Selingkuh
Apa yang terjadi jika pengkhianatan terjadi dalam kehidupan hubungan pribadi? Dalam pacaran atau hubungan suami istri? Emm, merasa guncang, kecewa, tak enak, malu, atau marah? Hehehe, tak perlu repot-repot untuk memilih salah satunya. Semua perasaan itu bercampur aduk, berjuta-juta rasanya.
Mencintai itu sungguh indah. Tetapi mencintai orang lain ketika sudah punya komitmen atau terikat perkawinan, tentu menimbulkan masalah.
Kata Si Bunga, aku mencintai keduanya. Cowok yang ganteng dan bijaksana. Keduanya selalu ada di hatinya. Walaupun setiap saat harus selalu waspada, karena jika tidak bisa berbahaya. Tak berbeda jauh dengan Si Anton, yang berkata aku tak bisa melupakannya, dan telah hadir di antara kita. Aku mencintai keduanya, walaupun kutahu itu menyakitinya.
Di lain pihak, seperti cerita Si Wulan dalam sinetron, yang sudah begitu mencintai ternyata dikhianati. Yang akhirnya memilih untuk pergi karena dilukai, walaupun jauh di dalam hati masih mencintai, sakitnya tak terperi. Atau cerita Si Jaka dalam telenovela, yang diselingkuhi pacar tercinta ketika pergi keluar kota. Kemudian memilih pergi karena terluka. Tak bisa menerima. Hati pun merana.
Menyengsarakan hati? Pastilah ya! Namun, dari zaman dahulu kala hingga sekarang, tak sedikit yang melakukan perselingkuhan. Menjadi cerita sehari-hari yang menarik di kalangan pergaulan, gosip tetangga, di rumah, di kantor, atau di mana saja. Menjadi cerita yang menarik di sinetron-sinetron dan berita-berita infotaiment.
Si Bunga, Si Anton, Si Wulan, atau Si Jaka tentunya sudah dewasa. Tahu bagaimana dalam menyikapi cinta. Yang masing-masing pasti punya alasan sendiri. Untuk mencintai, mengkhianati, atau memperlakukan hati dan harga diri.
Terkadang selingkuh itu malah dianggap sebagai rekreasi yang menantang, selingan yang indah. Beugh! Berbagai macam memang alasan untuk jatuh cinta lagi alias selingkuh. Tak lagi sehati, pasangan terlalu sibuk, tak bisa mengerti keinginan masing-masing, kesepian, tertarik dengan orang lain, jauh, jenuh, sering bertengkar, penampilan tak lagi oke, seks tak memuaskan, bla bla bla. Wadauw…!!!
Mengapa ada yang namanya perselingkuhan? "Itu karena ada yang namanya perkawinan" begitu kata Si A. Hehehe. Ada Si B yang menyebut selingkuh itu, "selingan indah keluarga utuh". Lalu dikatakan oleh Si C, "Selingkuh itu, sebuah joint venture, usaha gabungan berlapis tiga, terdiri dari dua pelakunya, didukung, dan dikompori setan". Wah, yang ini agak serem ya? "Awalnya, berjuta rasa, tetapi bila tak waspada, kenikmatan bisa berujung jadi neraka," begitu kata Si D. "Selingkuh, perbuatan yang tidak jujur, tidak setia, entah kepada pasangan hidup, pacar atau partner" sambung si E. Dan apa kata Si F? "Sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak". Wuih… Kok begitu ya?
Hahaha, makin memusingkan lagi, ketika di sisi lain, Si G bertanya, "Apakah cowok atau cewek yang sudah berpasangan, baik berpacaran atau sudah menikah tidak berhak untuk jatuh cinta lagi?"
Dan Si H yang lebih ekstrim, berpendapat, "Kesetiaan pada seorang saja seumur hidup itu nonsense, dan sama sekali tidak manusiawi! Sekali lagi tidak manusiawi!" Wuih… Yang kemudian disambung lagi oleh Si I, "Kalau pasangan tidak membahagiakanmu, kamu berhak mencari kebahagiaan di tempat lain". Atau kata Si J "Kalau kau mencintai seseorang dan bahagia bersamanya, kau harus menerima dia secara apa adanya, kekuatannya dan kelemahannya, termasuk affair-affairnya. Ya, termasuk affair-affairnya." Beugh!
Hhhh… Ya begitulah, pusing tujuh keliling. Makin pening. Hubungan manusia itu begitu rumitnya, penuh lika-liku. Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah sekedar menggambarkan retorika yang ada. Mengutip pendapat-pendapat berbagai orang dari berbagai kalangan. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa selingkuh itu perilaku baik atau buruk. Belum tentu benar dan belum tentu juga salah. Halal atau tidak halal. Hidup ini pun tak sebaik atau seburuk seperti yang kita bayangkan. Kedalaman cara berpikir seorang manusia acapkali memang tak bisa diselami. Hati orang siapa yang tahu? Dan kita tentunya juga pasti berpikir, hal terbaik apa yang mestinya kita lakukan, untuk diri kita sendiri, atau untuk sesuatu yang kita cintai. Akankah kita mengerti?
Bandung, November 2006