Archive for April, 2007

Hari Bumi

Sunday, April 22nd, 2007

    Setiap tahunnya, 22 April dirayakan sebagai Hari Bumi. Kenapa tanggal itu yang dipilih? Pada hari yang sama di tahun 1970, tercatat sekitar 20 juta orang di Amerika Serikat berunjuk rasa. Mereka berkumpul menyerukan keprihatinannya tentang perubahan iklim, pemanasan global, dan polusi lingkungan yang semakin tak terbendung. Sejak saat itu, kepedulian lingkungan dijadikan isu di seluruh dunia.
    Aksi bersih-bersih, penanaman pohon, ataupun tindakan sederhana seperti sekadar membeli produk daur ulang dan menggunakan kembali gelas plastik, banyak dilakukan orang untuk menandai hari ini. Rasanya tak cukup hanya di hari itu saja kita peduli kepada tempat kita berpijak. Hari Bumi boleh jadi awal, tapi kepedulian terhadap lingkungan harus jadi kebiasaan sehari-hari.
    Hari Bumi sendiri punya bendera bergambar foto planet bumi berlatar belakang biru tua. Foto yang diambil dari pesawat luar angkasa Apollo pada tahun 1969 ini dapat dijadikan bahan renungan buat kita semua. Akankah warna yang sama akan ditangkap kamera beberapa puluh tahun mendatang? Apakah warna bumi akan berubah jadi lebih suram akibat polusi? Apa yang akan mulai kita lakukan untuk bumi?
    Salam lestari! Salam hangat dari sini, sebuah tempat di sudut bumi.

History Taken from Tabloid Rumah
Bandung, April 2007

Aku Mau … (Feminisme dan Nasionalisme)

Saturday, April 21st, 2007

    Kamu tahu motto hidupku? "Aku mau".
    Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan.
    "Aku tidak mampu" menyerah.
    "Aku mau!" mendaki gunung itu.
    Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat.
    Stella, jagailah selalu api itu!
    Jangan biarkan dia padam.
    Buatlah aku selalu bergelora.
    Biarkan aku bersinar, kumohon.
    Jangan biarkan aku terlepas.

    Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku, dan "Raden Ajeng", dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku… tentu tidak bisa hanya menulis Kartini, bukan?
    Aku sungguh mengenal seorang yang kukagumi, perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas dan bergelora. Ya, aku bisa katakan, meski aku tak pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudari yang berada nun jauh di sana, di Barat.
    Jika hukum yang berlaku mengizinkan, aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi di sini sungguh teramat kuat mencengkeramku. Aku yakin, suatu hari nanti, cengkeraman itu akan merenggang, namun saat itu sungguh masih jauh, sangat jauh. Aku tahu saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku! Oh, kamu tidak dapat mengerti dengan sepenuh hati dan jiwamu seperti apa rasanya menantikan zaman seperti itu, zaman baru, zamanmu. Sementara, pada saat yang sama, aku tak bisa lari dan masih diikat erat oleh hukum, kebiasaan, dan adat istiadat. Siang malam aku merenungkan, mempertimbangkan dengan hati-hati untuk bisa keluar dari moralitas dan adat istiadat di negeriku. Tapi, tradisi dunia Timur selama berabad-abad sangat kuat dan kokoh. Bisa saja aku mengobrak-abrik tradisi ini jika aku tidak terikat pada ikatan yang lain, ikatan terhadap orang-orang yang memberiku kehidupan di mana pada merekalah aku berhutang segalanya, segalanya. Tentu akan terlukalah hati mereka, jika mauku hanya memenuhi kehendak dan kerinduanku saja, meski semuanya itu sebenar-benarnya telah menjadi nafas hidupku.
    * * *
    Hhhhh, hanyalah sepenggal sebuah surat Kartini. Di hari ini, di kelahirannya. Kadang aku tak habis pikir untuk orang-orang yang memperingati hari ini. Para perempuan di kantor atau sekolahan berkebaya, memakai konde, dan berias secantik-cantiknya. Itukah harapan yang diinginkan dari semangat yang ada dalam sepenggal tulisan di atas? Tampil dari dandanan fisik?
    Semoga saja bukan hanya dari itu. Semoga semangat sebagai seorang perempuan yang hebat selalu ada walaupun tanpa kebaya ataupun konde.
    Untuk semua perempuan di Indonesia, and spesial for my lovely sister (tau nih, lagi kangen ama kakak), Selamat Hari Kartini. Semoga semangat itu selalu ada.

Taken from Surat-surat Kartini kepada Stella
Bandung, April 2007

Mendung di Langit

Sunday, April 8th, 2007

Awan terentang
Bagaikan lukisan terpanjang
Senja menepi
Selalu ada dan menggoda
Matahari melukis cakrawala
Di relung lautan
Ada ciptaan dewata
Nun jauh dari sini
Bintang sedang menari
Bersama bulan dalam peraduan
Di pergantian tahun ini
Tapi hujan tak turun
Karena mendung tak ingin merusak hari
Dan langit pun beranjak cerah
Karena bintang begitu berarti

Balikpapan, Maret 2007