen, nasi dan lima butir telor rebus, agar-agar, serta kacang ijo sisa semalam yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, perjalanan menuju Puncak Pangrango pun dilaksanakan. Ransel-ransel dan barang-barang yang kiranya tidak diperlukan hari itu disembunyikan di kerimbunan semak-semak di bawah cerukan pohon besar. Beban berkurang, speed bertambah, semoga target hari ini tercapai, harapku.
Sedikit berbeda dengan Gunung Gede, Gunung Pangrango dengan hutan yang lebat dan banyaknya pohon-pohon tumbang melintang di setiap jalur perjalanan terlihat sepi akan pendaki. Angin berdesir menyapu peluh yang menetes. Segarnya air pegunungan dalam pevles dan botol air mineral yang bercampur sunfilt serta hembusan-hembusan Djarum Coklat mengiringi sela-sela istirahat. Vegetasi-vegetasi puncak di ketinggian 3000 mdpl Puncak Pangrango bergoyang ditiup angin.
Summit Attack. Puncak Pangrango, aku tiba. Tak ada kawah, tak ada tebing yang indah, dan tak ada bau belerang. Puncak Pangrango, hanya dikelilingi oleh pepohonan penghuni hutan. Puncak Pangrango, hanya berdiri sebuah tiang beton petunjuk ketinggian dan sebuah gubuk tanpa atap. Puncak Pangrango, hanya dataran yang tidak begitu luas dengan rumput dan bunga-bunga hutan yang dipayungi pepohonan.
Tak begitu lama aku menghabiskan waktuku di Puncak Pangrango. Kaki ini pun kemudian menuruninya kembali. Dengan tersendat menahan otot paha yang ditarik. Pegal. Dan…, ternyata cepat juga. Kembali lagi ke Kandang Badak. Punggung ini pun juga kembali terbebani oleh ransel, walaupun beratnya telah berbeda dengan hari-hari kemarin. Berjalan dan terus berjalan. Kali ini terus menurun dan hujan. Hujan yang sungguh lebat. Walaupun tubuhku telah terbungkus oleh raincoat, tetap saja basah dan hawa dingin menyelimuti. Berjalan di jalan setapak yang berbatu. Cukup panjang. Melewati bebatuan yang mengalirkan air panas yang bersumber dari kawah Gunung Gede. Uap air yang mengepul dari kejauhan sudah kelihatan. Sedikit cuci muka, perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai yang mengalir di sepanjang lembahan. Dan aku pun tiba di sebuah jalan yang bercabang. Terlihat papan petunjuk jalan tergantung di sebuah tiang yang sengaja dibuat, mungkin oleh petugas jaga wana. Satu menunjuk ke arah darimana aku datang, satu menunjuk ke Cibodas, dan satunya lagi menunjuk ke arah air terjun. Oelil, Sinchan, dan Adek tidak tertarik untuk melihat air terjun yang letaknya tidak begitu jauh, dan tidak pula begitu dekat. Ransel aku tinggalkan menuju air terjun. Berjalan sekitar tiga puluh menit. Tiga air terjun berjejer di tebing-tebing yang begitu indah. Pelangi terlihat di sela-sela deburan air yang membias dari tebing.
Tapi, aku tidak lama menikmatinya karena berpacu dengan waktu. Ayunan kaki pun dilanjutkan lagi walaupun telapak kaki ini sudah mulai berteriak. Dan…, akhirnya sampai juga. Sebuah pos penjagaan yang lebih besar dari pos penjagaan yang pertama terlihat. Dengan cuek, aku, Oelil, Sinchan, dan Adek melewatinya begitu saja. Tanpa melapor, karena kami tahu, kami naik juga sebenarnya tidak jauh beda dengan tidak melapor.
Di bawah, kebun raya Cibodas kulewati. Terlihat pula hamparan lapangan golf. Dan Puncak Pangrango yang berselimutkan kabut dengan hijaunya pepohonan di dalamnya. Sedangkan Puncak Gunung Gede, lebih memilih untuk bersembunyi dalam selimut kabut-kabut yang lebih tebal. Mungkin Puncak Gunung yang indah itu enggan untuk didatangi lagi. Atau mungkin ia menyimpan suatu misteri yang tak ingin diungkapkan, seperti diri ini yang tak akan pernah lepas dari yang namanya misteri jiwa dan kehidupan.
Bandung, April 2004