Carpe Diem

     Setiap hari Afrika mengawali pagi
     Seekor rusa bangun
     Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat
     Dari seekor singa yang tercepat
     Atau ia akan terbunuh

     Setiap pagi seekor singa bangun
     Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat
     Atau ia akan mati kelaparan

     Tidak masalah
     Apakah kau adalah seekor singa atau seekor rusa
     Ketika matahari terbit
     Lebih baik kau mulai berlari

     Bait terakhir di atas berusaha untuk mengingatkan kepada kita untuk segera memulai hari yang indah ini. Hari ini adalah hari ini. Hari kemarin telah tertinggal dan tak ada satupun usaha yang dapat mengembalikannya kembali. Kita telah melewati lorong waktu yang disediakan. Tak peduli apakah kita seekor singa ataupun seekor rusa seperti yang dikutip dari puisi tradisional Afrika di atas. Tak peduli apakah kita seorang mahasiswa, karyawan, pengusaha, tukang kayu, tukang sampah, ataupun pengangguran. Sering kita bernostalgia terhadap hal-hal yang telah dilakukan, menoleh kembali ke arah belakang. Tapi membiarkan diri berlarut-larut olehnya dan memaksakan kehadirannya dengan membuat perbandingan-perbandingan yang sudah tidak sesuai membuat kita hidup dengan mimpi-mimpi di masa lalu.
     Janus, nama salah satu dewa bangsa Romawi yang digunakan sebagai nama bulan yang pertama, digambarkan sebagai dewa dengan dua wajah. Satu wajahnya menghadap ke belakang dan satu lagi menghadap ke depan. Kita diberi pilihan berjalan, dan arah manakah yang akan kita tempuh? Arahkanlah diri kita pada apa yang ada di depan karena masa lalu telah lewat.
     Semua manusia memiliki kesempatan yang sama dengan talenta yang berbeda-beda. Kita diberi 24 jam sehari, 60 menit per jam, dan 60 detik per menit. Setiap hari kita disapa dengan cerahnya sinar matahari serta heningnya suasana di malam hari. Masalahnya hanyalah berapa bagian dari jumlah itu yang kita pergunakan dengan baik. Apakah kita ingin berada di tengah suasana cerahnya matahari atau lari darinya, berada dalam keheningan malam atau menempatkan diri di tengah hiruk pikuknya kehidupan.
     Setiap detik yang berjalan memiliki arti tersendiri. Betapa bahagianya seandainya kita bisa mengerti arti detik demi detik yang berjalan tersebut dan tidak menyia-nyiakannya. Demikian halnya dengan talenta. Apapun yang akan kita lakukan hari ini akan memberi suatu warna tersendiri bagi dunia ini. Dan warna yang kita miliki berbeda-beda. Saya akan memberinya warna hitam dan Anda akan memberinya warna kuning. Sang petugas keamanan akan memberinya warna hijau muda. Kuli bangunan memberinya warna oranye. Dan perawat memberinya warna putih. Lihatlah, dunia ini telah memperlihatkan kompleksitas warna dan ia terus berputar bersama waktu tanpa menunggu siapapun.
     Carpe Diem. Rebut hari ini! Sang singa tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lemah dan sang rusa juga tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat. Demikian juga dengan kita manusia yang harus tahu bahwa kita harus melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan. Begitu banyak yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk memberi warna dunia ini. Kita isi dengan apa selama dua puluh empat jam ke depan sehingga kita bisa berkata "Hari ini milikku!".
     Kita boleh saja memiliki rencana-rencana selama satu bulan ke depan, setahun, bahkan beberapa tahun. Namun rencana sebagus apapun tidaklah lebih baik dari sebuah langkah nyata. Kenyataannya adalah di hari ini dan saat ini, membuat detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam menjadi berarti bagi kita.
     Dan tindakan yang sebaiknya kita lakukan secepat mungkin adalah memulainya dari sekarang.
     Ayo kawan. Carpe Diem! Rebut hari ini!

Taken from Antonius Satya Wanadri - Carpe Diem
Bandung, Oktober 2006

Leave a Reply