The Spirit Carries On

August 12th, 2007 by gejor

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say " Life is too short"
"The here and the now"
And " You`re only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we`ve got?

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I`m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

"Move on, be brave
Don`t weep at my grave
Because I`m no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has help me to find
The meaning in my life again
Victoria`s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I`m here
It`s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

    Lagu yang bagus. Komposisi musiknya hebat. Dan gw suka banget ama liriknya. Keren banget kata-katanya. Emang sih, selain musiknya, gw kadang jatuh hati ama lirik sebuah lagu. Gw jadi sering dengerin lagu ini. Pertama kali didengar biasa aja. Tapi karena gw suka dengerin berulang-ulang, jadi kagum dengan lagunya. Dan, jika kalian mendengarnya, atau pernah mendengarnya, sepertinya setuju dengan pendapat gw. Atau, kalaupun nggak, ya ga pa pa. Daripada blog gw bulan ini belum diisi, setidaknya bisa menggambarkan sebuah lagu yang saat ini sering gw dengerin. Buat Tongky, sori Tong, gw ikutan ngefans ama lagu ini.

Song Taken from Dream Theater - The Spirit Carries On (Scenes from A Memory)
Bandung, Agustus 2007

Karena Aku Adalah Bintang

July 17th, 2007 by gejor

    Tidurlah…
    Selamat malam
    Lupakan sajalah aku
    Mimpilah dalam tidurmu
    Bersama bintang

    Ketika malam bertambah malam. Tahu bahwa itulah adanya. Dan air itupun mengalir. Sampai jauh. Kamu genggam makin erat. Karena takkan kamu biarkan. Dan akan berarti. Pasti. Tapi tentu tidak untuknya.
    Ada kisah yang tercipta. Antara ribuan pelangi. Kamu mulai lelah walaupun tidak untuk menyerah. Walaupun mendung, walaupun malam, aku tahu bintang tetap ada di sana. Apakah aku mengerti?
    Akan kubiarkan berlalu. Apa adanya. Aku tak tahu. Semuanya terjadi. Tak bisa dihindari. Kan kugenggam. Makin erat. Dan akan berarti. Walaupun tidak untuknya.
    Di antara dinginnya angin di lembah pegunungan, aku mulai terjatuh dan bangkit lagi. Bersama rintik hujan. Aku jatuh lagi. Dan pasti bangkit lagi. Dan di antara belaian lebat hutannya, maka nyanyikanlah. Bukankah itu menyenangkan. Apakah kamu mengerti?
    Dan berjalanlah. Bernyanyilah. Menembus batas mimpi. Memeluk bintang. Seeratnya. Di atas langit hitam. Dan ramahnya malam akan membelai mimpimu. Bersama bintang, yang akan selalu memberikan senyuman.
    Dan terbanglah. Tersenyumlah. Bahagialah. Jauh tinggi. Melewati hujan. Menembus awan. Karena di balik awan, akan selalu ada bintang.
    Do you understand?

Song Lyrics Taken from Drive - Bersama Bintang
Bandung, Juli 2007

Adalah Pada Suatu Hari

July 13th, 2007 by gejor

Adalah Peterpan
Dengan binar indah matanya
Terbang menembus pelangi

Dilihatnya seorang peri
Di kejauhan mimpi
Terdiam di tempatnya
Seperti ia pernah mengenalnya

"Guk… Guk… Guk…"
"Itu peri kecil pujaan hatimu"
Anjing putih kecil Peterpan berseru

"Oh…" Peterpan bergumam
Ia pun menghampiri
Peri kecil yang sedang duduk sendiri

Peri Kecil tersenyum
Sayap peraknya terluka
"Kenapa?" tanya Peterpan

"Entahlah" jawab Peri Kecil
Peterpan tersenyum
Mencoba mengerti
Memahami luka yang tak ingin dibagi

"Maaf" ucapnya pada Sang Peri
Sang Peri pun mengerti

Peterpan mencoba dengan setulus hati
Mengobati luka yang tak terperi

* * *

Ketika hari beranjak pergi
Peterpan melihat Sang Peri mencoba terbang kembali
"Terbanglah penuh semangat!!!" teriak Peterpan
Tapi Sang Peri tak mendengar

Peri Kecil menari-nari
Teman-temannya datang
Ada memuja ada yang menyayangi
Membagi semangat
Membantu untuk selalu bisa terbang kembali

"Terbanglah penuh semangat!!!" teriak Peterpan
Tapi Sang Peri tak mendengar

Peterpan pun tersenyum
Melihat Sang Peri terbang kembali
Mengepakkan indah sayap peraknya

"Guk… Guk… Guk…"
"Bukankah Sang Peri begitu berarti?"
Anjing kecil berseru lagi

Peterpan tak menjawab
Tangannya ternyata terluka
Ketika menyentuh sayap Sang Peri

"Guk… Guk… Guk…"
"Ayo kamu ikuti"
Anjing putih kecil menasehati

Peterpan tak mengerti
Membiarkan waktu berganti
Untuk terlelap dan bermimpi
Menghilangkan lelah di hati

Peri Kecil menari-nari
Melupakan luka di hati
Peri-peri lain begitu menyayangi

* * *

Pada suatu hari
Peterpan dan Sang Peri bertemu di negeri mimpi
Berjanji mengikat hati

"Guk… Guk… Guk…"
Anjing putih kecil tersenyum riang
Melihat Peterpan bersama Peri Kecil tersayang

Senyum mereka terkembang
Bulan dan bintang pun ikut berdendang

* * *

Anjing putih kecil berseru lagi
Membangunkan Peterpan dari mimpi
"Guk… Guk… Guk…"
"Aku akan pergi bersama Sang Peri"
"Menemaninya setiap hari"

Peterpan tersenyum
Melihat anjing putih kecil
Bersama dengan Sang Peri
"Andai aku jadi anjing putih kecil"
"Tentu aku akan gembira sekali"
"Selalu bisa menemani Sang Peri" :D

Sang Peri juga tersenyum lagi
Sungguh manis sekali
Berusaha menimpali
"Andai anjing putih kecil itu kamu Peterpan"
"Tentu aku akan bersedih hati"
"Dan akan lari jika selalu kamu temani" :D

Anjing putih kecil tertawa geli
Melihat apa yang terjadi
"Guk… Guk… Guk…"
"Peterpan dan Peri Kecil yang menawan hati"
"Kalian akan selalu kusayangi"
"Sampai aku mati" :D

* * *

Waktu pun terus berganti
Dengan kepakan sayap peraknya
Adalah Peri Kecil…
Terbang menari-nari
Jauh tinggi
Menembus batas mimpi

Musim pun selalu berganti
Dengan binar indah matanya
Adalah Peterpan…
Terbang jauh tinggi
Sampai nanti
Menembus ribuan pelangi

Jakarta, Juli 2007

Dia yang Tak Pernah Menyerah (Untuk Dia, yang Tak Ingin Lupa)

June 9th, 2007 by gejor

     Senja menata-nata dirinya untuk lebih rapi, ketika semburat cahaya membungkus berjuta-juta waktu dalam sekelebat warna matahari. Hari telah hendak pergi, dan sejenak seperti keraguan, ketika gelap tiba-tiba menyergap.
     "Bundaku sedang sakit, mohon doanya untuk diberikan yang terbaik ya…". Sebuah pesan singkat menggetarkan HP bututku. Ah, dari dia ternyata. Ada bergalau perasaan yang tiba-tiba saja menjangkit, senang, kaget, sekaligus sedih lantaran berita yang dikabarkannya. "Kita teman, maka sepantasnya aku juga memberikan doa yang tulus untuk yang terbaik bagi ibumu", jawabku
     Sebuah pesan singkat. Kenapa kadang ia menjadi begitu bermakna, bertenaga untuk menggerakan kenangan yang sudah lama terlupakan. Ketika itu juga, bayang-bayang masa lalu, sulit untuk dipergikan.
     Waktu, kawan. Waktu tidak pernah bisa membuat kita tua, juga tak akan pernah membuat kita lemah. Sapaku padanya untuk yang terakhir kalinya dulu. Kini, sepertinya hal itu meminta bukti. Benarkah kita tak merenta?
     Bunyi sirene kapal yang bergaung-gaung memecah kenangan yang tergambar jelas itu. Untuk kemudian menghadirkan realitas yang lebih ramai dan hiruk pikuk yang bising.
     "Kita tak akan pernah kalah, kawanku. Tapi kita akan kalah kalau kita mau kalah"

Taken from Riang Mentari Astacala
Tanah Seratus, 2007

Misi Jogja

May 26th, 2007 by gejor

Baru Tiba

    Akhir Mei 2006. Ketika kakiku baru melangkah turun keluar dari hutan pegunungan di Ciwidey, pulang dari mengisi kekosongan di akhir minggu, ketika sinyal GSM aktif kembali, ketika itu pula beberapa pesan masuk ke HPku mengabarkan tentang bencana gempa di Jogja.
    Tragedi yang menyedihkan. Ribuan orang dikabarkan meninggal. Termasuk ayah dari seorang teman karibku. Rumah-rumah, sekolah, gedung bertingkat, dan bangunan-bangunan lain ambruk. Jogja yang bersiaga karena ancaman letusan Gunung Merapi di utara, ternyata diserang tiba-tiba oleh gempa dari sisi selatan. Segalanya memang kehendak Sang Penguasa.
    Sesampainya di kampus, di Student Center. Kulihat telah berkumpul anak-anak Astacala, KSR, BEM, dan beberapa aktivis mahasiswa. Besok pagi akan berangkat ke Jogja sebagai sukarelawan. Aku saat itu yang belum ada kerjaan dan masih berstatus pengangguran pendatang baru pun menawarkan diri ikut serta. Begitu pula dua orang teman yang saat itu cuti dari kantornya untuk berlibur di Sekretariat Astacala. Niat berlibur mereka untuk naik gunung pun dibatalkan. Diganti dengan misi kemanusiaan ke Jogja.

Menuju Jogja

    Di hari keberangkatan, aku menyiapkan perlengkapan pribadi seadanya. Daypack kecil hitam kesayangan pun kuisi dengan barang-barang yang sekiranya nanti kubutuhkan. Sepasang pakaian ganti, raincoat, sandal gunung, peralatan mandi, kamera, buku catatan kecil, dan sebotol air mineral. Rencana berangkat pagi itu akhirnya tertunda menjadi sore hari. Berbagai perlengkapan ternyata banyak yang belum siap. Astacala, KSR, Bos BKA dari rektorat, dan dua orang sopir STT Telkom ditugaskan berangkat ke lapangan. Sedangkan BEM dan aktivis mahasiswa lainnya turun di Bandung dalam hal pencarian dana. Senja hari itu, dua mobil kampus yang dipenuhi dua belas sukarelawan serta tenda dan sembako itu pun berangkat menuju Jogja.
    Pagi berikutnya, singkat cerita, tiba di Jogja. Tempat pertama yang dituju adalah kampus UGM. Bergabung dengan anak-anak Arkeologi UGM. Land rover kesayangan seorang anak Astacala dari Jogja pun ikut menggabungkan diri membantu transportasi. Kordinasi sebentar dan sarapan, kemudian berangkat ke Dusun Dermo Jurang, Bantul. Dalam perjalanan, pemandangan rumah-rumah yang bertumbangan di pinggir jalan pun terlihat. Sungguh menyedihkan.

Mulai Bekerja

    Tiba di lokasi, di tempat yang telah direncanakan, waktu seharian dihabiskan hanya dengan kordinasi. Uh… Dalam situasi seperti ini, masih saja tetap susah dengan segala tetek bengek birokrasi. Sore menjelang malam, di hari pertama misi itu, posko tenda peleton didirikan, sembako didata, penduduk didata, genset dinyalakan, kabel-kabel listrik dipasangkan. Malam tiba, suasana makin gelap, dan ternyata cuaca di sana panas sekali. Gerah.

Butuh Listrik

    Putusnya saluran listrik karena gempa menyebabkan genset laris manis oleh penduduk. Beberapa rumah penduduk yang berlokasi di sekitar posko pun kebagian penerangan. Colokan listrik yang lumayan banyak pun dipenuhi dengan charger HP. Baik dari HP sukarelawan maupun penduduk sekitar. Bahkan sampai antri. Ternyata, dalam situasi bencana seperti ini, listrik memang sangat dibutuhkan untuk kelancaran komunikasi.
    Selain itu, dengan adanya listrik yang mengalir dari genset, sebuah televisi milik seorang penduduk pun diangkat dan diletakkan di depan posko. Jadilah malam itu depan posko ramai layaknya bioskop. Yang selama beberapa hari tidak ada hiburan, dengan adanya televisi, tontonan pun ada. Lumayan mengurangi beban mental penduduk yang masih trauma dengan gempa.

Di Sela-sela Misi

    Hari berikutnya, tambahan tim datang dari Bandung. Anak-anak sudah selesai ujian rupanya. Tenaga bertambah. Tugas pun dibagi lagi. Dapur umum, medis, pembagian sembako, dan pendirian tenda darurat. Para sukarelawan penuh semangat bersama penduduk. Di sela-sela kegiatan itu, banyak pula sukarelawan perempuan dari berbagai kampus di Jogja yang ikut turun serta.  Yang sebelumnya mungkin mereka berkutat di kamar kosnya yang bersih dan sejuk kini dengan sukarela meninggalkannya. Meluangkan waktu di sela-sela kuliah. Bercampur baur dengan cuaca panas di Bantul, dengan gempa-gempa kecil susulan yang masih terjadi, kotor, capek, lelah, dan demi menolong sesama. Tentu saja hal itu membuat kegiatan makin ramai dan berwarna. Beberapa cowok sukarelawan, baik dari Astacala maupun KSR pun tambah semangat. Cerita cinta pun terjalin di sela-sela misi kemanusiaan itu. Beugh… Dasar Tongky (Pantesan betah jadi sukarelawan lu Tong…).

Tugas Berganti

    Hari-hari berikutnya tugas mulai berkurang. Walaupun sebenarnya masih ada. Hanya saja tidak ada lagi mendirikan tenda. Tidak ada lagi pasang-pasang perlengkapan. Sebagian besar kegiatan lebih ke arah dapur umum, medis, dan pembagian sembako. Selain itu disempatkan pula membantu penduduk sekitar untuk membersihkan puing-puing reruntuhan rumah.

Pulang

    Di hari keempat, di kala aku dan teman-teman sedang beristirahat dan bersenda gurau di bawah tenda, HPku berbunyi. Ternyata ada panggilan dari sebuah perusahaan. Yang pasti, dua hari berikutnya aku sudah harus berada di Bandung.
    Akhirnya keesokan hari, dengan berat hati karena meninggalkan tugas dan teman-teman, aku ikut bersama mobil yang akan berbelanja logistik menuju ke Jogja. Turun di stasiun kereta api Tugu. Untuk selanjutnya berangkat menuju Bandung. Meninggalkan Jogja yang masih berbenah untuk bangkit dari bencana.

Some Data Taken from Yan Iwan Blog
Bandung, Juni 2006

Hari Bumi

April 22nd, 2007 by gejor

    Setiap tahunnya, 22 April dirayakan sebagai Hari Bumi. Kenapa tanggal itu yang dipilih? Pada hari yang sama di tahun 1970, tercatat sekitar 20 juta orang di Amerika Serikat berunjuk rasa. Mereka berkumpul menyerukan keprihatinannya tentang perubahan iklim, pemanasan global, dan polusi lingkungan yang semakin tak terbendung. Sejak saat itu, kepedulian lingkungan dijadikan isu di seluruh dunia.
    Aksi bersih-bersih, penanaman pohon, ataupun tindakan sederhana seperti sekadar membeli produk daur ulang dan menggunakan kembali gelas plastik, banyak dilakukan orang untuk menandai hari ini. Rasanya tak cukup hanya di hari itu saja kita peduli kepada tempat kita berpijak. Hari Bumi boleh jadi awal, tapi kepedulian terhadap lingkungan harus jadi kebiasaan sehari-hari.
    Hari Bumi sendiri punya bendera bergambar foto planet bumi berlatar belakang biru tua. Foto yang diambil dari pesawat luar angkasa Apollo pada tahun 1969 ini dapat dijadikan bahan renungan buat kita semua. Akankah warna yang sama akan ditangkap kamera beberapa puluh tahun mendatang? Apakah warna bumi akan berubah jadi lebih suram akibat polusi? Apa yang akan mulai kita lakukan untuk bumi?
    Salam lestari! Salam hangat dari sini, sebuah tempat di sudut bumi.

History Taken from Tabloid Rumah
Bandung, April 2007

Aku Mau … (Feminisme dan Nasionalisme)

April 21st, 2007 by gejor

    Kamu tahu motto hidupku? "Aku mau".
    Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan.
    "Aku tidak mampu" menyerah.
    "Aku mau!" mendaki gunung itu.
    Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat.
    Stella, jagailah selalu api itu!
    Jangan biarkan dia padam.
    Buatlah aku selalu bergelora.
    Biarkan aku bersinar, kumohon.
    Jangan biarkan aku terlepas.

    Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama keluarga dan nama kecilku, dan "Raden Ajeng", dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku… tentu tidak bisa hanya menulis Kartini, bukan?
    Aku sungguh mengenal seorang yang kukagumi, perempuan modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya. Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas dan bergelora. Ya, aku bisa katakan, meski aku tak pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudari yang berada nun jauh di sana, di Barat.
    Jika hukum yang berlaku mengizinkan, aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa. Namun tradisi di sini sungguh teramat kuat mencengkeramku. Aku yakin, suatu hari nanti, cengkeraman itu akan merenggang, namun saat itu sungguh masih jauh, sangat jauh. Aku tahu saat itu akan tiba, tapi tidak tiga atau empat generasi setelahku! Oh, kamu tidak dapat mengerti dengan sepenuh hati dan jiwamu seperti apa rasanya menantikan zaman seperti itu, zaman baru, zamanmu. Sementara, pada saat yang sama, aku tak bisa lari dan masih diikat erat oleh hukum, kebiasaan, dan adat istiadat. Siang malam aku merenungkan, mempertimbangkan dengan hati-hati untuk bisa keluar dari moralitas dan adat istiadat di negeriku. Tapi, tradisi dunia Timur selama berabad-abad sangat kuat dan kokoh. Bisa saja aku mengobrak-abrik tradisi ini jika aku tidak terikat pada ikatan yang lain, ikatan terhadap orang-orang yang memberiku kehidupan di mana pada merekalah aku berhutang segalanya, segalanya. Tentu akan terlukalah hati mereka, jika mauku hanya memenuhi kehendak dan kerinduanku saja, meski semuanya itu sebenar-benarnya telah menjadi nafas hidupku.
    * * *
    Hhhhh, hanyalah sepenggal sebuah surat Kartini. Di hari ini, di kelahirannya. Kadang aku tak habis pikir untuk orang-orang yang memperingati hari ini. Para perempuan di kantor atau sekolahan berkebaya, memakai konde, dan berias secantik-cantiknya. Itukah harapan yang diinginkan dari semangat yang ada dalam sepenggal tulisan di atas? Tampil dari dandanan fisik?
    Semoga saja bukan hanya dari itu. Semoga semangat sebagai seorang perempuan yang hebat selalu ada walaupun tanpa kebaya ataupun konde.
    Untuk semua perempuan di Indonesia, and spesial for my lovely sister (tau nih, lagi kangen ama kakak), Selamat Hari Kartini. Semoga semangat itu selalu ada.

Taken from Surat-surat Kartini kepada Stella
Bandung, April 2007

Mendung di Langit

April 8th, 2007 by gejor

Awan terentang
Bagaikan lukisan terpanjang
Senja menepi
Selalu ada dan menggoda
Matahari melukis cakrawala
Di relung lautan
Ada ciptaan dewata
Nun jauh dari sini
Bintang sedang menari
Bersama bulan dalam peraduan
Di pergantian tahun ini
Tapi hujan tak turun
Karena mendung tak ingin merusak hari
Dan langit pun beranjak cerah
Karena bintang begitu berarti

Balikpapan, Maret 2007

Never to Run

March 25th, 2007 by gejor

    I’m young. Still wild and free. Aren’t you? The sun throw me out to happiness. The moon throw me out to unhappines. Your smile that seems to me make me to get a special place. Your smile that seems to me make me down and lonely. Do you see me?
    So many words. So many things. I’m standing here. Out of the corner of my eyes. But my heart so close to say.
    New life at the time. I don’t know what. I don’t know why. Cause today is the only way I know.
    But friend, looks like we made it. Look how far we’ve come. We might took the long way. We knew we’d get there someday. And we’ll wonder how we made it through. There are ways. To get there. If we care enough. There’s a place in your heart. There’s a place in my heart.
    Like childs just runnin wild and free. We are following through every dream and every need. Are you as good as I remember? Cause your smile make me get a special place. Make me down and lonely. My spirit only just begun. Cause we were raised to see life as a game and fun and take it if we can.
    I’m standing out of there. Do you see me? Do you love me? Heaven and hell are same. Happy and misery fill the world. Yesterday will not back. Tomorrow will never end. But today is the only way I know. Thought the cloudy so black, you know the star is always there. So let continue sing your song. Cause every sounds will make that way. And sure I’ll always to hear. And I’ll always there.
    But friend, in some place under the moon. There of which I stand alone. Sometimes my mind plays tricks on me. When the sun has gone, still I have a light. To the moon in the dark. Do you see me? Do you love me? But I miss you.
    Smile to me. Make me get a special place. And make me down and lonely. New life at the time. I don’t know what. I don’t know why. Cause today is the only way I know. The day just begun. Flow like the river. Fly like an eagle. To where they belong.

Bandung, Maret 2007

Cinta

February 14th, 2007 by gejor

     Valentine? Apaan nih? Hari kasih sayang. Hari cinta. Ketika banyak orang yang merayakannya. Banyak yang ikut-ikutan. Banyak yang cuek-cuek aja. Banyak yang nggak peduli. Dan banyak pula yang mencemohnya. Yach… apapun itu, sah-sah saja selama tidak mengganggu orang lain dan kita tidak melihatnya dari satu sisi. Mengartikan hari, mengartikan cinta, mencintai, ataupun dicintai. Ngomong apaan sih?
     Ehm… Klo menurut gw, mencintai adalah saat dimana kita membuat sesuatu atau seseorang itu berarti bagi kita. Apapun itu dan siapapun itu. Tidak bisa menghindar, tidak bisa menolak, perasaan itu menjadi ada. Dan ketika kita merasakan jatuh cinta, ketika itu pula bersiap untuk sakit. Karena di manapun yang namanya jatuh itu pasti rasanya sakit.
     Kalau cinta, ada yang bilang bahwa "cinta itu tak harus memiliki". Memang sih hal tersebut ada benarnya. Tapi menyakitkan banget. Bayangkan aja ketika kita mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya. Ambil contoh klo kita jatuh cinta ama seseorang yang kita liat di tipi, Tom Cruise atau Britney spears misalnya, tentunya susah bagi kita untuk memilikinya. Sedih bukan? Beugh… contoh yang aneh banget dan ga mengena. Dasar bodoh! Lengeh celenge…!!! Ganti!!!
     Udahlah, contoh orang kebanyakan aja deh. Misalnya kita mencintai seseorang. Yang kita tau dan udah kita kenal  pastinya (bukan artis di tipi lagi). Karena sesuatu hal, kita tidak bisa bersama mereka. Putus deh di tengah jalan. Atau nggak bisa bersama. Lingkungan tak bisa menerima. Karena perbedaan misalnya. Sosial, agama, umur, cara berpikir, de el el. Jarak yang memisahkan. Dikhianati. Ditinggalkan. Sakit…? Pasti lah ya. Namanya aja jatuh.
     Atau yang lebih parah lagi, mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Hahaha… Susah deh kalau yang ini, punya pujaan hati, tapi jauh di mata jauh pula di hati. Beugh… Adakah yang seperti ini? Mmm… Banyaklah tentunya, cinta bertepuk sebelah tangan. Ya udah, nikmatin aja kata-kata "cinta tak harus memiliki" itu. Hehehe…
     Yach… apapun alasannya, itu adalah hak setiap orang untuk menentukan perasaannya. Menentukan pilihannya. Mau mencintai kita, mau memiliki kita, atau tidak dua-duanya sama sekali. Itu hak mereka. Emangnya kita bisa seenaknya membuat seseorang bisa kita miliki?
     Ada yang bilang kalau "cinta itu tahi kucing rasa coklat". Bingung gw. Perasaan ga ada yang mau makan tahi kucing deh walaupun rasanya coklat. Tapi udahlah. Cuman mau mengatakan kalau kita mencintai seseorang dan orang tersebut mencintai kita juga. Apalagi semua bisa menerima. Duh… indahnya. Dunia serasa milik berdua. Bahagia bersama. I Love U dear…
     Tapi, btw, gw jadi ngelantur begini nih jadi nulis tentang cinta. Padahal mo nulis tentang valentine. Kayak jagoan banget tentang cinta. Tapi kalau hanya berpendapat itu adalah sah-sah aja, bukankah begitu teman-temanku sekalian? I Love U deh. Hehehe…
     Yach… apapun hari ini bagi kalian, gw cuman mo ngucapin Met Valentine. Maap buat yang kurang berkenan. Gw harap semoga cinta selalu ada dalam setiap langkah kita.
     Akhir kata, nggak hanya buat hari ini, tapi buat selamanya, buat semuanya, gw cuman mo bilang bahwa kita semua layak untuk mendapatkan cinta di dunia ini. So, perjuangkanlah. Hargai sepenuhnya jika diberikan. Dan yang pasti, berikan pula itu dengan setulus hati.

Jakarta, Februari 2007