Archive for August, 2006

Peri Kecil Bersayap Perak

Tuesday, August 22nd, 2006

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan kata yang tak sempat
        Diucapkan kayu kepada api
        Yang menjadikannya abu

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan isyarat yang tak sempat
        Disampaikan awan kepada hujan
        Yang menjadikannya tiada

 
        Ada pelangi ketika itu. Menuntun untuk belajar lagi lebih banyak. Ternyata seperti itu. Dan kenapa rasa itu ada. Entahlah. Dan ketika itu pula aku tak ingin terhanyut. Indah. Memang benar hidup itu harus dijalani. Setiap hari dengan sepenuh hati. Aku tak sepenuhnya bisa mengerti. Ada senyumnya di sana. Dan di antara belaian batas-batas hutannya. Di dalam ramahnya api unggun yang membara. Aku bawa dan terima itu semua. Antara senyum dan tawa. Terima kasih.
        Waktu mengalun setiap hari. Apaan sih? Ternyata semua yang tak terpenuhi punya arti sendiri. Indah ya. Pelangi di atas sana. Saat ini aku terlena. Pucuk-pucuk cemara yang menghijau. Membangkitkan luka yang indah. Ingin kembali. Atau hanya berselang beberapa minggu yang lalu. Atau mungkin bertahun-tahun yang lalu.
        Kenapa. Ada yang menyenangkan. Di sela-sela senyumnya. Di batas-batas jurangnya. Aku rindu. Hei. Aneh. Ketika aku buka lagi sekian waktu ke belakang. Masihkah itu ada. Apapun yang terjadi. Hanya akan kujalani. Setiap hari dengan sepenuh hati.
        Ketika sayup-sayup alunan melodi dari kesunyian itu membangunkan. Nggak? Atau iya? Sebaiknya jangan. Jaga rasa itu. Di batas-batas malam yang sudutnya berbeda. Hei, kamu lagi jatuh cinta ya?
        Bintang-bintang. Dingin sekali malam ini. Ingin kunyanyikan sesuatu. Ditemani gemericik air terjun kecil di sana. Atau aku ingin terlelap. Membiarkan semuanya berlalu.
        Padahal sebenarnya, aku merasa tak berarti. Bukan saja dari senyumnya. Jauh dari semuanya. Aku jadi membayangkan suasana rumah dan rumah lagi. Dan saat-saat seperti ini aku di sini. Di mana mereka? Aku rindu. Lembayung Bali. Nan indah. Benarkah? Padahal setiap orang mungkin mengalami hal yang sama.
        Dan senyumku bangkit lagi. Ketika aku tahu mereka ada untukku. Semua teman dan malaikat di jalanku. Tapi kadang redup lagi. Ketika tahu mereka tak di sampingku. Kok jadi sedih. Nggak. Cuman tiba-tiba aja bisa teringat mereka.
        Waktu terus berputar. Itu saja. Setiap saat pasti terlewati. Dan tak bisa dihindari.
        Kembali lagi kepadamu. Peri kecil bersayap perak. Senyummu manis. Di antara semilir angin di padang rumput dan kepakan sayap burung-burung sabana. Aku mulai berharap baik-baik saja. Di antara pucuk-pucuk dedaunan dan air yang mengalir. Aku mulai takut terbawa cinta.
        Hei, sudah hampir subuh. Sudahilah. Walaupun hanya sampai di sini. Esok atau lusa disambung lagi. Biarkan air itu mengalir sampai jauh. Dan kabut menuntunmu sepenuh cinta, ke ujung-ujung langit.

Poem Lyrics Taken from Sapardi Joko Damono
Bandung, Agustus 2006

Sebuah Kisah Klasik Praktikum Fisika yang Asyik

Tuesday, August 8th, 2006

Iseng korek-korek lagi tulisan-tulisan di folder dokumen komputer gw.
Nemu puisi ini. Jadi inget ketika dulu. Rindu.
Semester-semester awal di STT Telkom. Di praktikum akhir Fisika.
Di pagi dingin itu gw terbangun. Teringat belum bikin TP.
TP terakhir cuman bikin feed back. Bingung bikin apa.
Dengan mata berat karena maksa buat bangun, jadilah sebuah feed back.
Salah satunya adalah puisi. Kurang lebih isinya seperti ini.

* * *

Di suatu pagi yang indah sekali
Weker jahat telah berbunyi
Namun aku tak mau ambil peduli
Kulemparkan ia ke dalam lemari
Dan kurapatkan selimutku lagi

Tetapi…
Kata hati memaki-maki
Mengingatkan kewajiban yang harus kujalani
Praktikum Fisika di pagi hari

Oh sedihnya hati ini
Bergegas kupergi karena tak sempat mandi
Menuju lab Fisika yang telah menanti

Dengan sebuah modul di tangan
Dan memakai jas biru yang menawan
Kuberjalan sambil memasang wajah tampan
Dengan gaya seorang pria masa depan

Di depan pintu
Asisten telah menunggu
Lalu tersenyum memandangku… dan terus memandangku
Oh… Aku menjadi tersipu malu
Kupikir ia terpana akan diriku
Tapi… Setelah kutahu
Ternyata aku lupa memakai baju

Setelah aku kembali
Asisten pun tersenyum penuh arti
Diberinya aku tes awal yang susahnya setengah mati
Namun tetap kukerjakan dengan senang hati

Asisten-asistenku yang keren
Yang lebih keren dari Supermen
Ajarilah kami dengan telaten
Agar menjadi mahasiwa yang paten

Oh akang dan teteh asistenku
Tahukah dirimu
Bahwa jauh di dalam lubuk hatiku
Ingin kuterbang ke langit biru
Untuk melukis wajahmu di situ
Sebagai ucapan tanda terima kasihku

Bandung, November 2001