Archive for February, 2007

Cinta

Wednesday, February 14th, 2007

     Valentine? Apaan nih? Hari kasih sayang. Hari cinta. Ketika banyak orang yang merayakannya. Banyak yang ikut-ikutan. Banyak yang cuek-cuek aja. Banyak yang nggak peduli. Dan banyak pula yang mencemohnya. Yach… apapun itu, sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain dan kita tidak melihatnya dari satu sisi. Mengartikan hari, mengartikan cinta, mencintai, ataupun dicintai. Ngomong apaan sih?
     Ehm… Klo menurut gw, mencintai adalah saat dimana kita membuat sesuatu atau seseorang itu berarti bagi kita. Apapun itu dan siapapun itu. Tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak, perasaan itu menjadi ada. Dan ketika kita merasakan jatuh cinta, ketika itu pula bersiap untuk sakit. Karena di manapun yang namanya jatuh itu pasti rasanya sakit.
     Kalau cinta, ada yang bilang bahwa "cinta itu tak harus memiliki". Memang sih hal tersebut ada benarnya. Tapi menyakitkan banget. Bayangkan aja ketika kita mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya. Ambil contoh klo kita jatuh cinta ama seseorang yang kita liat di tipi, Tom Cruise atau Britney spears misalnya, tentunya susah bagi kita untuk memilikinya. Sedih bukan? Beugh… contoh yang aneh banget dan ga mengena. Dasar bodoh! Lengeh celenge…!!! Ganti!!!
     Udahlah, contoh orang kebanyakan aja deh. Misalnya kita mencintai seseorang. Yang kita tau dan udah kita kenal  pastinya (bukan artis di tipi lagi). Karena sesuatu hal, kita tidak bisa bersama mereka. Putus deh di tengah jalan. Atau nggak bisa bersama. Lingkungan tak bisa menerima. Karena perbedaan misalnya. Sosial, agama, umur, cara berpikir, de el el. Jarak yang memisahkan. Dikhianati. Ditinggalkan. Sakit…? Pasti lah ya. Namanya aja jatuh.
     Atau yang lebih parah lagi, mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Hahaha… Susah deh kalau yang ini, punya pujaan hati, tapi jauh di mata jauh pula di hati. Beugh… Adakah yang seperti ini? Mmm… Banyaklah tentunya, cinta bertepuk sebelah tangan. Ya udah, nikmatin aja kata-kata "cinta tak harus memiliki" itu. Hehehe…
     Yach… apapun alasannya, itu adalah hak setiap orang untuk menentukan perasaannya. Menentukan pilihannya. Mau mencintai kita, mau memiliki kita, atau tidak dua-duanya sama sekali. Itu hak mereka. Emangnya kita bisa seenaknya membuat seseorang bisa kita miliki?
     Ada yang bilang kalau "cinta itu tahi kucing rasa coklat". Bingung gw. Perasaan ga ada yang mau makan tahi kucing deh walaupun rasanya coklat. Tapi udahlah. Cuman mau mengatakan kalau kita mencintai seseorang dan orang tersebut mencintai kita juga. Apalagi semua bisa menerima. Duh… indahnya. Dunia serasa milik berdua. Bahagia bersama. I Love U dear…
     Tapi, btw, gw jadi ngelantur begini nih jadi nulis tentang cinta. Padahal mo nulis tentang valentine. Kayak jagoan banget tentang cinta. Tapi kalau hanya berpendapat itu adalah sah-sah aja, bukankah begitu teman-temanku sekalian? I Love U deh. Hehehe…
     Yach… apapun hari ini bagi kalian, gw cuman mo ngucapin Met Valentine. Maap buat yang kurang berkenan. Gw harap semoga cinta selalu ada dalam setiap langkah kita.
     Akhir kata, nggak hanya buat hari ini, tapi buat selamanya, buat semuanya, gw cuman mo bilang bahwa kita semua layak untuk mendapatkan cinta di dunia ini. So, perjuangkanlah. Hargai sepenuhnya jika diberikan. Dan yang pasti, berikan pula itu dengan setulus hati.

Jakarta, Februari 2007

Musim Kemarau Kering, Musim Hujan Banjir

Sunday, February 11th, 2007

    Di suatu pagi, di sudut kota, di kala gerimis mengundang (kok seperti judul lagu band dari Malaysia ya?).
    * * *
    Ketika musim hujan telah datang. Banjir pun menjadi langganan. Ketika musim kemarau, panasnya minta ampun.  Benar-benar memprihatinkan. Kenapa itu bisa terjadi?
    Kemarau, orang berlomba-lomba membakar hutan supaya lahan yang nantinya dibuka bisa dijadikan kebun dan ladang di musim penghujan. Kalau musim hujan datang, ya sutralah…
    Kita semua tahu kalau segala bencana yang terjadi memang atas kehendakNya. Takdir katanya. Beugh… Takdir apaan kalau yang membuat takdir juga kita sendiri. Tapi walaupun memang harus seperti itu, bukan berarti membuat kita seenaknya saja memperlakukan alam dan isinya. Kita semua bisa berusaha dan dibekali kekuatan untuk selalu berusaha dan berbuat yang terbaik.
    Ketika musim kemarau yang panjang, sadarkah kita gemericik sungai yang tetap mengalir itu datang dari mana? Air yang masih mengucur dari keran kamar mandi kita datang dari mana? Masih ada udara yang bisa dihirup itu dari mana? Dan ketika musim hujan tiba, kalau terjadi banjir, itu karena apa?
    Kenapa orang senang mengunjungi tempat-tempat yang indah? Dan kenapa orang jarang mengunjungi tempat yang tak indah? Kota dan desa yang kumuh atau banjir misalnya? Mendaki gunung yang gundul kering kerontang? Atau menyusuri sungai yang penuh limbah dan bau? Masih mau nggak kita berwisata melakukan perjalanan-perjalanan ke tempat seperti itu? Masih? Baguslah…
    Seorang kawan pernah berkelakar, kalau saja musim kemarau itu terjadi puluhan tahun, atau musim hujan berlangsung puluhan tahun, masihkah tindakan kita memperlakukan alam seperti sekarang ini? Dan apakah yang akan terjadi? Mungkin saja semua mahluk di bumi ini punah. Dan bumi mengulang siklus kehidupan dari awal lagi.
     Mungkin apa yang dikatakan itu terlalu berlebihan. Tapi kalau dipikir, mungkin nggak itu terjadi? Kemungkinannya ada. Kalau memang harus terjadi, mau ke mana lagi kita lari? Apakah kita semua akan pindah ke Mars?
    Hal-hal seperti ini (kering di musim kemarau dan banjir di musim penghujan), sesungguhnya bukan suatu hal yang baru bagi negeri ini. Hanya saja jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya, ada perbedaan frekuensi dan kerusakan yang ditimbulkan (bertambah tentunya).
    Kita semua juga menyadari, jika ditanya kenapa itu terjadi, pasti bisa menjawab karena keseimbangan alam terganggu dan rusak. Dan ketika banjir atau kekeringan tiba, menangislah kita. Bantuan pun mulai berdatangan. Tapi penanganan supaya tak terulang lagi tidak ada. Jika diibaratkan manusia, kita hanya berobat ketika sakit tetapi kesehatan tidak pernah dipelihara dan dijaga.
    Dan semoga saja kita semua sadar, untuk menangani itu semua bukan hanya dengan membantu korban yang terkena banjir atau kekeringan yang hanya sesaat. Yang di kemudian hari jika terjadi banjir dan kekeringan lagi, semua itu akan terulang lagi. Tetapi lebih ke arah menjaga dan memulihkan lingkungan untuk jangka yang lebih panjang.
    Beugh… Kemarin musim kemarau, kebakaran dan kekeringan merajalela. Sekarang, kepala pusing mikirin hujan berhari-hari dan banjir merajalela di musim penghujan.
    * * *
    Akhirnya, banjir yang merusak membuat akhir minggu awal bulan ini memberikan kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bersama beberapa tim, aku pun berangkat, dipayungi mendung hitam dengan hujan bergerimis, ditemani angin yang membawa senyum manis dari kejauhan, menuju target sasaran, dan menyusuri kota yang dikepung oleh banjir di mana-mana.

Jakarta, Februari 2007