Jalan-jalan ke Pulau Pramuka
Saturday, October 20th, 2007Terlambat
Pagi yang cerah. Alarm pada HPku telat berbunyi. Ternyata jam yang kuseting salah. Rencana berangkat ke Pulau Pramuka pagi ini yang direncanakan jam lima pagi akhirnya telat menjadi jam enam lewat. Berangkatnya pun hanya berdua. Aku bersama Ufo, teman satu kosanku di Jakarta, anak STT Telkom juga, dari Bali. Sedangkan teman-temanku lainnya yang mengatakan ingin ikut, ternyata ga jelas sampai hari H keberangkatan. Ya sudah, tanpa banyak menunggu, akhirnya berangkat berdua, setelah kemaren belanja seadanya untuk bekal perjalanan.
Sampai di Muara Angke pukul tujuh pagi lewat. Menuju ke dermaga, alamak, kapal motor menuju Pulau Pramuka baru saja berangkat. Aku telat hanya beberapa menit. Kapal motor berikutnya jam satu siang.
Sial. Aku dan Ufo hanya bisa saling menyalahkan karena bangun kesiangan.
Jalan-jalan di Muara Angke
Akhirnya, daripada menghabiskan waktu hanya dengan menunggu keberangkatan kapal berikutnya, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan di seputaran Muara Angke.
Muara Angke merupakan sebuah dermaga yang menghubungkan Jakarta dengan pulau-pulau di Kep. Seribu. Juga merupakan kota nelayan dengan pasar ikan.
Beberapa gambar tentang Muara Angke kuambil dari kamera digitalku yang LCDnya sudah rusak. Banyak pedagang yang menawarkan ikan segar kepadaku ketika aku melihat-lihat pasar.
Masuk di komplek pusat jajanan Muara Angke, berjajar warung-warung lesehan yang menjual ikan laut bakar dan sejenisnya. Rata-rata sudah tutup karena saat itu bulan puasa. Kulihat satu warung ada orang yang sedang membakar ikan. Aku dan Ufo pun memutuskan untuk sarapan pagi ikan bakar di tempat itu.
Lama kuhabiskan waktu di warung ikan bakar yang bernama Sentral itu. Sambil bertanya-tanya tentang Muara Angke dengan pemilik warung. Juga tidur-tiduran dan menghabiskan beberapa bekal yang kubawa.
Menjelang tengah hari, kami pun beranjak meninggalkan warung tersebut menuju dermaga tempat kapal motor yang akan menuju Pulau Pramuka.
Berangkat
Di dalam kapal motor, sebelum berangkat, memang terasa cukup gerah dan panas. Sedikit memusingkan dan membuat perut mual jika tidak terbiasa dengan goyangan kapal.
Tepat jam satu siang, kapal pun berangkat. Angin berdesir menghapus keringat yang menetes. Melewati kapal-kapal lain yang parkir di dermaga. Di seberang timur, di wilayah Ancol, terlihat gedung-gedung bertingkat yang baru dibangun.
Di tengah laut lepas, perasaan takutku mulai muncul karena gelombang mulai bertambah besar. Sedangkan Muara Angke di belakang sudah terlihat jauh. Di seberang, di sebelah kanan, pulau pertama yang dilewati adalah Pulau Bidadari. Sedangkan Pulau Pramuka masih jauh, salah satu pulau terjauh yang akan kami tuju.
Melewati Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut
Satu jam lewat, kapal motor berlabuh di Pulau Untung Jawa. Nama pulau ini kuketahui karena aku sengaja pindah ke depan di samping nahkoda dan bertanya kepadanya. Sementara Ufo dan penumpang lainnya kebanyakan tertidur selama perjalanan.
Di seberangnya lagi, kira-kira tidak lebih dari satu kilometer, ada Pulau Rambut. Sempat kubaca di sebuah artikel, kalau Pulau Rambut tidak berpenghuni. Hanya ada sesekali petugas Taman Nasinal yang berpatroli atau memantau tempat itu. Pulau Rambut merupakan tempat burung-burung di Kepulauan Seribu sekaligus rumah berbagai jenis ular dan reptil lainnya. Memang, ketika kulihat pulau itu, banyak burung beterbangan dan mencari makan di tengah laut. Dan mungkin kelak, pulau itu akan kukunjungi.
Mengarungi Laut Lepas Lagi
Beranjak dari Pulau Untung Jawa, kapal motor pun melaju lagi menerjang ombak menuju jauh ke utara. Pulau Untung Jawa mulai samar tak terlihat. Pulau-pulau lain juga samar terlihat di belakang. Di depan belum terlihat ada pulau. Hatiku ciut juga di tengah lautan lepas ini.
Kira-kira masih 2 jam lagi untuk sampai ke Pulau Pramuka, begitu kata nahkoda ketika kutanya. Kapal-kapal motor mulai jarang terlihat. Hanya satu dua perahu nelayan terlihat di kejauhan. Sempat pula berpapasan dengan sebuah kapal kilang minyak yang cukup besar. Melewati belakang kapal tersebut, kulihat nahkoda melakukkan manuver untuk mengendalikan kapal motor karena gelombang dan arus di belakang kapal kilang minyak terbentuk akibat haluannya yang cukup lebar. Mengerikan juga melihatnya.
Tiba di Pulau Pramuka
Itu Pulau Pramuka. Tunjuk nahkoda kepadaku pada samar-samar pulau jauh di depan. Terlihat dua tower tegak berdiri. (BTS Telkomsel dan XL. Operator lain mana nih?).
Mendekati Pulau Pramuka, terlewati juga sebuah pulau kecil. Namanya Pulau Air. Kata nahkoda, pulau tersebut merupakan pulau pribadi seorang pejabat tinggi masa orde baru. Terlihat di pinggir pantainya sebuah bangunan yang menyerupai vila.
Mesin kapal mulai berhenti pelan-pelan. Kapal pun merapat. Aku pun melompat ke tepian dermaga tempat kapal menepi setelah mengucapkan terima kasih pada nahkoda.
Pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, cukup menngesankan. Pantainya terlihat bersih. Airnya jernih kebiruan. Sepertinya memang dijaga untuk kegiatan berwisata. Kalu berenang di sini, sepertinya nyaman juga.
Beranjak menuju ke dalam, terbentang pintu gerbang dengan bertuliskan "Selamat Datang di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu". Tepat di depan dermaga, ada sebuah rumah Sakit Umum Kepulauan Seribu dan sebuah masjid yang cukup besar. Angin berdesir menyejukkan suasana yang panas.
Survey Mencari Tempat Bermalam
Di samping rumah sakit, ada sebuah tempat penyewaan jasa snorkling. Di depannya juga tertulis Pusat Informasi Pulau Pramuka. Aku masuk ke sana dan bertanya mengenai informasi seputar Pulau Pramuka.
Kata penjaganya, ada beberapa vila sebagai tempat bermalam dengan harga sekitar tiga ratus ribuan. Alamak, mahalnya, gumamku dalam hati. Aku juga bertanya-tanya mengenai kegiatan snorkling dan diving di tempat ini. Sepertinya cukup terjangkau untuk kegiatan sekelas itu. Dari 35.000 sampai 500.000, untuk peralatan dasar sampai yang komplit untuk diving.
Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun melihat-lihat vila yang dimaksud. Vila-vila tersebut memang tempatnya cukup nyaman dan indah. Di depan pantai, dinaungi beberapa pohon mangrove. Tapi sayang, kami hanya berdua. Sepertinya begitu berlebihan jika aku menyewa vila tersebut.
Kemudian aku survey lebih ke dalam lagi. Kudapatkan sebuah rumah penduduk yang bisa kusewa. Harganya bisa kutawar. Cukup murah dibandingkan harga-harga vila dan jumlah orangnya tidak dibatasi. Tempatnya bersih dan nyaman walaupun pemandangan di sekitar vila kalah dengan vila-vila sebelumnya yang kulihat. Tapi tak mengapa, toh aku akan lebih menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di pulau ini daripada menghabiskan waktu di rumah tempat bermalam.
Senja di Pulau Pramuka
Setelah istirahat sejenak di rumah yang kami sewa, kami pun jalan-jalan di sepanjang pantai. Airnya jernih dengan pasirnya yang putih. Karang yang ada sepertinya sedikit. Mungkin lebih ke dalam terumbu karangnya banyak dan indah.
Terlihat beberapa penduduk di sepanjang pantai yang sedang membibitkan pohon mangrove. Akan ditanam di pantai pulau pramuka, kata mereka ketika kutanya. Dan memang di sepanjang pantai, terutama di pantai timur Pulau Pramuka, terlihat pohon-pohon mangrove yang baru ditanam.
Ibu-ibu dan beberapa anak kecil terlihat berkeliling pulau dengan mengendarai odong-odong, sejenis kendaraan sepeda motor dengan gerobak tarik. Kata seorang penduduk, memang begitulah rutinitas sore penduduk di Pulau Pramuka. Sungguh aneh menurutku, mengelilingi pulau setiap sore. Padahal kalau jalan kaki, mengelilingi pulau ini tidak sampai satu jam.
Seperti halnya daerah pantai pada umumnya, hal menarik yang kita temui di Pulau Pramuka tentu saja adalah suasana matahari terbenam. Langit yang memerah dengan bayang-bayang matahari di laut memang sungguh indah. Buat yang hobi fotografi, tentu tak akan bosan mengekpresikan imajinasinya mengambil momen-momen seperti itu.
Ketika Malam Menjelang
Setelah makan malam di sebuah warung, kami jalan-jalan lagi. Suasana tidak begitu ramai. Bisa dibilang sepi. Mungkin karena sebagian besar warga sedang sholat tarawih di masjid Pulau Pramuka ini. Di beberapa tempat, anak-anak kecil terlihat sedang bermain kembang api dan petasan, khas suasana bulan ramadhan.
Di dermaga, hanya ada beberapa kapal motor dan juga ojek kapal sedang parkir. Beberapa orang juga terlihat sedang memancing. Di beberapa sudut kejauhan, satu dua pasang muda-mudi tampak sedang berduaan.
Di dermaga ini, aku sempat ngobrol dengan ketua rw salah satu pulau pramuka. Dia bercerita cukup banyak mengenai pulau ini. Dan sempat menginterogasiku, dari bertanya ada perlu apa sampai pertanyaan apakah kami membawa barang-barang terlarang seperti tembakau aceh misalnya. Sialan.
Tak begitu lama aku ngobrol dengan ketua rw tersebut. Ia akan berangkat ke Pulau Kelapa untuk ikut mengantar seorang warga yang akan melahirkan dan akan dibawa ke Jakarta malam itu.
Malam makin larut, aku masih duduk di tepian dermaga. Menikmati suasana malam dengan deburan kecil ombak di sepanjang pantai. Di seberang, lampu-lampu perumahan di Pulau Panggang dan sebuah keramba ikan terlihat kerlap-kerlip.
Dan aku pun beranjak ketika mata mulai mengantuk.
Hari Berikutnya
Aku bangun kesiangan. Rencana untuk snorkling pagi itu pun batal. Selain duit yang mulai menipis, aku juga enggan berenang di pantai yang sangat panas. Di pulau ini tidak ada ATM, jadinya duit benar-benar dikeluarkan sesuai perencanaan. Nggak bisa sembarangan menghamburkan duit jika yang dibawa dari Jakarta pas-pasan.
Di bagian timur pulau ini, kami singgah di sebuah rumah tempat penyelamatan penyu. Ada banyak penyu berbagai ukuran di tempat itu. Juga bibit-bibit pepohonan yang berjajar rapi, terutama bibit mangrove.
Seorang bapak-bapak terlihat sedang menyiram bibit-bibit pohon. Sekilas, kulihat wajahnya dengan sebuah foto peraih penghargaan kalpataru di dinding tembok, sama. Seperti dia Pak Salim, seperti yang tertulis pada piagam penghargaan itu.
Aku mendekatinya, dan mulai membuka obrolan. Awal yang mengagetkan, begitu gumamku dalam hati ketika ia menyambutku dengan tidak ramah. Sepertinya ia tidak begitu suka dengan wisatawan. Aku pun membiarkan dia berbicara panjang lebar padaku tentang beberapa orang yang tidak mengerti tentang penyelamatan penyu dan penanaman mangrove. Juga tentang orang-orang yang mengaku dari LSM atau peneliti yang pernah datang ke tempat ke tempat itu. Sedangkan Ufo melihatku dari kejauhan, bingung melihatku seperti dimarahi oleh Pak Salim.
Aku mulai memperkenalkan diri ketika ia terlihat mulai tenang dan menjadi ramah, serta senang dengan apa yang diceritakannya. Ia pun bercerita panjang lebar lagi. Tentang usahanya yang lebih dari lima tahun untuk menggerakkan penduduk untuk melakukan penanaman mangrove di sepanjang pantai. Tentang penyelamatan penyu-penyu di kepulauan Seribu. Sampai kerja samanya dengan Taman Nasional. Dan tentang kesadaran kita akan pentingnya penyelamatan lingkungan.
Pak Salim mulai senang menjelaskan tentang pembibitan yang dilakukannya ketika aku banyak bertanya mengenai masalah tersebut. Diajaknya aku berkeliling di sekitar rumah tempat pembibitannya itu. Ditunjukkannya aku bibit-bibit yang seharusnya harganya tidak mahal. Beberapa bibit lavender, butun, dan yang lain tampak di sela-sela bibit mangrove. Bagaimana caranya membibitkan yang baik. Katanya, dia akan sangat bangga jika ada orang yang mau mengembangkan bibit-bibit tersebut. Cukup dengan menanamnya dan membiarkan dia hidup.
Menjelang tengah hari, aku pun pamit kepadanya. Dibekali dua biji butun untuk kubawa pulang. Nati kamu tanam itu di kampusmu di Bandung. Atau di kosanmu di Jakarta. Kalau bisa dikembangkan. Begitu dia berpesan kepadaku.
Kembali Pulang
Menjelang pukul satu siang, kami mulai berkemas. Mengembalikan kunci rumah dan berpamitan kepada pemiliknya. Di dermaga, kapal motor yang menuju Muara Angke baru saja tiba. Kira-kira menunggu lima belas menit, kapal pun berangkat. Meninggalkan Pulau Pramuka yang hanya sekejap aku kunjungi. Tapi cukup memeberikan banyak cerita dan pengalaman dalam hidupku. Dengan tempat dan orang-orang baru yang kutemui.
Jakarta, September 2007