Dan Damai di Bumi

    Berkelana ke negeri-negeri eksotis. Menjelajah ujung-ujung dunia. Aku menyukai berbagai cerita petualangan. Mengagumi kisah-kisah kepahlawanan dan membela kebenaran serta persahabatan tulus ikhlas yang mengharukan tanpa mempermasalahkan perbedaan. Kadang tersedu, terhanyut dalam latar alam menjelajah pelosok bumi. Atau kadang ikut pula tersenyum melihat budaya manusia di berbagai belahan dunia.
    Dari belahan dunia timur sampai barat. Dengan tokoh yang berbeda. Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan alur cerita sambung menyambung.
    Banyak hal yang bisa dipetik dari cerita kepahlawanan dan petualangan. Membacanya seperti ikut membawa kita menjejakkan kaki di berbagai latar ceritanya yang beraneka ragam. Tidak saja mengajarkan tentang petualangan, persahabatan, dan kecerdikan. Tetapi juga mengajarkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama dan alam lingkungan. Mengajarkan banyak kebajikan. Pesan moral dan budi pakerti yang luhur. Dengan berbagai jalinan suku bangsa, ras, agama, dan berbagai nasionalisme.
    Seorang yang berkelana akan mempelajari banyak hal. Ia tidak akan mudah untuk mempercayai sesuatu. Semua akan dipelajari. Karena kehidupan adalah proses belajar yang tiada henti. Alam dan isinya adalah guru terbaik. Rasa ingin tahu dan mengeksplorasi akan tertanam. Keinginan untuk berbagi dan menempatkan diri sebagai orang lain. Atau menempatkan diri sebagai mahluk lain. Bagaimana kalau seandainya kita menjadi mereka? Pada dasarnya apa yang orang lain rasakan adalah sama dengan apa yang kita rasakan.
    Seperti kisah-kisah yang ditulis oleh Karl May, sang jawara cerita perjalanan yang nyaris ensiklopedi dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mengetahui berbagai keajaiban dunia tanpa menginjakkan kaki di tempat yang bersangkutan. Ternyata banyak sekali keindahan dan keanekaragaman di bumi ini. Suatu waktu mungkin aku akan mengunjungi tempat-tempat ceritanya. Berkelana di belahan Amerika bersama Winnetou si indian kulit merah dan sahabatnya Old Shatterhand si kulit putih. Mengarungi padang-padang prairi. Menyeberangi Sungai Missisipi. Bagaimana kita diajarkan untuk menghargai alam layaknya kita menghargai ibunda kita, hidup berdampingan, menjunjung perdamaian, petualangan mencari harta karun, serta tragedi penindasan dan kepunahan suku Indian. Mengukur tanah untuk jalan kereta api, perampasan tanah, perbudakan, tambang merkuri, pipa perdamaian, menangkap kuda mustang, berburu bison, membunuh beruang grizzly, membuat hujan di gurun, mencari jejak, melempar tomahawk, menembak di kegelapan, membuat pesawat terbang, dan sebagainya.
    Atau berkelana di Timur Tengah bersama seorang kristiani Kara Ben Nemsi, bersama sahabat muslimnya Haji Halef Omar. Menjelajah dari Afrika Utara, Mesir, Semenanjung Arabia, Mekah, Irak, Iran, Kurdistan, Libanon, Turki Eropa, Bulgaria, Macedonia, Albania, dan kembali ke Palestina. Menjelajahi negeri 1001 malam yang bukan khayalan. Mengetahuinya ibarat berkelana di belahan dunia. Layaknya bertemu dengan semua umat manusia dan mahluk ciptaanNya. Bertemu dengan Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kristen Ortodoks, Kristen Chaldean, Agama Kaum Jesidi, dan sebagainya. Perjalanan ke Mekah, menembus pasir hisap, melawan penyakit maut pes, berpetualang di Kurdistan, mengenal kuda arab dan rahasianya. Pedang Damsyik yang sanggup memotong besi, permusuhan abadi di Balkan, kebudayaan orang Arab, mencari peninggalan purbakala Irak, Jamur Truffle, dan sebagainya.
    Dan akhir-akhir ini aku memang senang mengagumi cerita-cerita perjalanan Karl May tersebut. Yang sarat dengan petualangan dengan berbagai latar alam dan nilai-nilai moral bagi umat manusia. Tentang bagaimana kita menghargai lingkungan. Alasan kenapa kita tidak boleh membunuh. Tidak boleh memusuhi orang. Dan yang paling menarik adalah sikap terhadap seseorang yang memiliki perbedaan dengan kita. Terhadap orang yang memiliki kepercayaan lain. Atau terhadap orang dengan darah yang berbeda. Ras yang berjauhan. Yang saat ini, di bumi ini,  sungguh banyak pertumpahan darah karena alasan itu. Baik di negeri sendiri, ataupun di negeri seberang. Seperti pertikaian di Poso ataupun pertumpahan darah di Palestina yang tak kunjung akhir.
    Dalam petualangannya, Old Shatterhand si kulit putih tidak pernah berpikiran picik. Dia menghormati kepercayaan semua orang lain. Atau yang tidak punya kepercayaan sama sekali. Inilah hal-hal yang bisa dipelajari ketika membaca kisah Winnetou. Mungkin karena jiwa kebebasan yang mengalir dari darah ayahku, maka cerita tokoh pahlawan yang diceritakan Karl May ini menembus ke hati sanubari. Yang mungkin akan berbeda dengan orang-orang yang baru beranjak dewasa, yang entah kenapa saat ini banyak sekali sekat-sekat mulai didirikan dan benih-benih kecurigaan ditanamkan. Yang mungkin berbeda dan sangat sensitif jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibentuk oleh keyakinan-keyakinan setempat ataupun lingkungannya. Berbagai keyakinan sempit yang tak pernah bisa kumengerti, yang saling mencaci, saling memaki, dan saling menghancurkan, walaupun atas nama Tuhan penguasa alam semesta, keturunan terhormat sekalipun, suku bangsa, atau agama manapun di muka bumi ini.
    Kita pernah belajar yang namanya DNA. Siklus genetik dari tubuh manusia. Dari riwayat perubahan gen antara orang Afrika, Asia, Amerika, terlihat bahwa ternyata manusia itu satu saudara, satu keturunan. Padahal tanpa pengetahuan tentang itu pun kita seharusnya menyadari bahwa kita bersaudara. Begitu juga dari cerita tentang adam dan hawa yang menurunkan umat manusia.
    Tapi, lepas dari itu semua, tetap banyak juga alasan yang tak akan bisa kita mengerti kenapa ada saja pertikaian di muka bumi. Alasan yang tak akan pernah bisa diterima dan kenapa itu harus terjadi. Takdir merupakan misteri. Semuanya adalah misteri. Mengapa manusia hidup dan kenapa manusia mati? Ada hitam, ada putih. Ada lelaki, akan ada perempuan. Ada baik, tentu saja ada jahat. Ada kedamaian, ada juga peperangan. Semua punya pasangannya dalam kehidupan ini. Semuanya pasti berbeda. Tapi bertalian satu sama lainnya. Warna di dunia memang beragam. Kenapa seperti itu?
    Lihatlah. Yang kutahu bumi ini begitu indah. Layaknya bunda tersayang yang memelihara anak-anaknya. Langit biru yang selalu memayungi dunia. Layaknya ayah tercinta yang akan selalu melindungi putranya. Kita semua adalah milikNya. Ditakdirkan bersama sebagai satu keluarga. Sebagai satu saudara. Di sebuah rumah yang bernama bumi. Dengan berbagai problema di dalamnya. Yang menuntut kita untuk bisa bijak mengatasinya. Mengarungi setiap indahnya. Memahami setiap gelapnya.
    Dan begitulah. Semoga damai selalu di bumi. Saya telah berbicara. Howgh!

Inspirated from Karl May - All of Books
Bandung, November 2006

Leave a Reply