Archive for October, 2006

Carpe Diem

Monday, October 23rd, 2006

     Setiap hari Afrika mengawali pagi
     Seekor rusa bangun
     Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat
     Dari seekor singa yang tercepat
     Atau ia akan terbunuh

     Setiap pagi seekor singa bangun
     Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat
     Atau ia akan mati kelaparan

     Tidak masalah
     Apakah kau adalah seekor singa atau seekor rusa
     Ketika matahari terbit
     Lebih baik kau mulai berlari

     Bait terakhir di atas berusaha untuk mengingatkan kepada kita untuk segera memulai hari yang indah ini. Hari ini adalah hari ini. Hari kemarin telah tertinggal dan tak ada satupun usaha yang dapat mengembalikannya kembali. Kita telah melewati lorong waktu yang disediakan. Tak peduli apakah kita seekor singa ataupun seekor rusa seperti yang dikutip dari puisi tradisional Afrika di atas. Tak peduli apakah kita seorang mahasiswa, karyawan, pengusaha, tukang kayu, tukang sampah, ataupun pengangguran. Sering kita bernostalgia terhadap hal-hal yang telah dilakukan, menoleh kembali ke arah belakang. Tapi membiarkan diri berlarut-larut olehnya dan memaksakan kehadirannya dengan membuat perbandingan-perbandingan yang sudah tidak sesuai membuat kita hidup dengan mimpi-mimpi di masa lalu.
     Janus, nama salah satu dewa bangsa Romawi yang digunakan sebagai nama bulan yang pertama, digambarkan sebagai dewa dengan dua wajah. Satu wajahnya menghadap ke belakang dan satu lagi menghadap ke depan. Kita diberi pilihan berjalan, dan arah manakah yang akan kita tempuh? Arahkanlah diri kita pada apa yang ada di depan karena masa lalu telah lewat.
     Semua manusia memiliki kesempatan yang sama dengan talenta yang berbeda-beda. Kita diberi 24 jam sehari, 60 menit per jam, dan 60 detik per menit. Setiap hari kita disapa dengan cerahnya sinar matahari serta heningnya suasana di malam hari. Masalahnya hanyalah berapa bagian dari jumlah itu yang kita pergunakan dengan baik. Apakah kita ingin berada di tengah suasana cerahnya matahari atau lari darinya, berada dalam keheningan malam atau menempatkan diri di tengah hiruk pikuknya kehidupan.
     Setiap detik yang berjalan memiliki arti tersendiri. Betapa bahagianya seandainya kita bisa mengerti arti detik demi detik yang berjalan tersebut dan tidak menyia-nyiakannya. Demikian halnya dengan talenta. Apapun yang akan kita lakukan hari ini akan memberi suatu warna tersendiri bagi dunia ini. Dan warna yang kita miliki berbeda-beda. Saya akan memberinya warna hitam dan Anda akan memberinya warna kuning. Sang petugas keamanan akan memberinya warna hijau muda. Kuli bangunan memberinya warna oranye. Dan perawat memberinya warna putih. Lihatlah, dunia ini telah memperlihatkan kompleksitas warna dan ia terus berputar bersama waktu tanpa menunggu siapapun.
     Carpe Diem. Rebut hari ini! Sang singa tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lemah dan sang rusa juga tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat. Demikian juga dengan kita manusia yang harus tahu bahwa kita harus melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan. Begitu banyak yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk memberi warna dunia ini. Kita isi dengan apa selama dua puluh empat jam ke depan sehingga kita bisa berkata "Hari ini milikku!".
     Kita boleh saja memiliki rencana-rencana selama satu bulan ke depan, setahun, bahkan beberapa tahun. Namun rencana sebagus apapun tidaklah lebih baik dari sebuah langkah nyata. Kenyataannya adalah di hari ini dan saat ini, membuat detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam menjadi berarti bagi kita.
     Dan tindakan yang sebaiknya kita lakukan secepat mungkin adalah memulainya dari sekarang.
     Ayo kawan. Carpe Diem! Rebut hari ini!

Taken from Antonius Satya Wanadri - Carpe Diem
Bandung, Oktober 2006

Ketika Hari Itu Tiba (Her Weddings Day)

Thursday, October 12th, 2006

    Kawanku bercerita tentang dirinya. Tentang pohon, yang membiarkan daunnya terbang terbawa angin. Kenapa? Penyesalan itu selalu menakutkan? Kadang kita tak tahu apa yang harus kita lakukan. Tapi hati kita biasanya memiliki kekuatan untuk menerka apa yang mungkin akan terjadi. Dan ada kalanya kita tak mau ambil peduli. Kadang membiarkannya berlalu begitu saja. Padahal dengan melakukan suatu langkah kecil, kita bisa mengubah segalanya. Kenapa ya? Kadang hal yang kita tahu itu, tidak kita lakukan? Dan itu termasuk aku juga.
    Percaya nggak kamu dengan suatu perasaan aneh yang bisa menggambarkan sesuatu di masa depan. Dan entah hanya perasaan atau itu hanya ilusi, entahlah, kadang hal itu ada juga. Pada diriku. Mungkin juga pada dirimu. Ketika kita menerka-nerka, apa yang akan terjadi suatu hari nanti.
    Seperti misalnya kita mengkhawatirkan sesuatu. Yang sebenarnya sudah bisa kita terka. Saat kita masih berharap. Dan waktu yang dimiliki semakin sedikit. Bertanya dan bertanya. Sampai kapan?
    Memang menyedihkan kalau seandainya kita menakutkan sesuatu. Dan itu pun terjadi. Mau tidak mau. Tidak ada pilihan lain. Saat itu akan tetap terlewati. Dan itu juga terjadi karena langkah-langkah sebelumnya yang kita ambil.
    Dulu, kita mungkin punya mimpi. Punya harapan. Yang indah tentunya. Di lain pihak, ada juga mimpi buruk yang kita takutkan. Dan saat inilah waktu terwujudkannya. Karena masa depan dari masa lalu kita adalah hari ini.
    Bagaimana kalau seandainya harapan kita tak sesuai kenyataan? Dan malah hal buruk yang kita takutkan yang terjadi? Seperti saat ini. Ketika kamu bercerita padaku. Ketika kamu menjadi bersedih. Pilihanmu menjadi semakin sedikit. Bahkan tidak bisa memilih lagi. Itu nyata. Dan memang terjadi. Dan nggak mungkin lagi kamu miliki.
    Sebenarnya aku enggan untuk mengutarakan tentang cinta di sini. Tapi ceritamu toh tentang itu. Dulu. Sekali lagi dulu. Yang tak bisa kita raih lagi. Banyak orang-orang di sekitar kita. Saat masih bersama mereka, kita tertawa, atau kadang kita menangis. Semuanya berjalan. Biasa saja. Dan ada kalanya kita tak begitu memperdulikannya. Karena kita masih bisa bersama mereka.
    Tetapi sekarang ketika mereka tak ada, atau mungkin hilang, masa itu menjadi sangat berharga. Orang-orang di sekitar kita itu sungguh tak terlupakan. Kita malah menjadi bersedih, ketika tahu mereka tak ada lagi bersama kita. Walaupun seandainya masih bisa bersama, tapi suasananya tentu saja berbeda. Sekarang bukan lagi dulu kawan.
    Suatu kesempatan yang kalau kita pikir-pikir lagi adalah hal yang sangat hebat bagi kita ketika kita mau mengambilnya. Tapi apa pada kenyataannya? Seringkali kita egois, malu, malas, atau enggan untuk melakukan hal yang sebenarnya adalah yang terbaik buat kita. Dan ujung-ujungnya akan timbul suatu penyesalan. Dan di manapun atau kapanpun, bagiku penyesalan merupakan suatu hal yang sangat menakutkan.
    Kembali lagi tentang cinta, tentang pohon, tentang daun, tentang angin, dan tentang penyesalan yang kamu ceritakan. Mungkin cerita tentang kamu. Atau tentang temanmu. Atau tentang aku. Atau tidak tentang siapa-siapa. Hanya sebuah tokoh dalam hidup ini. Dan kusebut saja itu kamu, karena kamu yang telah bercerita kepadaku.
    Ketika kamu masih memiliki kesempatan bersama pujaan hatimu. Seseorang yang sangat begitu memperhatikan kamu. Selalu ada dalam kebersamaan denganmu. Ketika kamu dalam kesulitan, rela melakukan apa saja untukmu. Atau ketika kamu pergi, dia menangis menunggu. Yang kamu tahu ketika ia masih bersamamu, kamu acuh tak acuh. Tak begitu peduli. Padahal jauh di dalam hati, kamu selalu berkata, ia sungguh begitu berarti.
    Seseorang yang selalu bersamamu. Mungkin hanya seorang sahabat. Semasa kecil. Melalui hari bersama. Yang selalu dengan gembira kamu bercerita tentang kisahnya. Aku tak begitu tahu. Yang ternyata, tanpa diduga, kamu telah jatuh hati padanya. Hanya saja enggan untuk memilikinya. Mengatakannya. Begitu ceritamu. Sekali lagi ceritamu. Padaku.
    Dengannya kamu bercerita tentang hidupmu. Bercerita tentang keberhasilanmu, kehebatanmu. Bercerita tentang segala keluh kesahmu. Bercerita tentang pacar-pacarmu. Atau dengannya kamu menceritakan bagaimana kisah ciuman pertamamu.
    Beugh… dan itu terlihat di matanya, begitu mendengar ucapanmu. Ia begitu memperhatikanmu. Dan selintas terlihat ada kesedihan di matanya. Tentang beda sosial yang ada, tentang cinta sejati yang tak pernah terucap, yang sebenarnya saat seperti itu adalah waktunya. Padahal kamu sangat tahu itu. Kita tahu itu. Masih saja kamu tak mau peduli.
    Dan ketika waktu berjalan dan berganti. Ia pun juga bercerita. Angin datang menerpa. Layaknya seperti cerita yang kamu ceritakan padaku. Pujaan hati telah datang menghampiri. Seorang pujaan yang baik hati dan begitu mencintai. Kamu mendengarkan ceritanya. Dan kamu tak bisa memperlihatkan sakit hati saat itu. Malah acuh tak acuh. Seperti membiarkan begitu saja. Tegar seperti karang, padahal hati hancur bukan kepalang. Ia pun sedih melihatmu seperti itu. Padahal mungkin ia berharap melihatmu untuk melakukan sesuatu. Tapi…, sudahlah, begitu katamu. Seperti mengulur waktu demi waktu. Aku masih ingin bersama yang lain. Berdendang dan bernyanyi. Suatu hari nanti, aku akan mengatakannya, dan hidup bersamanya, begitu jawabmu.
    Bodoh sekali kamu membiarkannya begitu saja. Itu menurutku tentangmu. Walaupun kalau aku menjadi kamu, bisa saja hal serupa juga kulakukan. Cuma, kenapa membiarkan itu berlalu. Bukankah dia begitu berharga untukmu? Tanyaku, sampai kapan?
    Saat ini harus kamu lakukan, kataku. Tapi, kamu masih mengulur waktu dan membiarkan semuanya berlalu. Masih ada waktu, katamu. Ya sudahlah.
    Suatu hari, kamu bercerita lagi, ternyata yang lebih menakutkan akhirnya terjadi. Hari itu tiba.
    Beugh… Menangislah dirimu. Sudah terlambat. Apa artinya hidupmu. Seumur hidup membiarkannya berlalu.
    Tatapan matanya menyejukkan. Helai rambutnya mempesona. Senyumnya manis, menghias wajahnya. Masa-masa yang telah lalu. Saat dengan suka cita kamu berbagi cerita bersamanya. Semua itu baru kamu kenang sekarang. Ketika ia mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang berlinang. 
    Dan ketika hari itu akhirnya tiba, kamu akhirnya tak bisa untuk menahan air mata. Harapan suatu hari nanti kamu akan mengatakannya. Harapan suatu hari nanti kamu akan bersamanya. Hilang sudah. Masa yang kamu takutkan itu pun terjadi. Yang sebenarnya telah kamu tahu. Dan bisa dilakukan supaya mimpi burukmu itu tak terjadi. Tapi, sudahlah. Toh itu telah terjadi. Menangislah. Sampai mati pun tak kan bisa mengubah lagi.
    Hhhh… seperti telenovela saja. Akhirnya cerita tentang angin yang menerbangkan daun dari pohon membuatmu menangis dan menyesal. Sudah terlambat. 
    Penyesalan itu memang selalu menakutkan. Semuanya sudah punya jalannya sendiri. Dan itu mungkin telah menjadi jalan untukmu, untuknya. Aku turut berduka. Walaupun aku juga tak tahu bagaimana aku harus menempuh jalanku. Setiap orang juga punya jalannya sendiri. Kadang duka, kadang suka. Dan kadang ketika kita tidak bisa berbalik lagi, untuk memilih sesuatu yang kita inginkan, hanya saja karena salah melangkah, atau mungkin terlambat melangkah, berubahlah semuanya. Masa depan tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak bisa memenuhi harapan. Entah apa lagi yang akan terjadi suatu hari nanti. Semoga kita bisa selalu menjalani dengan sepenuh hati.
    Angin telah menerbangkan daun. Dari pohon yang membiarkannya pergi. Dan semua itu pun terjadi. Tak bisa dihindari. Hujan pun rintik-rintik. Membasahi lentik matamu. Mengalir ke sungai-sungai yang mengalir berkilau keemasan. Membawaku, membawamu, dirinya, dan mereka, berjalan seiring dengan waktu dan hari, yang terus berganti, dan tak mungkin akan bisa diputar kembali.

Bandung, Oktober 2006

Pohon, Daun, dan Angin

Wednesday, October 11th, 2006

Pohon

        Alasan mengapa orang-orang memanggilku "Pohon" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran dengan lima orang wanita ketika aku masih di SMA. Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya.

        Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dan sebagainya, dia sangat peduli dengan orang lain dan religius tapi dia hanya wanita biasa saja. Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

        Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

        Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama tiga tahun ini. Dia tahu aku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama tiga tahun.

        Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata "lanjutkan saja" dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak dan merah.

        Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, tapi aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepak bola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejam-an.

        Pacarku yang keempat tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.

        Ketika aku putus dengan pacarku yang kelima, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.

        Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.

        Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di handphoneku. SMS itu dikirim sepuluh hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis. SMS itu berbunyi, "Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?".

* * *

Daun

        Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa?

        Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.

        Selama tiga tahun di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "Sahabat". Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya -CEMBURU. Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama dua bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

        Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah?

        Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik di luar perlakuannya hanya untuk seorang teman?

        Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan?

        Di luar itu, aku mau tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu teleponnya setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tahu sesibuk apapun dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku menunggunya. Tiga tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tatap menunggu. Luka dan sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama tiga tahun ini.

        Ketika diakhir tahun ketiga, seorang pria mengejarku, dia adalah adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan-penolakan yang telah ditunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil di hatiku.

        Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku.

        Aku tahu Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ke tempat yang lebih baik. Akhirnya Aku meninggalkan Pohon, tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

        "Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal"

* * *

Angin

        Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

        Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, ketika satu bulan setelah aku pindah sekolah. Aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memperhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Satu hari, dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.

        Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun ketika Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa, memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis catatan dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

        Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan. Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon. Aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan telponku.

        Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku. Selama empat bulan, Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan… tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku. Aku bertanya,"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?", dia berkata, "Aku menengadahkan kepalaku".

        "Ah?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar.

        "Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak.

        Aku meletakkan teleponku, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat-kuat. Dan mengatakan betapa aku mencintainya.

        "Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal".

Diambil dari berbagai cerita motivasi, kiriman seorang kawan lama
Bandung, Oktober 2006