Menulis
Aku tak tahu harus mulai dari mana
Aku tak tahu harus menulis apa
Di tanganku duka, di tanganku suka
…..
Menulis. Ngapain kita menulis? Apa yang harus kita tulis? Ketika pikiran dan otak yang lagi ga jelas malah nulis. Walaupun ingin menulis, tapi yang mau ditulis itu apa?
Beugh…, menulis itu, katanya hanya membiarkan pikiran berkelana dan melayang. Pada apa yang kamu lihat. Pada apa yang kamu rasakan. Biarkan jari jemari menari di atas tuts-tuts keyboard komputer. Mendeskripsikan satu demi satu kata-kata di dalam otak. Menuangkan segala keluh kesah dan cerita di dalam hati. Pada selembar layar putih bersih berekstensi txt. Apapun itu, tuangkanlah.
Tapi, ngomong-ngomong kenapa harus menulis? Padahal gw ga pernah sama sekali berkeinginan untuk menulis. Dan kamu juga sepertinya, mungkin.
Suatu hari, ketika masih SMA, gw tidur-tiduran di kamar kakak gw yang cantique. Penuh boneka di sana. Gw liatin. Salah satu boneka itu terselip sebuah kertas, ada sebuah cerita kecil tentang boneka itu yang tertera. Kok bagus ya ceritanya. Seperti ada sejarahnya. Kemudian, di sebuah kotak mungil dengan gemboknya yang juga mungil, tapi tidak terkunci, ada sebuah buku catatan kecil. Sebuah diary, pinky winky warnanya. Mulai gw buka, gw lihat, dan gw baca. Satu demi satu. Ada coretan-coretan di dalamnya. Ada puisi juga. Ada cerita juga. (Hehehe… I’m sorry Sis…, ga sengaja terbaca neh).
Nah, dari kejadian itu, gw jadi berpikir, kayaknya keren nih klo gw bikin puisi. Seperti kakak gw. Akhirnya gw ambil secarik kertas, mo nulis puisi ceritanya. Kertas udah di hadapan, bolpen udah di tangan, beugh… akhirnya malah ga tau mo nulis apa. Pusing. Klo ga salah, gw menulis tentang bulan waktu itu. Cuman jadi aneh. Bisa-bisanya gw menulis tentang bulan. Entah dari mana tiba-tiba aja bisa bulan. Mungkin karena malam itu bulan bersinar terang di luar sana. Kalimat pertama yang kutulis berbunyi "bulan yang indah…" Abis itu ga tau lagi apa lanjutannya. Ya udah, akhirnya kertas itu pun dibuang. Tuing… Terbanglah si bulan ke tempat sampah. Bhuahahaha… Sori Lan…
Ketika menjelang tidur, mata masih melek, dan pikiran pun melayang. Si bulan ternyata masih menggoda angan. Gw berkata-kata sendiri dalam hati. Merangkai kata demi kata. Layaknya gw bercerita, kepada diri sendiri. Ditemani sang bulan. "Klo semua yang gw katakan ini gw tulis kayaknya bagus", begitu gw pikir. Lalu gw pun beranjak, mencoba lagi untuk menulis. dan hampir sama, beugh… hilang semua apa yang mau ditulis ketika kertas dan bolpen udah di tangan. Gw coba ingat-ingat kembali, masa bodoh, yang penting gw tulis, akhirnya jadi juga. Puisi yang ga jelas.
Puisi itu akhirnya gw simpan aja. Beberapa waktu kemudian, gw lihat dan gw baca. Yach… kok jadi aneh. Gw tertawa sendiri membaca puisi itu. Tapi kemudian, gw buat lagi, yang baru. Sedangkan puisi lama itu gw edit-edit lagi. Begitu seterusnya, ketika SMA gw punya beberapa catatan dan tulisan-tulisan yang ga jelas. Beberapa teman sekelas gw juga punya. Dan gw inget banget, seorang teman minta gw dan teman-teman yang lain untuk menulis puisi di sebuah buku miliknya. Buat kenang-kenangan katanya. Setelah semuanya menulis, suatu hari buku itu gw pinjem, gw baca-baca tulisan temen-temen sekelas gw, ciah… semua punya gaya sendiri-sendiri. Menarik. Dan di mana pada suatu hari nanti, gw berpendapat semua orang itu sebenarnya punya keinginan dan cita rasa dalam hal menulis. Menulis apapun itu. Menulis program, scripts, TA, skripsi, atau penelitian lah contohnya. (Hehehe… Berat amat tulisannya.)
Beranjak kuliah, gw mulai mencoba untuk memiliki buku harian. Bhuahahaha… Buku harian katanya. Udahlah… ga usah dibahas. Jadi malu. Tapi sah-sah saja bukan?
Buku harian merangkap jadwal kegiatan. Isinya kejadian sehari-hari gw. Gw tulisin setiap malam tentang kejadian yang gw alamin tadi pagi sampai malam, dan apa yang harus gw lakukan besok pagi sampai malam berikutnya. Sebenarnya, ga selalu setiap hari. Cuman kalau lagi males, bisa jadi kejadian seminggu gw rangkum dan dicatat jadi satu, atau malah sebulan. Atau kadang dilewatkan sama sekali. Hehehe…
Menulis yang kayak beginian ini (buku dan jadwal harian -red) sebenarnya udah diajarin ama pembina pramuka gw waktu SD dulu. Untuk melatih kerajinan, kemandirian, dan kedisiplinan. Pramuka gitu loh… Hahaha… Cuman ga pernah gw lakuin sepenuhnya. Buat apa? Apa bisa dijual? Begitu dulu mikirnya.
Tulisan atau catatan harian yang gw tulis itu sederhana. Malah mungkin bisa dibilang ga berkelas. Ga jelas. Ga bermutu. Ga menarik lah kalau dibaca.
Tapi, ternyata, yang sangat hebat, yang nggak disangka-sangka, ternyata catatan harian gw itu, yang dulu gw anggap nggak bermutu, ternyata menjadi sangat berharga jauh di tahun-tahun ke depannya. Bukan berharga dalam hal materi atau uang. Tapi berharga buat diri pribadi. Sekali lagi buat diri pribadi.
Wuih… ketika membaca kembali kejadian-kejadian dulu, dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu, jadi tersenyum sendiri, atau jadi sedih sendiri. Terharu. Mengenang berbagai kejadian itu. Ternyata gw dulu begini, gw dulu begitu. Ama si ini, dan ama si itu. Sungguh kenangan yang sangat berharga. Andai saja itu nggak ditulis, mungkin sudah terlupakan. Sebuah catatan sejarah titipan nenek moyang. Hehehe…
Dari catatan-catatan yang ditulis itu, apapun bentuknya, ternyata semua itu bisa menyalurkan emosi. Sedih ataupun senang. Tentang diri sendiri, tentang kamu, tentang dia, tentang mereka, atau tentang siapa saja. Ditulis tanpa beban, jujur, tanpa memikirkan tulisan itu bagus atau pun nggak. Ternyata ada banyak pelajaran yang bisa direnungkan dari semua pengalaman dan cerita itu. Yang bisa digunakan sebagai cermin pribadi, atau gambaran tentang orang-orang dan hal-hal di sekitar. Yang mungkin bisa dibagi kepada orang lain ketika mungkin mereka mengalami hal yang sama. Atau sebagai pelajaran jika suatu hari menghadapi hal yang sama.
Dan dari catatan-catatan itu pula, kadang gw jadi berpikir, nanti buat apa ya? Apa itu berguna buat orang lain? Sepertinya ga lah ya. Apalagi tulisan sehari-hari yang cukup diketahui oleh diri sendiri. Tapi walaupun demikian, gw jadi ingin mengabadikannya. Sayang kalau dibuang. Mungkin akan gw simpan di sebuah acount storage di dunia maya. Di Geocities misalnya. Atau dibikinin domain dan hosting sendiri dalam waktu yang tak terbatas. User id dan passwordnya akan gw simpan di tempat tertentu atau gw berikan kepada seseorang suatu hari nanti sebelum gw mati. Siapa tahu ada yang berkeinginan mengetahui sejarah gw. Bhuahahaha… Tapi sah-sah saja bukan? Udahlah.
Kembali lagi soal menulis. Lepas dari yang namanya catatan harian, klo gw sendiri, sebenarnya ga begitu berminat dengan yang namanya menulis, hanya sering ikut-ikutan. Ya seperti di atas, ngikut-ngikut kakak gw. Atau gaya-gayaan. Dan kalaupun menulis, gw pasti sering dipengaruhi oleh gaya tulisan dari tulisan-tulisan sebelumnya yang gw baca. Klo abis baca tulisan pujangga, gw nulisnya pasti jadi ikut-ikutan sok pujangga, sok puitis, sok romantis. Klo abis baca National Geographic, buletin atau tulisan-tulisan ilmiah, pasti gayanya ikut-ikutan ilmiah. Klo abis baca tulisan yang rada-rada slengean, gw malah terbawa nulis dengan gaya slengean. Kayak sekarang neh contohnya, malah pake kata "elu elu gw gw". Padahal sebelumnya nggak banget jika untuk menulis. Gw lebih senang dengan gaya yang formal, menyesuaikan dengan EYD. Bahasa yang lazim untuk berbagai kalangan. Cinta bahasa Indonesia. Apa mungkin karena lingkungan dan pengaruh orang-orang sekitar? Beugh… Ga jelas nih jati diri. Bodo ah. Teing… Lieur…
Terakhir belajar tentang menulis di organisasi pecinta alam yang gw ikutin. Gw diajarin yang namanya teknik fotografi dan jurnalistik. Keduanya merupakan sebuah bentuk pendokumentasian. Dokumentasi berbagai peristiwa, perjalanan, atau pengalaman. Dan dua-duanya menarik. Cuman, karena ini tentang menulis, gw ungkit tentang jurnalistiknya aja. Selain itu, masih seputaran masa-masa kuliah, juga ada pelajaran jurnalistik pada semester 1, udah lama banget, di mata kuliah Bahasa indonesia. Tapi sayang nilai gw B euy untuk mata kuliah ini.
Ada banyak jenis tulisan yang bisa kita buat. Berita atau reportase, essay, laporan, atau yang lainnya. Satu hal sederhana yang bisa digunakan dalam menulis (dalam hal ini menulis berita), adalah prinsip 5W + 1H. Apaan tuh? Hahahaha… itu artinya berita dikatakan lengkap ketika berita yang kita tulis telah memuat unsur what, where, when, who, why, dan how. Selanjutnya…
Eh, tapi kok gw jadi berbicara teknis nih di sini ya? Padahal amateur. Hehehe… Sori dori mori. Kalau kayak gitu, mending langsung baca buku tentang menulis aja. Hahaha…
Tapi begitulah, menulis adalah suatu hal yang baik.Tuangkan segala keluh kesahmu, sampaikan opini ataupun pendapatmu, paparkan setiap perjalanan, tuangkan segenap pengalaman, pada selembar kertas, pada sehelai notepad, dan ceritakanlah kepadaku, kepadanya, kepada semuanya. Semoga ceritamu ikut mewarnai suasana dunia.
Hhhh… Kurang lebih mungkin seperti itulah.
Song Lyrics Taken from Iwan Fals - Lagu Cinta
Bandung, Oktober 2006