Peri Kecil Bersayap Perak

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan kata yang tak sempat
        Diucapkan kayu kepada api
        Yang menjadikannya abu

        Aku ingin mencintaimu
        Dengan sederhana
        Dengan isyarat yang tak sempat
        Disampaikan awan kepada hujan
        Yang menjadikannya tiada

 
        Ada pelangi ketika itu. Menuntun untuk belajar lagi lebih banyak. Ternyata seperti itu. Dan kenapa rasa itu ada. Entahlah. Dan ketika itu pula aku tak ingin terhanyut. Indah. Memang benar hidup itu harus dijalani. Setiap hari dengan sepenuh hati. Aku tak sepenuhnya bisa mengerti. Ada senyumnya di sana. Dan di antara belaian batas-batas hutannya. Di dalam ramahnya api unggun yang membara. Aku bawa dan terima itu semua. Antara senyum dan tawa. Terima kasih.
        Waktu mengalun setiap hari. Apaan sih? Ternyata semua yang tak terpenuhi punya arti sendiri. Indah ya. Pelangi di atas sana. Saat ini aku terlena. Pucuk-pucuk cemara yang menghijau. Membangkitkan luka yang indah. Ingin kembali. Atau hanya berselang beberapa minggu yang lalu. Atau mungkin bertahun-tahun yang lalu.
        Kenapa. Ada yang menyenangkan. Di sela-sela senyumnya. Di batas-batas jurangnya. Aku rindu. Hei. Aneh. Ketika aku buka lagi sekian waktu ke belakang. Masihkah itu ada. Apapun yang terjadi. Hanya akan kujalani. Setiap hari dengan sepenuh hati.
        Ketika sayup-sayup alunan melodi dari kesunyian itu membangunkan. Nggak? Atau iya? Sebaiknya jangan. Jaga rasa itu. Di batas-batas malam yang sudutnya berbeda. Hei, kamu lagi jatuh cinta ya?
        Bintang-bintang. Dingin sekali malam ini. Ingin kunyanyikan sesuatu. Ditemani gemericik air terjun kecil di sana. Atau aku ingin terlelap. Membiarkan semuanya berlalu.
        Padahal sebenarnya, aku merasa tak berarti. Bukan saja dari senyumnya. Jauh dari semuanya. Aku jadi membayangkan suasana rumah dan rumah lagi. Dan saat-saat seperti ini aku di sini. Di mana mereka? Aku rindu. Lembayung Bali. Nan indah. Benarkah? Padahal setiap orang mungkin mengalami hal yang sama.
        Dan senyumku bangkit lagi. Ketika aku tahu mereka ada untukku. Semua teman dan malaikat di jalanku. Tapi kadang redup lagi. Ketika tahu mereka tak di sampingku. Kok jadi sedih. Nggak. Cuman tiba-tiba aja bisa teringat mereka.
        Waktu terus berputar. Itu saja. Setiap saat pasti terlewati. Dan tak bisa dihindari.
        Kembali lagi kepadamu. Peri kecil bersayap perak. Senyummu manis. Di antara semilir angin di padang rumput dan kepakan sayap burung-burung sabana. Aku mulai berharap baik-baik saja. Di antara pucuk-pucuk dedaunan dan air yang mengalir. Aku mulai takut terbawa cinta.
        Hei, sudah hampir subuh. Sudahilah. Walaupun hanya sampai di sini. Esok atau lusa disambung lagi. Biarkan air itu mengalir sampai jauh. Dan kabut menuntunmu sepenuh cinta, ke ujung-ujung langit.

Poem Lyrics Taken from Sapardi Joko Damono
Bandung, Agustus 2006

One Response to “Peri Kecil Bersayap Perak”

  1. Isack Fals Says:

    Kata-kata mu mantap juga jor.Sering-sering aja nulis.Salute deh.

Leave a Reply