Archive for November, 2006

Selingkuh

Thursday, November 30th, 2006

    Apa yang terjadi jika pengkhianatan terjadi dalam kehidupan hubungan pribadi? Dalam pacaran atau hubungan suami istri? Emm, merasa guncang, kecewa, tak enak, malu, atau marah? Hehehe, tak perlu repot-repot untuk memilih salah satunya. Semua perasaan itu bercampur aduk, berjuta-juta rasanya.
    Mencintai itu sungguh indah. Tetapi mencintai orang lain ketika sudah punya komitmen atau terikat perkawinan, tentu menimbulkan masalah.
    Kata Si Bunga, aku mencintai keduanya. Cowok yang ganteng dan bijaksana. Keduanya selalu ada di hatinya. Walaupun setiap saat harus selalu waspada, karena jika tidak bisa berbahaya. Tak berbeda jauh dengan Si Anton, yang berkata aku tak bisa melupakannya, dan telah hadir di antara kita. Aku mencintai keduanya, walaupun kutahu itu menyakitinya.
    Di lain pihak, seperti cerita Si Wulan dalam sinetron, yang sudah begitu mencintai ternyata dikhianati. Yang akhirnya memilih untuk pergi karena dilukai, walaupun jauh di dalam hati masih mencintai, sakitnya tak terperi. Atau cerita Si Jaka dalam telenovela, yang diselingkuhi pacar tercinta ketika pergi keluar kota. Kemudian memilih pergi karena terluka. Tak bisa menerima. Hati pun merana.
    Menyengsarakan hati? Pastilah ya! Namun, dari zaman dahulu kala hingga sekarang, tak sedikit yang melakukan perselingkuhan. Menjadi cerita sehari-hari yang menarik di kalangan pergaulan, gosip tetangga, di rumah, di kantor, atau di mana saja. Menjadi cerita yang menarik di sinetron-sinetron dan berita-berita infotaiment.
    Si Bunga, Si Anton, Si Wulan, atau Si Jaka tentunya sudah dewasa. Tahu bagaimana dalam menyikapi cinta. Yang masing-masing pasti punya alasan sendiri. Untuk mencintai, mengkhianati, atau memperlakukan hati dan harga diri.
    Terkadang selingkuh itu malah dianggap sebagai rekreasi yang menantang, selingan yang indah. Beugh! Berbagai macam memang alasan untuk jatuh cinta lagi alias selingkuh. Tak lagi sehati, pasangan terlalu sibuk, tak bisa mengerti keinginan masing-masing, kesepian, tertarik dengan orang lain, jauh, jenuh, sering bertengkar, penampilan tak lagi oke, seks tak memuaskan, bla bla bla. Wadauw…!!!
    Mengapa ada yang namanya perselingkuhan? "Itu karena ada yang namanya perkawinan" begitu kata Si A. Hehehe. Ada Si B yang menyebut selingkuh itu, "selingan indah keluarga utuh". Lalu dikatakan oleh Si C, "Selingkuh itu, sebuah joint venture, usaha gabungan berlapis tiga, terdiri dari dua pelakunya, didukung, dan dikompori setan". Wah, yang ini agak serem ya? "Awalnya, berjuta rasa, tetapi bila tak waspada, kenikmatan bisa berujung jadi neraka," begitu kata Si D. "Selingkuh, perbuatan yang tidak jujur, tidak setia, entah kepada pasangan hidup, pacar atau partner" sambung si E.  Dan apa kata Si F? "Sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak". Wuih… Kok begitu ya?
    Hahaha, makin memusingkan lagi, ketika di sisi lain, Si G bertanya, "Apakah cowok atau cewek yang sudah berpasangan, baik berpacaran atau sudah menikah tidak berhak untuk jatuh cinta lagi?"
    Dan Si H yang lebih ekstrim, berpendapat, "Kesetiaan pada seorang saja seumur hidup itu nonsense, dan sama sekali tidak manusiawi! Sekali lagi tidak manusiawi!" Wuih… Yang kemudian disambung lagi oleh Si I, "Kalau pasangan tidak membahagiakanmu, kamu berhak mencari kebahagiaan di tempat lain". Atau kata Si J "Kalau kau mencintai seseorang dan bahagia bersamanya, kau harus menerima dia secara apa adanya, kekuatannya dan kelemahannya, termasuk affair-affairnya. Ya, termasuk affair-affairnya." Beugh!
    Hhhh… Ya begitulah, pusing tujuh keliling. Makin pening. Hubungan manusia itu begitu rumitnya, penuh lika-liku. Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah sekedar menggambarkan retorika yang ada. Mengutip pendapat-pendapat berbagai orang dari berbagai kalangan. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa selingkuh itu perilaku baik atau buruk. Belum tentu benar dan belum tentu juga salah. Halal atau tidak halal. Hidup ini pun tak sebaik atau seburuk seperti yang kita bayangkan. Kedalaman cara berpikir seorang manusia acapkali memang tak bisa diselami. Hati orang siapa yang tahu? Dan kita tentunya juga pasti berpikir, hal terbaik apa yang mestinya kita lakukan, untuk diri kita sendiri, atau untuk sesuatu yang kita cintai. Akankah kita mengerti?

Bandung, November 2006

Bumi Ini Berharga

Friday, November 10th, 2006

      Bagaimana Tuan dapat membeli atau menjual
      Langit dan kehangatan tanah?
      Gagasan ini aneh bagi kami
      Kalau kami tidak memiliki udara yang segar
      Dan air yang bergemericik
      Bagaimana Tuan dapat membelinya?

      Aku mengagumi orang kulit merah. Orang Indian. Dalam sikapnya yang memperlakukan lingkungan dan alam begitu rupa. Akan pandangan bagaimana bumi ini adalah tempat seluruh mahluk hidup berada. Manusia dari berbagai ras suku bangsa. Bahwa kita semua adalah saudara. Hidup dan berpijak di atas bumi yang sama, ibunda tercinta. Akan kehidupan dan kematian yang penuh dengan misteri.

      Tahun 1854,"Pemimpin Besar Orang Kulit Putih" yang berkedudukan di Washington menyatakan keinginannya untuk membeli tanah milik orang Indian yang luas dan berjanji akan memberi mereka "tanah perlindungan". Jawaban Kepala Suku Seattle berikut dianggap sebagai pernyataan mengenai lingkungan hidup paling indah yang pernah dibuat. Yang saat ini kutulis kembali. Untuk kuceritakan lagi. Yang kuharap semoga berkenan dan memberikan arti di dalam hati. Semoga.

* * *

Semuanya Keramat

      Bagi bangsa saya, setiap bagian dari bumi ini adalah keramat. Dalam ingatan dan pengalaman bangsa saya, setiap pucuk daun cemara yang berkilauan, setiap pantai berpasir, setiap kabut yang menyelimuti hutan nan gelap, setiap jengkal tanah terbuka dan serangga yang bergumam adalah sakral. Sari kehidupan yang mengalir di dalam pepohonan menyimpan ingatan orang kulit merah.

      Orang kulit putih yang mati, ketika mereka berjalan di antara bintang, tidak ingat lagi dimana tanah kelahirannya. Bagi kami, orang mati tidak pernah melupakan bumi yang indah ini, karena bumi adalah ibunda orang kulit merah.

      Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Bunga-bunga semerbak wangi adalah saudara perempuan kami. Rusa, kuda, elang besar adalah saudara laki-laki kami. Tebing berbatu, sari bunga yang ada di lembah, kehangatan tubuh kuda dan manusia semuanya adalah keluarga.

Tidak Mudah

      Jadi, jika Pemimpin Besar di Washington mengajukan keinginan hendak membeli tanah kami, niat itu kami anggap sungguh penting. Pemimpin Besar memberi kabar kalau ia akan memberi tempat bagi kami, sehingga kami dapat hidup dengan sejahtera. Ia akan menjadi ayah kami dan dan kami menjadi putra putrinya. Oleh sebab itu kami akan mempertimbangkan keinginan untuk membeli tanah kami. Tetapi hal ini tidak akan mudah terlaksana, sebab bagi kami tanah ini keramat. Air berkilauan yang mengalir di sungai-sungai bukanlah sekedar air, melainkan darah nenek moyang kami.

      Kalau kami sampai menjual tanah kepada Tuan, harus diingat kalau tanah itu keramat. Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah itu suci, dimana setiap pantulan yang samar-samar di dalam air jernih danau menceritakan kejadian-kejadian dan ingatan pada kehidupan bangsa kami. Kecepak air adalah suara ayah dari ayah kami.

Kebaikan

      Sungai-sungai adalah saudara laki-laki kami. Mereka mengatasi dahaga kami. Sungai mengangkut kano-kano kami dan memberi makan anak-anak kami. Jika kami menjual tanah kepada Tuan maka Tuan harus ingat mengajari anak-anak Tuan kalau sungai adalah saudara laki-laki kami, seperti layaknya Tuan memberi keramahan yang pantas kepada saudara laki-laki.

      Kami tahu bangsa kulit putih tidak memahami tata kehidupan kami. Satu bagian tanah dianggap sama dengan bagian lain, karena ia adalah orang asing yang tiba pada malam hari, kemudian mengambil tanah yang ia butuhkan. Tanah bukanlah saudara laki-lakinya tetapi musuh. Jika ia telah menguasai tanah tersebut maka iapun akan melanjutkan perjalanannya.

      Ia meninggalkan kuburan ayahnya dengan tak acuh. Ia menjarah bumi milik anak-anak dengan tak acuh. Kuburan ayahnya dan hak hidup anak-anaknya dilupakan. Ibunya, yaitu bumi dan saudara laki-lakinya, yaitu langit, diperlakukan sebagai barang dagangan yang dapat dibeli, dirampok dan dijual seperti kambing atau manik-manik yang berwarna cerah. Nafsunya akan menelan bumi dan hanya meninggalkan padang pasir.

      Saya tidak tahu. Jalan kami berbeda dengan jalan Tuan. Pemandangan kota-kota tuan menyakitkan mata orang kulit merah. Mungkin karena orang kulit merah adalah orang biadab yang tidak mengerti.

      Tidak ada satu tempatpun yang tenang di kota-kota orang kulit putih. Tidak ada tempat untuk melihat mekarnya daun pada musim semi atau gesekan sayap serangga. Mungkin saja karena saya orang yang biadab dan bodoh. Kebisingan kota hanya mengusik telinga, dan apalah artinya kehidupan jika orang tidak dapat mendengar teriakan kesepian burung whippoorwil atau celoteh katak di sekeliling kolam pada malam hari? Saya hanyalah seorang kulit merah yang tidak tahu apa-apa.

      Orang Indian lebih menyenangi suara lembut dan aroma angin yang berdesir di atas permukaan kolam, yang dibersihkan oleh hujan siang hari, yang diimbuhi wewangian dari pohon cemara.

Berharga

      Udara sangat berharga bagi orang kulit merah, karena semua berbagi nafas dengannya, binatang, pohon, dan manusia. Orang kulit putih tidak memperhatikan udara yang dihirup. Seperti orang yang sudah mati beberapa hari, ia kebal dengan bau busuk.

      Jika tanah ini kami jual kepada Tuan, Tuan harus ingat kalau udara sangat penting bagi kami, kalau udara membagi esensinya dengan semua yang ia tunjang kehidupannya. Angin yang memberi nafas pertama kepada kakek kami juga menerima nafas terakhir darinya. Jika kami menjual tanah kepada Tuan, Tuan harus memisahkan dan memuliakannya sebagai tempat di mana orang kulit putihpun dapat menikmati angin, yang dipermanis oleh aroma bebungaan padang rumput.

Satu Syarat

      Jadi kami akan mempertimbangkan permintaan Tuan untuk membeli tanah kami. Jika kami setuju, saya mau mengajukan satu syarat. Orang kulit putih harus memperlakukan binatang-binatang di atas tanah ini sebagai saudara laki-laki. Saya orang biadab dan saya tidak mengerti cara lainnya.

      Saya telah melihat ribuan kerbau yang membusuk di padang rumput, ditinggalkan begitu saja oleh orang kulit putih yang menembakinya dari kereta api yang sedang berjalan. Saya orang biadab dan tidak mengerti betapa kuda besi berasap dianggap lebih penting daripada kerbau yang kami bunuh demi hanya untuk menyambung kehidupan.

      Apalah artinya manusia tanpa binatang? Jika semua binatang punah, manusia akan mati karena kesepian yang luar biasa. Karena apapun yang terjadi pada binatang akan terjadi pula secara cepat pada manusia. Semua hal saling bertalian.

Abu

      Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah di bawah telapak kaki mereka adalah abu dari kakek-kakek Tuan. Agar mereka menghargai tanah, ceritakanlah kepada mereka kalau bumi ini kaya dengan kehidupan. Ajarkanlah kepada anak-anak Tuan seperti kami mengajarkan kepada anak-anak kami, bahwa bumi adalah ibu kita. Apa yang terjadi pada bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Jika orang meludahi tanah maka ia meludahi dirinya sendiri.

      Yang kami ketahui bumi tidak dimiliki orang. Oranglah yang dimiliki bumi. Kami tahu, semua hal saling bertalian. Seperti darah yang menyatukan keluarga. Apa yang terjadi dengan bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Manusia tidak merajut jaring-jaring kehidupan. Ia hanyalah bagian kecil dari padanya. Apa yang ia perbuat terhadap jaring kehidupan adalah tindakan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri. Bahkan orang kulit putih, yang Tuhannya berjalan dan berbicara dengannya seperti teman kepada teman tidak dapat dikecualikan dari nasib bersama. Kita semua akhirnya bersaudara. Kita akan melihatnya. Satu hal yang kita ketahui, yang pada suatu hari akan disadari pula oleh orang kulit putih, Tuhan kita adalah Tuhan yang sama.

      Sekarang Tuan boleh berpendapat bahwa Tuan memiliki Dia, sebagaimana Tuan ingin memiliki tanah kami. Tetapi tidak mungkin Tuan memiliki Dia sendiri. Dia adalah Tuhan dari semua manusia, yang perhatiannya sama besar baik kepada orang kulit merah maupun orang kulit putih. Bumi ini amat berharga bagi Dia. Merusak bumi akan membangkitkan balas dendam Sang Pencipta. Orang kulit putih juga akan lenyap, mungkin lebih cepat dari suku-suku lainnya. Kotorilah ranjang Tuan, maka pada suatu malam Tuan akan tercekik oleh kotoran Tuan sendiri.

      Pada saat Tuan mati, Tuan akan besinar terang, dibekali kekuatan Tuhan yang membawa Tuan ke Tanah ini, untuk tujuan istimewa memberi Tuan kekuasaan atas tanah ini dan atas orang kulit merah.

      Takdir adalah suatu misteri bagi kami, karena kami tidak tahu kapan semua kerbau habis disembelih, kuda liar dijinakkan, sudut-sudut rahasia hutan dipenuhi bau orang banyak, dan bukit-bukit dipenuhi kabel-kabel berbicara.

      Dimanakah semak belukar? Hilang
      Di manakah elang? Lenyap
      Di sinilah kehidupan berakhir
      Dan kehidupan baru pun dimulai!

Taken from A Speologi Book in Astacala - Bumi Ini Berharga
Bandung, November 2006

Dan Damai di Bumi

Wednesday, November 8th, 2006

    Berkelana ke negeri-negeri eksotis. Menjelajah ujung-ujung dunia. Aku menyukai berbagai cerita petualangan. Mengagumi kisah-kisah kepahlawanan dan membela kebenaran serta persahabatan tulus ikhlas yang mengharukan tanpa mempermasalahkan perbedaan. Kadang tersedu, terhanyut dalam latar alam menjelajah pelosok bumi. Atau kadang ikut pula tersenyum melihat budaya manusia di berbagai belahan dunia.
    Dari belahan dunia timur sampai barat. Dengan tokoh yang berbeda. Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan alur cerita sambung menyambung.
    Banyak hal yang bisa dipetik dari cerita kepahlawanan dan petualangan. Membacanya seperti ikut membawa kita menjejakkan kaki di berbagai latar ceritanya yang beraneka ragam. Tidak saja mengajarkan tentang petualangan, persahabatan, dan kecerdikan. Tetapi juga mengajarkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama dan alam lingkungan. Mengajarkan banyak kebajikan. Pesan moral dan budi pakerti yang luhur. Dengan berbagai jalinan suku bangsa, ras, agama, dan berbagai nasionalisme.
    Seorang yang berkelana akan mempelajari banyak hal. Ia tidak akan mudah untuk mempercayai sesuatu. Semua akan dipelajari. Karena kehidupan adalah proses belajar yang tiada henti. Alam dan isinya adalah guru terbaik. Rasa ingin tahu dan mengeksplorasi akan tertanam. Keinginan untuk berbagi dan menempatkan diri sebagai orang lain. Atau menempatkan diri sebagai mahluk lain. Bagaimana kalau seandainya kita menjadi mereka? Pada dasarnya apa yang orang lain rasakan adalah sama dengan apa yang kita rasakan.
    Seperti kisah-kisah yang ditulis oleh Karl May, sang jawara cerita perjalanan yang nyaris ensiklopedi dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mengetahui berbagai keajaiban dunia tanpa menginjakkan kaki di tempat yang bersangkutan. Ternyata banyak sekali keindahan dan keanekaragaman di bumi ini. Suatu waktu mungkin aku akan mengunjungi tempat-tempat ceritanya. Berkelana di belahan Amerika bersama Winnetou si indian kulit merah dan sahabatnya Old Shatterhand si kulit putih. Mengarungi padang-padang prairi. Menyeberangi Sungai Missisipi. Bagaimana kita diajarkan untuk menghargai alam layaknya kita menghargai ibunda kita, hidup berdampingan, menjunjung perdamaian, petualangan mencari harta karun, serta tragedi penindasan dan kepunahan suku Indian. Mengukur tanah untuk jalan kereta api, perampasan tanah, perbudakan, tambang merkuri, pipa perdamaian, menangkap kuda mustang, berburu bison, membunuh beruang grizzly, membuat hujan di gurun, mencari jejak, melempar tomahawk, menembak di kegelapan, membuat pesawat terbang, dan sebagainya.
    Atau berkelana di Timur Tengah bersama seorang kristiani Kara Ben Nemsi, bersama sahabat muslimnya Haji Halef Omar. Menjelajah dari Afrika Utara, Mesir, Semenanjung Arabia, Mekah, Irak, Iran, Kurdistan, Libanon, Turki Eropa, Bulgaria, Macedonia, Albania, dan kembali ke Palestina. Menjelajahi negeri 1001 malam yang bukan khayalan. Mengetahuinya ibarat berkelana di belahan dunia. Layaknya bertemu dengan semua umat manusia dan mahluk ciptaanNya. Bertemu dengan Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kristen Ortodoks, Kristen Chaldean, Agama Kaum Jesidi, dan sebagainya. Perjalanan ke Mekah, menembus pasir hisap, melawan penyakit maut pes, berpetualang di Kurdistan, mengenal kuda arab dan rahasianya. Pedang Damsyik yang sanggup memotong besi, permusuhan abadi di Balkan, kebudayaan orang Arab, mencari peninggalan purbakala Irak, Jamur Truffle, dan sebagainya.
    Dan akhir-akhir ini aku memang senang mengagumi cerita-cerita perjalanan Karl May tersebut. Yang sarat dengan petualangan dengan berbagai latar alam dan nilai-nilai moral bagi umat manusia. Tentang bagaimana kita menghargai lingkungan. Alasan kenapa kita tidak boleh membunuh. Tidak boleh memusuhi orang. Dan yang paling menarik adalah sikap terhadap seseorang yang memiliki perbedaan dengan kita. Terhadap orang yang memiliki kepercayaan lain. Atau terhadap orang dengan darah yang berbeda. Ras yang berjauhan. Yang saat ini, di bumi ini,  sungguh banyak pertumpahan darah karena alasan itu. Baik di negeri sendiri, ataupun di negeri seberang. Seperti pertikaian di Poso ataupun pertumpahan darah di Palestina yang tak kunjung akhir.
    Dalam petualangannya, Old Shatterhand si kulit putih tidak pernah berpikiran picik. Dia menghormati kepercayaan semua orang lain. Atau yang tidak punya kepercayaan sama sekali. Inilah hal-hal yang bisa dipelajari ketika membaca kisah Winnetou. Mungkin karena jiwa kebebasan yang mengalir dari darah ayahku, maka cerita tokoh pahlawan yang diceritakan Karl May ini menembus ke hati sanubari. Yang mungkin akan berbeda dengan orang-orang yang baru beranjak dewasa, yang entah kenapa saat ini banyak sekali sekat-sekat mulai didirikan dan benih-benih kecurigaan ditanamkan. Yang mungkin berbeda dan sangat sensitif jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibentuk oleh keyakinan-keyakinan setempat ataupun lingkungannya. Berbagai keyakinan sempit yang tak pernah bisa kumengerti, yang saling mencaci, saling memaki, dan saling menghancurkan, walaupun atas nama Tuhan penguasa alam semesta, keturunan terhormat sekalipun, suku bangsa, atau agama manapun di muka bumi ini.
    Kita pernah belajar yang namanya DNA. Siklus genetik dari tubuh manusia. Dari riwayat perubahan gen antara orang Afrika, Asia, Amerika, terlihat bahwa ternyata manusia itu satu saudara, satu keturunan. Padahal tanpa pengetahuan tentang itu pun kita seharusnya menyadari bahwa kita bersaudara. Begitu juga dari cerita tentang adam dan hawa yang menurunkan umat manusia.
    Tapi, lepas dari itu semua, tetap banyak juga alasan yang tak akan bisa kita mengerti kenapa ada saja pertikaian di muka bumi. Alasan yang tak akan pernah bisa diterima dan kenapa itu harus terjadi. Takdir merupakan misteri. Semuanya adalah misteri. Mengapa manusia hidup dan kenapa manusia mati? Ada hitam, ada putih. Ada lelaki, akan ada perempuan. Ada baik, tentu saja ada jahat. Ada kedamaian, ada juga peperangan. Semua punya pasangannya dalam kehidupan ini. Semuanya pasti berbeda. Tapi bertalian satu sama lainnya. Warna di dunia memang beragam. Kenapa seperti itu?
    Lihatlah. Yang kutahu bumi ini begitu indah. Layaknya bunda tersayang yang memelihara anak-anaknya. Langit biru yang selalu memayungi dunia. Layaknya ayah tercinta yang akan selalu melindungi putranya. Kita semua adalah milikNya. Ditakdirkan bersama sebagai satu keluarga. Sebagai satu saudara. Di sebuah rumah yang bernama bumi. Dengan berbagai problema di dalamnya. Yang menuntut kita untuk bisa bijak mengatasinya. Mengarungi setiap indahnya. Memahami setiap gelapnya.
    Dan begitulah. Semoga damai selalu di bumi. Saya telah berbicara. Howgh!

Inspirated from Karl May - All of Books
Bandung, November 2006