Ketika Hari Itu Tiba (Her Weddings Day)
Kawanku bercerita tentang dirinya. Tentang pohon, yang membiarkan daunnya terbang terbawa angin. Kenapa? Penyesalan itu selalu menakutkan? Kadang kita tak tahu apa yang harus kita lakukan. Tapi hati kita biasanya memiliki kekuatan untuk menerka apa yang mungkin akan terjadi. Dan ada kalanya kita tak mau ambil peduli. Kadang membiarkannya berlalu begitu saja. Padahal dengan melakukan suatu langkah kecil, kita bisa mengubah segalanya. Kenapa ya? Kadang hal yang kita tahu itu, tidak kita lakukan? Dan itu termasuk aku juga.
Percaya nggak kamu dengan suatu perasaan aneh yang bisa menggambarkan sesuatu di masa depan. Dan entah hanya perasaan atau itu hanya ilusi, entahlah, kadang hal itu ada juga. Pada diriku. Mungkin juga pada dirimu. Ketika kita menerka-nerka, apa yang akan terjadi suatu hari nanti.
Seperti misalnya kita mengkhawatirkan sesuatu. Yang sebenarnya sudah bisa kita terka. Saat kita masih berharap. Dan waktu yang dimiliki semakin sedikit. Bertanya dan bertanya. Sampai kapan?
Memang menyedihkan kalau seandainya kita menakutkan sesuatu. Dan itu pun terjadi. Mau tidak mau. Tidak ada pilihan lain. Saat itu akan tetap terlewati. Dan itu juga terjadi karena langkah-langkah sebelumnya yang kita ambil.
Dulu, kita mungkin punya mimpi. Punya harapan. Yang indah tentunya. Di lain pihak, ada juga mimpi buruk yang kita takutkan. Dan saat inilah waktu terwujudkannya. Karena masa depan dari masa lalu kita adalah hari ini.
Bagaimana kalau seandainya harapan kita tak sesuai kenyataan? Dan malah hal buruk yang kita takutkan yang terjadi? Seperti saat ini. Ketika kamu bercerita padaku. Ketika kamu menjadi bersedih. Pilihanmu menjadi semakin sedikit. Bahkan tidak bisa memilih lagi. Itu nyata. Dan memang terjadi. Dan nggak mungkin lagi kamu miliki.
Sebenarnya aku enggan untuk mengutarakan tentang cinta di sini. Tapi ceritamu toh tentang itu. Dulu. Sekali lagi dulu. Yang tak bisa kita raih lagi. Banyak orang-orang di sekitar kita. Saat masih bersama mereka, kita tertawa, atau kadang kita menangis. Semuanya berjalan. Biasa saja. Dan ada kalanya kita tak begitu memperdulikannya. Karena kita masih bisa bersama mereka.
Tetapi sekarang ketika mereka tak ada, atau mungkin hilang, masa itu menjadi sangat berharga. Orang-orang di sekitar kita itu sungguh tak terlupakan. Kita malah menjadi bersedih, ketika tahu mereka tak ada lagi bersama kita. Walaupun seandainya masih bisa bersama, tapi suasananya tentu saja berbeda. Sekarang bukan lagi dulu kawan.
Suatu kesempatan yang kalau kita pikir-pikir lagi adalah hal yang sangat hebat bagi kita ketika kita mau mengambilnya. Tapi apa pada kenyataannya? Seringkali kita egois, malu, malas, atau enggan untuk melakukan hal yang sebenarnya adalah yang terbaik buat kita. Dan ujung-ujungnya akan timbul suatu penyesalan. Dan di manapun atau kapanpun, bagiku penyesalan merupakan suatu hal yang sangat menakutkan.
Kembali lagi tentang cinta, tentang pohon, tentang daun, tentang angin, dan tentang penyesalan yang kamu ceritakan. Mungkin cerita tentang kamu. Atau tentang temanmu. Atau tentang aku. Atau tidak tentang siapa-siapa. Hanya sebuah tokoh dalam hidup ini. Dan kusebut saja itu kamu, karena kamu yang telah bercerita kepadaku.
Ketika kamu masih memiliki kesempatan bersama pujaan hatimu. Seseorang yang sangat begitu memperhatikan kamu. Selalu ada dalam kebersamaan denganmu. Ketika kamu dalam kesulitan, rela melakukan apa saja untukmu. Atau ketika kamu pergi, dia menangis menunggu. Yang kamu tahu ketika ia masih bersamamu, kamu acuh tak acuh. Tak begitu peduli. Padahal jauh di dalam hati, kamu selalu berkata, ia sungguh begitu berarti.
Seseorang yang selalu bersamamu. Mungkin hanya seorang sahabat. Semasa kecil. Melalui hari bersama. Yang selalu dengan gembira kamu bercerita tentang kisahnya. Aku tak begitu tahu. Yang ternyata, tanpa diduga, kamu telah jatuh hati padanya. Hanya saja enggan untuk memilikinya. Mengatakannya. Begitu ceritamu. Sekali lagi ceritamu. Padaku.
Dengannya kamu bercerita tentang hidupmu. Bercerita tentang keberhasilanmu, kehebatanmu. Bercerita tentang segala keluh kesahmu. Bercerita tentang pacar-pacarmu. Atau dengannya kamu menceritakan bagaimana kisah ciuman pertamamu.
Beugh… dan itu terlihat di matanya, begitu mendengar ucapanmu. Ia begitu memperhatikanmu. Dan selintas terlihat ada kesedihan di matanya. Tentang beda sosial yang ada, tentang cinta sejati yang tak pernah terucap, yang sebenarnya saat seperti itu adalah waktunya. Padahal kamu sangat tahu itu. Kita tahu itu. Masih saja kamu tak mau peduli.
Dan ketika waktu berjalan dan berganti. Ia pun juga bercerita. Angin datang menerpa. Layaknya seperti cerita yang kamu ceritakan padaku. Pujaan hati telah datang menghampiri. Seorang pujaan yang baik hati dan begitu mencintai. Kamu mendengarkan ceritanya. Dan kamu tak bisa memperlihatkan sakit hati saat itu. Malah acuh tak acuh. Seperti membiarkan begitu saja. Tegar seperti karang, padahal hati hancur bukan kepalang. Ia pun sedih melihatmu seperti itu. Padahal mungkin ia berharap melihatmu untuk melakukan sesuatu. Tapi…, sudahlah, begitu katamu. Seperti mengulur waktu demi waktu. Aku masih ingin bersama yang lain. Berdendang dan bernyanyi. Suatu hari nanti, aku akan mengatakannya, dan hidup bersamanya, begitu jawabmu.
Bodoh sekali kamu membiarkannya begitu saja. Itu menurutku tentangmu. Walaupun kalau aku menjadi kamu, bisa saja hal serupa juga kulakukan. Cuma, kenapa membiarkan itu berlalu. Bukankah dia begitu berharga untukmu? Tanyaku, sampai kapan?
Saat ini harus kamu lakukan, kataku. Tapi, kamu masih mengulur waktu dan membiarkan semuanya berlalu. Masih ada waktu, katamu. Ya sudahlah.
Suatu hari, kamu bercerita lagi, ternyata yang lebih menakutkan akhirnya terjadi. Hari itu tiba.
Beugh… Menangislah dirimu. Sudah terlambat. Apa artinya hidupmu. Seumur hidup membiarkannya berlalu.
Tatapan matanya menyejukkan. Helai rambutnya mempesona. Senyumnya manis, menghias wajahnya. Masa-masa yang telah lalu. Saat dengan suka cita kamu berbagi cerita bersamanya. Semua itu baru kamu kenang sekarang. Ketika ia mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang berlinang.
Dan ketika hari itu akhirnya tiba, kamu akhirnya tak bisa untuk menahan air mata. Harapan suatu hari nanti kamu akan mengatakannya. Harapan suatu hari nanti kamu akan bersamanya. Hilang sudah. Masa yang kamu takutkan itu pun terjadi. Yang sebenarnya telah kamu tahu. Dan bisa dilakukan supaya mimpi burukmu itu tak terjadi. Tapi, sudahlah. Toh itu telah terjadi. Menangislah. Sampai mati pun tak kan bisa mengubah lagi.
Hhhh… seperti telenovela saja. Akhirnya cerita tentang angin yang menerbangkan daun dari pohon membuatmu menangis dan menyesal. Sudah terlambat.
Penyesalan itu memang selalu menakutkan. Semuanya sudah punya jalannya sendiri. Dan itu mungkin telah menjadi jalan untukmu, untuknya. Aku turut berduka. Walaupun aku juga tak tahu bagaimana aku harus menempuh jalanku. Setiap orang juga punya jalannya sendiri. Kadang duka, kadang suka. Dan kadang ketika kita tidak bisa berbalik lagi, untuk memilih sesuatu yang kita inginkan, hanya saja karena salah melangkah, atau mungkin terlambat melangkah, berubahlah semuanya. Masa depan tidak seperti yang kita bayangkan. Tidak bisa memenuhi harapan. Entah apa lagi yang akan terjadi suatu hari nanti. Semoga kita bisa selalu menjalani dengan sepenuh hati.
Angin telah menerbangkan daun. Dari pohon yang membiarkannya pergi. Dan semua itu pun terjadi. Tak bisa dihindari. Hujan pun rintik-rintik. Membasahi lentik matamu. Mengalir ke sungai-sungai yang mengalir berkilau keemasan. Membawaku, membawamu, dirinya, dan mereka, berjalan seiring dengan waktu dan hari, yang terus berganti, dan tak mungkin akan bisa diputar kembali.
Bandung, Oktober 2006
October 13th, 2006 at 1:47 am
Kita hanya mahluk kecil yg tak ada artinya…
dengan satu jentikan jari saja, kita bisa musnah!
jadi, apalagi yg harus di khawatirkan?
October 13th, 2006 at 3:45 am
waktu berjalan begitu cepat, ingin rasanya kembali ke waktu lampau mengubah semuanya, penyesalan terkadang datang paling akhir. Untuk itulah belum ada yang mampu menciptakan mesin waktu(cuman di pilm doank - time machine). Dgn berpikir mungkin bukan dia buat aku, mungkin orang lain, spti halnya clark kent yg kehilangan lana lang dgn alasan sbuah identitas asli. tapi akhirnya toh dia dapet lois lane, punya anak lagi di superman returns ..ha..ha..ha..
October 13th, 2006 at 10:11 pm
Bli… jangan terlalu dibawa aliran hatimu coy..
ntar sakit juga rasanya, santai ajalah…
be cool…
Mantap Jrot!
October 15th, 2006 at 8:37 am
Beugh…
Aliran hati apaan maksud lu Tong? Pake “ntar sakit juga rasanya”. Bhuahaha…
I love U Tong…
Ini cerita mewakili semua orang lagee…
Iseng… iseng… Menggambarkan Pohonnya Bang Isack Farady :p
Ayo Tong… don’t be like that
Stay cool babieh…
Bwt Bli Komang Wiwin : beh, baca2 blog saya juga nie… jadi malu. :p
Kalah pastine jak Bli Komang.
Ayo Bli… semangat buat ceweknya… Keto kone dingeh2.
Hehehe… Peace Bli…
Buat Mang JQ nu kasep tea : Jangan terlalu pasrah gitu dong. Abdi teh nyerat ka anjeun… terinspirasi kisah Aa’ JQ
Bhuahahaha…
Bwt teman2 yg lain yang juga baca, tulisan ini hanyalah fiksi belaka, walaupun begitu, semoga bermanfaat. Kalaupun nggak… saya harap semoga tetap bermanfaat…
Hehehe… sori maksa…
Peace…
October 27th, 2006 at 5:36 pm
jrot tulisan loe
ga ada topik lain ya ….???
gak di sekre , blog semua topiknya sama …
ganti topik jrot
garing tahu …..
October 30th, 2006 at 1:37 am
Buat Jimmy : Garing tahu atau tahu garing?
Wah, jadi pengen goreng tahu di depan kantor neh…
Enyak… Enyak… Enyak…
December 15th, 2006 at 6:48 pm
Gejoooor… beneran tuh ceritanya ? itu kisah cintamu apa tetanggamu ? (loe ga lupa minum obat khan…….? jangan forget to nambah your doziz ocre copy……???!)
December 17th, 2006 at 2:53 am
Weis… Oky…
Hehehe… Kisah cinta tetangga itu… Hahaha…