Archive for December, 2007
Sebelum Melangkah ke Depan
Sunday, December 30th, 2007 Kehidupan bagaikan perjalanan seorang pengelana. Setiap langkah yang dilakukan menciptakan banyak jejak yang ditinggalkan. Kisah yang indah mengisi hari ataupun tragedi yang menyayat hati.
Sebelum melangkah ke depan, ada baiknya kita melihat ke belakang. Dari 365 hari yang telah kita lalui, setiap harinya memiliki cerita sendiri. Setahun sudah kita lewati. Banyak hal terjadi. Telah mengunjungi berbagai tempat baru, orang-orang baru, pengalaman baru. Cerita tentang keluarga, tentang cinta, teman, maupun pendidikan ataupun karir.
Mengenangnya semoga membuat kita bisa lebih baik di kemudian hari. Apapun itu, selama kita berpikir positif, semuanya adalah yang terbaik untuk kita. Suka ataupun duka.
Dan di esok hari, melangkah di tahun yang telah berganti, berbagai cerita pasti telah menanti. Jika segala sesuatu memang harus terjadi, mau tidak mau, kita semua harus siap menghadapi. Memahami perjalanannya. Cerita kita di dunia akan selamanya terus mengalir sampai nanti.
Selamat Tahun Baru 2008. Semoga harapan baru memberikan semangat baru untuk kita. Being happy. And I Love U all.
Jakarta, Desember 2007
Kebun Binatang Ragunan
Saturday, December 29th, 2007 Selasa, Natal di bulan desember ini, aku sebenarnya udah berencana untuk jalan ke Dago Pakar - Maribaya, Bandung. Hanya saja, karena ditahan-tahan ama anak-anak kosan, akhirnya batal. Jadilah hari itu aku mengunjungi saudara-saudara dan teman-teman kita di Kebun Binatang Ragunan. Kangen, sekian lama tidak pernah bersua.
Berangkat jam dua belas siang karena bangun paginya males-malesan. Bareng ama Astaka dan Sapi. Meluncur menuju selatan Jakarta. Banyak pohon di jalan menjelang Ragunan, jadi sejuk. Langit di atas sana juga sudah mulai mendung.
Makan siang di warung depan pintu masuk kebun binatang. Alamak… Harganya mahal, hampir dua kali lipat dari harga-harga sekitar kosanku. Tapi mau gimana lagi. Nggak bisa protes. Makanannya udah dimakan. Hiks…
Memasuki pintu masuk parkir motor utara Kebun Binatang Ragunan, ratusan motor dan mobil udah terlihat memenuhi tempat parkirnya. Ditambah dengan manusia-manusianya, sepertinya jumlahnya ribuan. Maklum, liburan akhir tahun ini mungkin menyebabkan warga Jakarta tumpah ruah ke tempat ini.
Binatang-binatang yang ada sebenarnya nggak begitu menarik perhatianku. Tujuanku ke tempat ini lebih cenderung dengan alasan "biar pernah" aja. Sekaligus hunting foto binatang. Cuman sayang, lensa EOS400Dku masih standar. Binatang-binatang yang mau diambil gambarnya sebagian besar posisinya jauh dari pagar pembatas. Jadi susah berekspresi. Tapi nggak pa pa. Yang penting man behind the gun nya OK. Bhuahaha.
Burung, reptil, monyet, harimau, dan singa kuambil gambarnya. Selain itu beberapa foto tentang suasana kebun binatang yang ramai serta foto-foto narsis Astaka dan Sapi juga mengisi memori kamera.
Satu hal yang yang selalu terjadi adalah, tetap aja aku yang jauh-jauh main ke Ragunan, ketemunya ama anak-anak sekampus juga, es te te telekom. Sebut saja dua orang teman sekelas Astaka dulu. Terus ketemu ama Kentang dan Husni yang juga lagi hunting foto di sana. Dan buset… Lensa yang mereka bawa membuatku minder euy.
Kebun binatangnya sendiri menurutku agak kurang enak. Kalau bau, udah pastilah ya. Secara banyak binatang yang tentu saja nggak tahu aturan harus boker dan pipis di mana. Terus yang membuat pemandangan menjadi terganggu adalah hadirnya para pedagang asongan ataupun yang menggelar dagangannya di lingkungan kebun binatang. Mataku rada sepet ngeliatnya. Bukan bermaksud nggak menghormati orang yang mau cari rejeki sih, cuman ya itu, mengganggu kenyamanan pengunjung. Apalagi sampah-sampahnya banyak juga yang berceceran. Atau kenapa pihak pengelola nggak menyediakan tempat buat mereka? Sejenis kantin atau tempat khusus lainnya? Tanya kenapa?
Selepas adzan azar berkumandang, sekitar jam empat sore, langit bertambah gelap. Hujan pun turun dengan lebatnya. Aku, Astaka, Sapi, Husni, beserta Kentang dan adiknya pun cabut. Untuk kemudian nongkrong di sebuah warung kopi menunggu hujan reda. Setelah cukup lama bertukar cerita tentang kabar masing-masing dan langit cerah kembali, kami pun berpisah.
Jakarta, Desember 2007
Sekali Lagi (Mon Amour)
Saturday, December 29th, 2007 Di kala hati resah
Seribu ragu datang memaksaku
Rindu semakin menyerang
Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
Dengan sayap pengharapan
Kuingin terbang jauh
Biar awan pun gelisah
Daun-daun jatuh berguguran
Waktu itu aku menunggu malam untuk selesai berdandan. Bermandikan cahaya bulan berhiaskan senyuman bintang. Seperti yang sudah-sudah. Senja berganti malam memang indah. Langit yang perlahan beranjak merah keemasan. Senja yang begitu menawan. Walaupun kadang suasana senja sering membuat hati terluka.
Kita berjalan menyusuri jejak-jejak malam. Melihat bintang-bintang. Cantiknya rembulan. Tapi pernahkah kita bertanya siapa kita? Sepertinya kita adalah sama. Saat aku merasa berarti di sampingmu. Saat kamu berharga ketika bersamaku. Tapi saat aku terlelap begitu lama, aku bukan siapa-siapa. Dan kita ternyata juga bukan siapa-siapa. Mestikah aku bersedih?
Waktu itu aku sedang tidak menunggu malam. Aku sedang membuka hari. Merangkai goresan lembar demi lembar. Aku tak tahu siapa yang menuntun jemariku. Mungkin itu kamu kawan.
Apakah ceritamu sudah beranjak senja? Begitu tanya mereka. Ketika makin bimbang hatiku untuk menutup hari. Ketika aku terlelap, tertidur, dan bermimpi. Membiarkan semuanya berlalu. Sepertinya biasa saja. Memangnya kenapa kalau aku tertidur lama? Tidur sajalah. Tidak banyak orang yang menunggu untuk bangun. Kehidupan di luar sana akan tetap berjalan.
Kini kita tak lagi berjalan menyusuri jejak-jejak malam. Tak lagi melihat bintang-bintang dan indahnya rembulan. Hanya masih kugenggam erat tanganmu. Selalu. Esok aku akan terbang.
Aku terbangun. Melihat hari itu. Sekali lagi. Selalu ada mimpi. Bukankah kita tak berkuasa atas hidup kita sepenuhnya? Setidaknya jika suatu hari nanti kita mati, kita percaya bahwa kita akan baik-baik saja. Walaupun kita bersedih. Walaupun kita tertawa. Sebenarnya semuanya biasa saja. Walaupun tak sebaik yang kita inginkan. Dan kita tak akan menyesal, karena kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Nanti akan kulihat diriku lagi. Yang sedang terbang. Membelah langit. Menembus awan. Melihat bintang yang menunggu malam selesai berdandan.
Lyrics Taken from Yana Julio - Selamanya Cinta
Bandung, Oktober 2007
Buat Ibunda Tercinta
Saturday, December 22nd, 2007
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku
Lyrics Taken from Potret - Bunda
Jakarta - Desember 2007
Undangan
Saturday, December 22nd, 2007 Hari ini ada resepsi teman SMAku. Teman SMAku yang sudah menikah dua minggu yang lalu. Keduanya teman SMAku. Sabu dan Yeppi namanya. Beberapa waktu yang lalu aku ditelpon oleh Lompang (sobatku juga), mengatakan bahwa aku dapat undangan dari mereka. Katanya sebagian besar teman-teman seangkatan waktu SMA diundang. Wuih… Kayaknya resepsi ini bakalan jadi ajang reunian. Apalagi waktunya bertepatan dengan libur panjang akhir tahun. Sepertinya mereka sengaja memilih waktu resepsi mereka ke akhir tahun, agak jauh dari upacara pernikahannya sendiri (akad nikah -red).
Sial… Aku jadi bersedih begini. Nggak bisa datang. Dengan berat hati. Memebayangkan kerja shift-shiftan ada nggak enaknya juga. Ketika orang pada kerja, aku liburan. Ketika orang liburan, aku yang kerja. Dan aku pun hanya bisa menelpon keduanya untuk mengucapkan selamat. Dan yang pasti, ketika mereka menanyakan kapan aku menyusul, hanya bisa kujawab "May", sambil tertawa.
Flash back ke belakang, ternyata sudah sekian lama waktu berlalu. Kuingat satu persatu wajah dan nama teman-teman lamaku. Mulai dari yang sekelas sampai ke kelas lain dan jurusan yang lain pula. Sebagian besar masih kuingat. Dan parahnya, ada yang kuingat tapi kulupa namanya.
Sepertinya semua sudah menemukan jalan hidupnya masing-masing. Dan kehadiran teman-teman lama, dulu, sedikit banyak telah berpengaruh dalam hidup kita sekarang. Masih dan ingin kulihat kembali, masihkah akan selalu bisa bersama-sama lagi. Melihat seragam putih abu yang dikenakan. Mengenang cerita-cerita penuh semangat dan romantika ketika SMA. Begitu menyenangkan.
Sabtu sore seusai hujan. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana saat ini teman-temanku penuh suka cita di acara itu. Hhhh… Happy wedding for you my friends. Wish all the best for you.
Jakarta, Desember 2007
Harta Karun untuk Semua
Wednesday, December 12th, 2007 Mari kita lebih peduli pada nasib bumi kita!
Save the nature, save the earth!!!
Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff - The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung "orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masapenggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik?" Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadi nya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.
Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran ilmu alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL "Tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?" Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun "Haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?"
Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?
Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intin… dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, ”Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadi kan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.
Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.
Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
Taken from Dewi Lestari - Harta Karun untuk Semua
Jakarta, Desember 2007