Musim Kemarau Kering, Musim Hujan Banjir

February 11th, 2007 by gejor

    Di suatu pagi, di sudut kota, di kala gerimis mengundang (kok seperti judul lagu band dari Malaysia ya?).
    * * *
    Ketika musim hujan telah datang. Banjir pun menjadi langganan. Ketika musim kemarau, panasnya minta ampun.  Benar-benar memprihatinkan. Kenapa itu bisa terjadi?
    Kemarau, orang berlomba-lomba membakar hutan supaya lahan yang nantinya dibuka bisa dijadikan kebun dan ladang di musim penghujan. Kalau musim hujan datang, ya sutralah…
    Kita semua tahu kalau segala bencana yang terjadi memang atas kehendakNya. Takdir katanya. Beugh… Takdir apaan kalau yang membuat takdir juga kita sendiri. Tapi walaupun memang harus seperti itu, bukan berarti membuat kita seenaknya saja memperlakukan alam dan isinya. Kita semua bisa berusaha dan dibekali kekuatan untuk selalu berusaha dan berbuat yang terbaik.
    Ketika musim kemarau yang panjang, sadarkah kita gemericik sungai yang tetap mengalir itu datang dari mana? Air yang masih mengucur dari keran kamar mandi kita datang dari mana? Masih ada udara yang bisa dihirup itu dari mana? Dan ketika musim hujan tiba, kalau terjadi banjir, itu karena apa?
    Kenapa orang senang mengunjungi tempat-tempat yang indah? Dan kenapa orang jarang mengunjungi tempat yang tak indah? Kota dan desa yang kumuh atau banjir misalnya? Mendaki gunung yang gundul kering kerontang? Atau menyusuri sungai yang penuh limbah dan bau? Masih mau nggak kita berwisata melakukan perjalanan-perjalanan ke tempat seperti itu? Masih? Baguslah…
    Seorang kawan pernah berkelakar, kalau saja musim kemarau itu terjadi puluhan tahun, atau musim hujan berlangsung puluhan tahun, masihkah tindakan kita memperlakukan alam seperti sekarang ini? Dan apakah yang akan terjadi? Mungkin saja semua mahluk di bumi ini punah. Dan bumi mengulang siklus kehidupan dari awal lagi.
     Mungkin apa yang dikatakan itu terlalu berlebihan. Tapi kalau dipikir, mungkin nggak itu terjadi? Kemungkinannya ada. Kalau memang harus terjadi, mau ke mana lagi kita lari? Apakah kita semua akan pindah ke Mars?
    Hal-hal seperti ini (kering di musim kemarau dan banjir di musim penghujan), sesungguhnya bukan suatu hal yang baru bagi negeri ini. Hanya saja jika dibandingkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya, ada perbedaan frekuensi dan kerusakan yang ditimbulkan (bertambah tentunya).
    Kita semua juga menyadari, jika ditanya kenapa itu terjadi, pasti bisa menjawab karena keseimbangan alam terganggu dan rusak. Dan ketika banjir atau kekeringan tiba, menangislah kita. Bantuan pun mulai berdatangan. Tapi penanganan supaya tak terulang lagi tidak ada. Jika diibaratkan manusia, kita hanya berobat ketika sakit tetapi kesehatan tidak pernah dipelihara dan dijaga.
    Dan semoga saja kita semua sadar, untuk menangani itu semua bukan hanya dengan membantu korban yang terkena banjir atau kekeringan yang hanya sesaat. Yang di kemudian hari jika terjadi banjir dan kekeringan lagi, semua itu akan terulang lagi. Tetapi lebih ke arah menjaga dan memulihkan lingkungan untuk jangka yang lebih panjang.
    Beugh… Kemarin musim kemarau, kebakaran dan kekeringan merajalela. Sekarang, kepala pusing mikirin hujan berhari-hari dan banjir merajalela di musim penghujan.
    * * *
    Akhirnya, banjir yang merusak membuat akhir minggu awal bulan ini memberikan kewajiban yang harus segera diselesaikan. Bersama beberapa tim, aku pun berangkat, dipayungi mendung hitam dengan hujan bergerimis, ditemani angin yang membawa senyum manis dari kejauhan, menuju target sasaran, dan menyusuri kota yang dikepung oleh banjir di mana-mana.

Jakarta, Februari 2007

Musibah di Tahun Baru (Adam Air dan Senopati)

January 7th, 2007 by gejor

    Tak ada kata lain lagi yang bisa dikatakan selain turut berduka atas musibah yang terjadi pada pesawat Adam Air yang sampai hari ini masih misteri. Begitu pula pada tragedi Kapal Senopati, yang penumpangnya masih banyak belum ditemukan.
    Entah ya, makin banyak spekulasi, makin bingung. Hilangnya Adam Air bisa jadi karena pesawat mengalami gangguan teknis mekanik, telekomunikasi, dan navigasi, nyasar entah ke mana. Atau mungkin karena kehabisan bahan bakar lalu nyebur ke laut atau nyungsep di hutan. Atau mungkin segitiga bermuda pindah ke indonesia kemudian menelan pesawat itu. Atau jangan-jangan pesawat Adam Air itu dibajak oleh Al-Qaeda kemudian diterbangkan entah ke mana. Atau malah diculik oleh mahluk luar angkasa. Siapa tahu? Atau malah bisa jadi sang pilot yang dulu bercita-cita jadi astronot menerbangkan pesawatnya kemudian terdampar di bulan. Hehehe, makin bingung.
    Sedangkan kalau Sang Senopati, si kapal feri, walaupun kapal udah diketahui, penumpang masih banyak berceceran. Menyedihkan. Gimana ya, apalagi di laut luas. Pasti banyak ikan hiu atau paus. Hhh… semoga aja tidak. Sanak saudara pasti gelisah. Sedih tentunya. Menunggu kabar keluarga tercinta. Mau menangis, mau marah, tentu semua itu tak menyelesaikan masalah. Mau gimana lagi. Semoga saja kejadian ini bisa diambil hikmahnya supaya bisa berbuat yang lebih baik lagi dalam terbang di udara atau berlayar di laut.
    Yach… kita semua tahu segala sesuatu pasti ada waktunya. Ada lahir ada mati. Ada kesedihan ada kemuliaan. Di darat, di laut, di udara, di manapun, kalau memang sudah waktunya, kita tak mungkin bisa bersembunyi layaknya ngumpet dari kejaran penagih utang.
    Semoga semua keluarga korban diberikan kekuatan. Dan kepada korban, baik meninggal ataupun tidak, diberikan jalan yang terbaik. God bless you!

Bandung, Januari 2007

Hari Ibu (Merdeka Melaksanakan Dharma)

December 21st, 2006 by gejor

    Kasih Ibu kepada beta
    Tak terhingga sepanjang masa
    Hanya memberi tak harap kembali
    Bagai sang surya menyinari dunia

    Bait lagu diatas hanya secarik kata-kata yang mewaliki betapa kasih ibu itu tidak akan terbayarkan sampai kapan pun. Seperti kata pepatah, "Tangan yang menghayun buaian itu adalah tangan yang bakal menggetarkan dunia…" menunjukkan betapa pentingnya tugas seorang ibu di dunia ini.
    Aku tersadar ketika terbangun di pagi ini. Ternyata hari ini adalah hari Ibu. Dan aku tahu tak banyak yang bisa kulakukan untuk memperingatinya. Apalagi untuk membalas atas kasihnya. Di pagi yang masih sunyi, hanya sekedar untuk mengingatkan kita akan pentingnya seorang ibu, kucoba untuk berbagi mengenai sejarah tentang hari ini.

    * * *

    Pada suatu waktu, tepatnya tanggal 22 - 25 Desember 1928, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan, diselenggarakanlah Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya organisasi federasi yang mandiri bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum lelaki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
    Tahun 1935 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Dalam kongres tersebut dibentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia serta menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Negara yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
    Pada Kongres Perempuan III di Bandung tahun 1938, Pemerintah mengkukuhkan bahwa Hari Ibu merupakan Hari Nasional dan bukan Hari Libur. Tahun 1946, Badan tersebut menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang sampai saat ini masih berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
    Hari Ibu oleh Bangsa Indonesia diperingati untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu serta jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan isteri maupun sebagai warga negara. Makna Hari Ibu sebagai sebagai Hari Kebangkitan, serta persatuan dan kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa.
    Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang menggambarkan : kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; kesucian, kekuatan dan pengorbanan ibu; serta kesadaran dan keikhlasan berdarma bakti dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
    Semboyan pada Lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan dan kaum laki-laki merupakan kemitrasejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

    * * *

    Ibu… Engkau adalah pemantik api kehidupanku. Kala jurang dan kepahitan hidup menelan diriku, engkaulah satu-satunya orang yang tetap sabar mendampingiku, memberikan petuah, mencarikan jalan keluar, mendinginkan hati dan pikiranku yang kalut. Kala air mata tak terbendung menahan sesak di dada, sesak tertekan dunia ini, kata-katamu, usapan tanganmu, dan rangkulanmu segera menghapus semuanya. Senyum mulai terbentuk di bibir. Maafkan aku ibu. Selama ini aku sering menyakiti hatimu, membuatmu menangis. Jika kesempatan mengizinkan, di lubuk hati kuberjanji, suatu saat nanti akan kubalas semua kebaikan dan pengorbananmu. Semampu yang dapat kulakukan. Semampu yang bisa kuberikan. Selamat Hari Ibu. Untuk ibuku tercinta, dan ibu-ibu lain di seluruh dunia.
    Thanks Mom. For your love, for your protect, for your attention, for your guidance, and for all. I miss you. I love you.

History Taken from DPU RI - Sejarah Hari Ibu
Bandung, Desember 2006

My New Domain

December 15th, 2006 by gejor

    Waow… Berhasil. Sekarang gw udah punya domain sendiri neh. Blog ini sekarang punya alamat baru di http://gejor.web.id, yang sebenarnya masih tetap blog di friendster juga, bukan ke blog lain (males pindah-pindah blog neh), cuman ngelink aja ke sana dengan domain ini.
    Buat teman-teman semuanya, atau siapa saja, yang punya blog atau pengen punya web site dengan domain sendiri, tips ini bisa dicoba. Lumayan kan punya domain sendiri? Gratis lagi. Info pertama kali didapat dari blog seorang teman yang ngelink ke blog temannya juga (thanks Man).
    Registrasi gratis ke depkominfo di register.net.id dan juga mencari domain name server ke penyedia jasa DNS di freedns.afraid.org yang juga gratis.
    Untuk lebih jelasnya, tinggal ikuti aja instruksi dari blog temannya teman gw berikut ini di http://blog.budiyono.net
    Hehehe… Silakan dicoba dan semoga bermanfaat!

Bandung, Desember 2006

Hoax

December 12th, 2006 by gejor

    Kita tentunya pernah mendapatkan message dari seorang teman, yang merupakan forward message. Isinya biasanya diawali dengan "Original message from …". Terus di bawahnya juga ada lagi "Original message from …". Jadi males kalau begitu. Hoax deh ini. Gw sebenarnya nggak suka membaca, mengomentari, apalagi ikut-ikutan memforward yang kayak beginian. Mending dihapus aja. Masa bodoh. Karena hampir dapat dipastikan semuanya merupakan hoax atau tipu-tipu dan kabar bohong yang menyesatkan.
    Banyak memang orang-orang yang sering ikut-ikutan untuk memforward message-message seperti ini. Karena berdasarkan sifatnya, hoax memang seperti itu. Memanfaatkan niat baik orang-orang yang dikirimi. Dan yang penting di sana terdapat anjuran untuk memforward message tersebut ke orang lain. Membuat lalu lintas data di internet ini menjadi padat, macet, penuh. Membahayakan jika disikapi tanpa menyelidikinya lebih lanjut. Dan biasanya isinya ga jauh-jauh dari berita yang tidak jelas sumbernya, bisa isu virus, minta bantuan, tawaran hadiah, mempererat persahabatan, penipuan, atau yang lainnya.
    Coba bayangkan, contoh kasus yang mempererat persahabatan. Misalnya ada message yang kurang lebih berisi seperti ini. "Persahabatan adalah bla bla bla bla … dan seterusnya". Terakhir diikuti dengan kalimat "Kirimkan message ini minimal kepada 10 orang teman Anda. Jika tidak Anda lakukan, itu berarti Anda sudah mencoba melupakan teman-teman Anda."
    Bah… Aturan dari mana itu ya? Kalau gw tidak memperdulikannya, itu berarti gw telah melupakan teman-teman gw?
    Itu mungkin salah satu contoh yang tidak begitu keterlaluan. Bagaimana kalau hoax yang dikirim itu berisi pesan-pesan yang mengadu domba, memecah belah, membuat panik, menipu, atau malah bisa menimbulkan hal-hal yang fatal? Bisa kacau balau nih kita.
    Tapi anehnya, sampai saat ini, yang mengirimnya, yang menerimanya, yang udah kenal internet, yang udah melek ama internet sedemikian lama, masih banyak juga orang-orang atau teman-teman kita menuruti isi dari hoax tersebut. Entahlah. Apakah karena tidak tahu, ataukah hanya sekedar iseng. Tau lah.
    Menurut gw pribadi, sah-sah aja dan boleh-boleh aja kita saling mengingatkan. Bagus lagi kalau seperti itu. Tapi jika hal tersebut dilakukan dengan menyebarkan isu yang isinya tidak jelas dan bahkan menyesatkan, tentu itu tidak baik. Malah bisa berbahaya. Dan alangkah baiknya jika kita menerima message-message seperti itu, kita tidak langsung cepat-cepat memforwardnya lagi. Lebih baik kita selidiki dulu kebenarannya. Dipikirkan dengan jernih. Sejernih embun pagi di pucuk dedaunan. Wuih… Hahaha…
    Btw, jadi nggak enak juga gw nih, yang nggak membalas message-message seperti itu (terutama yang mengatakan, sudah melupakan teman jika nggak memforwardnya lagi). Sori ya friend, nggak gw bales. Bukannya berniat untuk melupakan teman. Hehehe… Dan bukan pula kenapa-kenapa. Pusing gw, nggak berguna dan menuh-menuhin inbox aja message-message ga jelas itu.
    Hehehe… Walaupun hoax rada basi bagi yang udah tau, gw harap semoga bisa diambil manfaatnya. Peace!!!

Bandung, Desember 2006

Menulis

December 2nd, 2006 by gejor

    Aku tak tahu harus mulai dari mana
    Aku tak tahu harus menulis apa
    Di tanganku duka, di tanganku suka

    …..

    Menulis. Ngapain kita menulis? Apa yang harus kita tulis? Ketika pikiran dan otak yang lagi ga jelas malah nulis. Walaupun ingin menulis, tapi yang mau ditulis itu apa?
    Beugh…, menulis itu, katanya hanya membiarkan pikiran berkelana dan melayang. Pada apa yang kamu lihat. Pada apa yang kamu rasakan. Biarkan jari jemari menari di atas tuts-tuts keyboard komputer. Mendeskripsikan satu demi satu kata-kata di dalam otak. Menuangkan segala keluh kesah dan cerita di dalam hati. Pada selembar layar putih bersih berekstensi txt. Apapun itu, tuangkanlah.
    Tapi, ngomong-ngomong kenapa harus menulis? Padahal gw ga pernah sama sekali berkeinginan untuk menulis. Dan kamu juga sepertinya, mungkin.
    Suatu hari, ketika masih SMA, gw tidur-tiduran di kamar kakak gw yang cantique. Penuh boneka di sana. Gw liatin. Salah satu boneka itu terselip sebuah kertas, ada sebuah cerita kecil tentang boneka itu yang tertera. Kok bagus ya ceritanya.  Seperti ada sejarahnya. Kemudian, di sebuah kotak mungil dengan gemboknya yang juga mungil, tapi tidak terkunci, ada sebuah buku catatan kecil. Sebuah diary, pinky winky warnanya. Mulai gw buka, gw lihat, dan gw baca. Satu demi satu. Ada coretan-coretan di dalamnya. Ada puisi juga. Ada cerita juga. (Hehehe… I’m sorry Sis…, ga sengaja terbaca neh).
    Nah, dari kejadian itu, gw jadi berpikir, kayaknya keren nih klo gw bikin puisi. Seperti kakak gw. Akhirnya gw ambil secarik kertas, mo nulis puisi ceritanya. Kertas udah di hadapan, bolpen udah di tangan, beugh… akhirnya malah ga tau mo nulis apa. Pusing. Klo ga salah, gw menulis tentang bulan waktu itu. Cuman jadi aneh. Bisa-bisanya gw menulis tentang bulan. Entah dari mana tiba-tiba aja bisa bulan. Mungkin karena malam itu bulan bersinar terang di luar sana. Kalimat pertama yang kutulis berbunyi "bulan yang indah…" Abis itu ga tau lagi apa lanjutannya. Ya udah, akhirnya kertas itu pun dibuang. Tuing… Terbanglah si bulan ke tempat sampah. Bhuahahaha… Sori Lan…
    Ketika menjelang tidur, mata masih melek, dan pikiran pun melayang. Si bulan ternyata masih menggoda angan. Gw berkata-kata sendiri dalam hati. Merangkai kata demi kata. Layaknya gw bercerita, kepada diri sendiri. Ditemani sang bulan. "Klo semua yang gw katakan ini gw tulis kayaknya bagus", begitu gw pikir. Lalu gw pun beranjak, mencoba lagi untuk menulis. dan hampir sama, beugh… hilang semua apa yang mau ditulis ketika kertas dan bolpen udah di tangan. Gw coba ingat-ingat kembali, masa bodoh, yang penting gw tulis, akhirnya jadi juga. Puisi yang ga jelas.
    Puisi itu akhirnya gw simpan aja. Beberapa waktu kemudian,  gw lihat dan gw baca. Yach… kok jadi aneh. Gw tertawa sendiri membaca puisi itu. Tapi kemudian, gw buat lagi, yang baru. Sedangkan puisi lama itu gw edit-edit lagi. Begitu seterusnya, ketika SMA gw punya beberapa catatan dan tulisan-tulisan yang ga jelas. Beberapa teman sekelas gw juga punya. Dan gw inget banget, seorang teman minta gw dan teman-teman yang lain untuk menulis puisi di sebuah buku miliknya. Buat kenang-kenangan katanya. Setelah semuanya menulis, suatu hari buku itu gw pinjem, gw baca-baca tulisan temen-temen sekelas gw, ciah… semua punya gaya sendiri-sendiri. Menarik. Dan di mana pada suatu hari nanti, gw berpendapat semua orang itu sebenarnya punya keinginan dan cita rasa dalam hal menulis. Menulis apapun itu. Menulis program, scripts, TA, skripsi, atau penelitian lah contohnya. (Hehehe… Berat amat tulisannya.)
    Beranjak kuliah, gw mulai mencoba untuk memiliki buku harian. Bhuahahaha… Buku harian katanya. Udahlah… ga usah dibahas. Jadi malu. Tapi sah-sah saja bukan?
    Buku harian merangkap jadwal kegiatan. Isinya kejadian sehari-hari gw. Gw tulisin setiap malam tentang kejadian yang gw alamin tadi pagi sampai malam, dan apa yang harus gw lakukan besok pagi sampai malam berikutnya. Sebenarnya, ga selalu setiap hari. Cuman kalau lagi males, bisa jadi kejadian seminggu gw rangkum dan dicatat jadi satu, atau malah sebulan. Atau kadang dilewatkan sama sekali. Hehehe…
    Menulis yang kayak beginian ini (buku dan jadwal harian -red) sebenarnya udah diajarin ama pembina pramuka gw waktu SD dulu. Untuk melatih kerajinan, kemandirian, dan kedisiplinan. Pramuka gitu loh… Hahaha… Cuman ga pernah gw lakuin sepenuhnya. Buat apa? Apa bisa dijual? Begitu dulu mikirnya.
    Tulisan atau catatan harian yang gw tulis itu sederhana. Malah mungkin bisa dibilang ga berkelas. Ga jelas. Ga bermutu. Ga menarik lah kalau dibaca.
    Tapi, ternyata, yang sangat hebat, yang nggak disangka-sangka, ternyata catatan harian gw itu, yang dulu gw anggap nggak bermutu, ternyata menjadi sangat berharga jauh di tahun-tahun ke depannya. Bukan berharga dalam hal materi atau uang. Tapi berharga buat diri pribadi. Sekali lagi buat diri pribadi.
    Wuih…  ketika membaca kembali kejadian-kejadian dulu, dulu sekali, bertahun-tahun yang lalu, jadi tersenyum sendiri, atau jadi sedih sendiri. Terharu. Mengenang berbagai kejadian itu. Ternyata gw dulu begini, gw dulu begitu. Ama si ini, dan ama si itu. Sungguh kenangan yang sangat berharga. Andai saja itu nggak ditulis, mungkin sudah terlupakan. Sebuah catatan sejarah titipan nenek moyang. Hehehe…
    Dari catatan-catatan yang ditulis itu, apapun bentuknya, ternyata semua itu bisa menyalurkan emosi. Sedih ataupun senang. Tentang diri sendiri, tentang kamu, tentang dia, tentang mereka, atau tentang siapa saja. Ditulis tanpa beban, jujur, tanpa memikirkan tulisan itu bagus atau pun nggak. Ternyata ada banyak pelajaran yang bisa direnungkan dari semua pengalaman dan cerita itu. Yang bisa digunakan sebagai cermin pribadi, atau gambaran tentang orang-orang dan hal-hal di sekitar. Yang mungkin bisa dibagi kepada orang lain ketika mungkin mereka mengalami hal yang sama. Atau sebagai pelajaran jika suatu hari menghadapi hal yang sama.
    Dan dari catatan-catatan itu pula, kadang gw jadi berpikir, nanti buat apa ya? Apa itu berguna buat orang lain? Sepertinya ga lah ya. Apalagi tulisan sehari-hari yang cukup diketahui oleh diri sendiri. Tapi walaupun demikian, gw jadi ingin mengabadikannya. Sayang kalau dibuang. Mungkin akan gw simpan di sebuah acount storage di dunia maya. Di Geocities misalnya. Atau dibikinin domain dan hosting sendiri dalam waktu yang tak terbatas. User id dan passwordnya akan gw simpan di tempat tertentu atau gw berikan kepada seseorang suatu hari nanti sebelum gw mati. Siapa tahu ada yang berkeinginan mengetahui sejarah gw. Bhuahahaha… Tapi sah-sah saja bukan? Udahlah.
    Kembali lagi soal menulis. Lepas dari yang namanya catatan harian, klo gw sendiri, sebenarnya ga begitu berminat dengan yang namanya menulis, hanya sering ikut-ikutan. Ya seperti di atas, ngikut-ngikut kakak gw. Atau gaya-gayaan. Dan kalaupun menulis, gw pasti sering dipengaruhi oleh gaya tulisan dari tulisan-tulisan sebelumnya yang gw baca. Klo abis baca tulisan pujangga, gw nulisnya pasti jadi ikut-ikutan sok pujangga, sok puitis, sok romantis. Klo abis baca National Geographic, buletin atau tulisan-tulisan ilmiah, pasti gayanya ikut-ikutan ilmiah. Klo abis baca tulisan yang rada-rada slengean, gw malah terbawa nulis dengan gaya slengean. Kayak sekarang neh contohnya, malah pake kata "elu elu gw gw". Padahal sebelumnya nggak banget jika untuk menulis. Gw lebih senang dengan gaya yang formal, menyesuaikan dengan EYD. Bahasa yang lazim untuk berbagai kalangan. Cinta bahasa Indonesia. Apa mungkin karena lingkungan dan pengaruh orang-orang sekitar? Beugh… Ga jelas nih jati diri. Bodo ah. Teing… Lieur…
    Terakhir belajar tentang menulis di organisasi pecinta alam yang gw ikutin. Gw diajarin yang namanya teknik fotografi dan jurnalistik. Keduanya merupakan sebuah bentuk pendokumentasian. Dokumentasi berbagai peristiwa, perjalanan, atau pengalaman. Dan dua-duanya menarik. Cuman, karena ini tentang menulis, gw ungkit tentang jurnalistiknya aja. Selain itu, masih seputaran masa-masa kuliah, juga ada pelajaran jurnalistik pada semester 1, udah lama banget, di mata kuliah Bahasa indonesia. Tapi sayang nilai gw B euy untuk mata kuliah ini.
    Ada banyak jenis tulisan yang bisa kita buat. Berita atau reportase, essay, laporan, atau yang lainnya. Satu hal sederhana yang bisa digunakan dalam menulis (dalam hal ini menulis berita), adalah prinsip 5W + 1H. Apaan tuh? Hahahaha… itu artinya berita dikatakan lengkap ketika berita yang kita tulis telah memuat unsur what, where, when, who, why, dan how. Selanjutnya…
    Eh, tapi kok gw jadi berbicara teknis nih di sini ya? Padahal amateur. Hehehe… Sori dori mori. Kalau kayak gitu, mending langsung baca buku tentang menulis aja. Hahaha…
    Tapi begitulah, menulis adalah suatu hal yang baik.Tuangkan segala keluh kesahmu, sampaikan opini ataupun pendapatmu, paparkan setiap perjalanan, tuangkan segenap pengalaman, pada selembar kertas, pada sehelai notepad, dan ceritakanlah kepadaku, kepadanya, kepada semuanya. Semoga ceritamu ikut mewarnai suasana dunia.
    Hhhh… Kurang lebih mungkin seperti itulah.

Song Lyrics Taken from Iwan Fals - Lagu Cinta
Bandung, Oktober 2006

Selingkuh

November 30th, 2006 by gejor

    Apa yang terjadi jika pengkhianatan terjadi dalam kehidupan hubungan pribadi? Dalam pacaran atau hubungan suami istri? Emm, merasa guncang, kecewa, tak enak, malu, atau marah? Hehehe, tak perlu repot-repot untuk memilih salah satunya. Semua perasaan itu bercampur aduk, berjuta-juta rasanya.
    Mencintai itu sungguh indah. Tetapi mencintai orang lain ketika sudah punya komitmen atau terikat perkawinan, tentu menimbulkan masalah.
    Kata Si Bunga, aku mencintai keduanya. Cowok yang ganteng dan bijaksana. Keduanya selalu ada di hatinya. Walaupun setiap saat harus selalu waspada, karena jika tidak bisa berbahaya. Tak berbeda jauh dengan Si Anton, yang berkata aku tak bisa melupakannya, dan telah hadir di antara kita. Aku mencintai keduanya, walaupun kutahu itu menyakitinya.
    Di lain pihak, seperti cerita Si Wulan dalam sinetron, yang sudah begitu mencintai ternyata dikhianati. Yang akhirnya memilih untuk pergi karena dilukai, walaupun jauh di dalam hati masih mencintai, sakitnya tak terperi. Atau cerita Si Jaka dalam telenovela, yang diselingkuhi pacar tercinta ketika pergi keluar kota. Kemudian memilih pergi karena terluka. Tak bisa menerima. Hati pun merana.
    Menyengsarakan hati? Pastilah ya! Namun, dari zaman dahulu kala hingga sekarang, tak sedikit yang melakukan perselingkuhan. Menjadi cerita sehari-hari yang menarik di kalangan pergaulan, gosip tetangga, di rumah, di kantor, atau di mana saja. Menjadi cerita yang menarik di sinetron-sinetron dan berita-berita infotaiment.
    Si Bunga, Si Anton, Si Wulan, atau Si Jaka tentunya sudah dewasa. Tahu bagaimana dalam menyikapi cinta. Yang masing-masing pasti punya alasan sendiri. Untuk mencintai, mengkhianati, atau memperlakukan hati dan harga diri.
    Terkadang selingkuh itu malah dianggap sebagai rekreasi yang menantang, selingan yang indah. Beugh! Berbagai macam memang alasan untuk jatuh cinta lagi alias selingkuh. Tak lagi sehati, pasangan terlalu sibuk, tak bisa mengerti keinginan masing-masing, kesepian, tertarik dengan orang lain, jauh, jenuh, sering bertengkar, penampilan tak lagi oke, seks tak memuaskan, bla bla bla. Wadauw…!!!
    Mengapa ada yang namanya perselingkuhan? "Itu karena ada yang namanya perkawinan" begitu kata Si A. Hehehe. Ada Si B yang menyebut selingkuh itu, "selingan indah keluarga utuh". Lalu dikatakan oleh Si C, "Selingkuh itu, sebuah joint venture, usaha gabungan berlapis tiga, terdiri dari dua pelakunya, didukung, dan dikompori setan". Wah, yang ini agak serem ya? "Awalnya, berjuta rasa, tetapi bila tak waspada, kenikmatan bisa berujung jadi neraka," begitu kata Si D. "Selingkuh, perbuatan yang tidak jujur, tidak setia, entah kepada pasangan hidup, pacar atau partner" sambung si E.  Dan apa kata Si F? "Sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak". Wuih… Kok begitu ya?
    Hahaha, makin memusingkan lagi, ketika di sisi lain, Si G bertanya, "Apakah cowok atau cewek yang sudah berpasangan, baik berpacaran atau sudah menikah tidak berhak untuk jatuh cinta lagi?"
    Dan Si H yang lebih ekstrim, berpendapat, "Kesetiaan pada seorang saja seumur hidup itu nonsense, dan sama sekali tidak manusiawi! Sekali lagi tidak manusiawi!" Wuih… Yang kemudian disambung lagi oleh Si I, "Kalau pasangan tidak membahagiakanmu, kamu berhak mencari kebahagiaan di tempat lain". Atau kata Si J "Kalau kau mencintai seseorang dan bahagia bersamanya, kau harus menerima dia secara apa adanya, kekuatannya dan kelemahannya, termasuk affair-affairnya. Ya, termasuk affair-affairnya." Beugh!
    Hhhh… Ya begitulah, pusing tujuh keliling. Makin pening. Hubungan manusia itu begitu rumitnya, penuh lika-liku. Pernyataan-pernyataan di atas hanyalah sekedar menggambarkan retorika yang ada. Mengutip pendapat-pendapat berbagai orang dari berbagai kalangan. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa selingkuh itu perilaku baik atau buruk. Belum tentu benar dan belum tentu juga salah. Halal atau tidak halal. Hidup ini pun tak sebaik atau seburuk seperti yang kita bayangkan. Kedalaman cara berpikir seorang manusia acapkali memang tak bisa diselami. Hati orang siapa yang tahu? Dan kita tentunya juga pasti berpikir, hal terbaik apa yang mestinya kita lakukan, untuk diri kita sendiri, atau untuk sesuatu yang kita cintai. Akankah kita mengerti?

Bandung, November 2006

Bumi Ini Berharga

November 10th, 2006 by gejor

      Bagaimana Tuan dapat membeli atau menjual
      Langit dan kehangatan tanah?
      Gagasan ini aneh bagi kami
      Kalau kami tidak memiliki udara yang segar
      Dan air yang bergemericik
      Bagaimana Tuan dapat membelinya?

      Aku mengagumi orang kulit merah. Orang Indian. Dalam sikapnya yang memperlakukan lingkungan dan alam begitu rupa. Akan pandangan bagaimana bumi ini adalah tempat seluruh mahluk hidup berada. Manusia dari berbagai ras suku bangsa. Bahwa kita semua adalah saudara. Hidup dan berpijak di atas bumi yang sama, ibunda tercinta. Akan kehidupan dan kematian yang penuh dengan misteri.

      Tahun 1854,"Pemimpin Besar Orang Kulit Putih" yang berkedudukan di Washington menyatakan keinginannya untuk membeli tanah milik orang Indian yang luas dan berjanji akan memberi mereka "tanah perlindungan". Jawaban Kepala Suku Seattle berikut dianggap sebagai pernyataan mengenai lingkungan hidup paling indah yang pernah dibuat. Yang saat ini kutulis kembali. Untuk kuceritakan lagi. Yang kuharap semoga berkenan dan memberikan arti di dalam hati. Semoga.

* * *

Semuanya Keramat

      Bagi bangsa saya, setiap bagian dari bumi ini adalah keramat. Dalam ingatan dan pengalaman bangsa saya, setiap pucuk daun cemara yang berkilauan, setiap pantai berpasir, setiap kabut yang menyelimuti hutan nan gelap, setiap jengkal tanah terbuka dan serangga yang bergumam adalah sakral. Sari kehidupan yang mengalir di dalam pepohonan menyimpan ingatan orang kulit merah.

      Orang kulit putih yang mati, ketika mereka berjalan di antara bintang, tidak ingat lagi dimana tanah kelahirannya. Bagi kami, orang mati tidak pernah melupakan bumi yang indah ini, karena bumi adalah ibunda orang kulit merah.

      Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Bunga-bunga semerbak wangi adalah saudara perempuan kami. Rusa, kuda, elang besar adalah saudara laki-laki kami. Tebing berbatu, sari bunga yang ada di lembah, kehangatan tubuh kuda dan manusia semuanya adalah keluarga.

Tidak Mudah

      Jadi, jika Pemimpin Besar di Washington mengajukan keinginan hendak membeli tanah kami, niat itu kami anggap sungguh penting. Pemimpin Besar memberi kabar kalau ia akan memberi tempat bagi kami, sehingga kami dapat hidup dengan sejahtera. Ia akan menjadi ayah kami dan dan kami menjadi putra putrinya. Oleh sebab itu kami akan mempertimbangkan keinginan untuk membeli tanah kami. Tetapi hal ini tidak akan mudah terlaksana, sebab bagi kami tanah ini keramat. Air berkilauan yang mengalir di sungai-sungai bukanlah sekedar air, melainkan darah nenek moyang kami.

      Kalau kami sampai menjual tanah kepada Tuan, harus diingat kalau tanah itu keramat. Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah itu suci, dimana setiap pantulan yang samar-samar di dalam air jernih danau menceritakan kejadian-kejadian dan ingatan pada kehidupan bangsa kami. Kecepak air adalah suara ayah dari ayah kami.

Kebaikan

      Sungai-sungai adalah saudara laki-laki kami. Mereka mengatasi dahaga kami. Sungai mengangkut kano-kano kami dan memberi makan anak-anak kami. Jika kami menjual tanah kepada Tuan maka Tuan harus ingat mengajari anak-anak Tuan kalau sungai adalah saudara laki-laki kami, seperti layaknya Tuan memberi keramahan yang pantas kepada saudara laki-laki.

      Kami tahu bangsa kulit putih tidak memahami tata kehidupan kami. Satu bagian tanah dianggap sama dengan bagian lain, karena ia adalah orang asing yang tiba pada malam hari, kemudian mengambil tanah yang ia butuhkan. Tanah bukanlah saudara laki-lakinya tetapi musuh. Jika ia telah menguasai tanah tersebut maka iapun akan melanjutkan perjalanannya.

      Ia meninggalkan kuburan ayahnya dengan tak acuh. Ia menjarah bumi milik anak-anak dengan tak acuh. Kuburan ayahnya dan hak hidup anak-anaknya dilupakan. Ibunya, yaitu bumi dan saudara laki-lakinya, yaitu langit, diperlakukan sebagai barang dagangan yang dapat dibeli, dirampok dan dijual seperti kambing atau manik-manik yang berwarna cerah. Nafsunya akan menelan bumi dan hanya meninggalkan padang pasir.

      Saya tidak tahu. Jalan kami berbeda dengan jalan Tuan. Pemandangan kota-kota tuan menyakitkan mata orang kulit merah. Mungkin karena orang kulit merah adalah orang biadab yang tidak mengerti.

      Tidak ada satu tempatpun yang tenang di kota-kota orang kulit putih. Tidak ada tempat untuk melihat mekarnya daun pada musim semi atau gesekan sayap serangga. Mungkin saja karena saya orang yang biadab dan bodoh. Kebisingan kota hanya mengusik telinga, dan apalah artinya kehidupan jika orang tidak dapat mendengar teriakan kesepian burung whippoorwil atau celoteh katak di sekeliling kolam pada malam hari? Saya hanyalah seorang kulit merah yang tidak tahu apa-apa.

      Orang Indian lebih menyenangi suara lembut dan aroma angin yang berdesir di atas permukaan kolam, yang dibersihkan oleh hujan siang hari, yang diimbuhi wewangian dari pohon cemara.

Berharga

      Udara sangat berharga bagi orang kulit merah, karena semua berbagi nafas dengannya, binatang, pohon, dan manusia. Orang kulit putih tidak memperhatikan udara yang dihirup. Seperti orang yang sudah mati beberapa hari, ia kebal dengan bau busuk.

      Jika tanah ini kami jual kepada Tuan, Tuan harus ingat kalau udara sangat penting bagi kami, kalau udara membagi esensinya dengan semua yang ia tunjang kehidupannya. Angin yang memberi nafas pertama kepada kakek kami juga menerima nafas terakhir darinya. Jika kami menjual tanah kepada Tuan, Tuan harus memisahkan dan memuliakannya sebagai tempat di mana orang kulit putihpun dapat menikmati angin, yang dipermanis oleh aroma bebungaan padang rumput.

Satu Syarat

      Jadi kami akan mempertimbangkan permintaan Tuan untuk membeli tanah kami. Jika kami setuju, saya mau mengajukan satu syarat. Orang kulit putih harus memperlakukan binatang-binatang di atas tanah ini sebagai saudara laki-laki. Saya orang biadab dan saya tidak mengerti cara lainnya.

      Saya telah melihat ribuan kerbau yang membusuk di padang rumput, ditinggalkan begitu saja oleh orang kulit putih yang menembakinya dari kereta api yang sedang berjalan. Saya orang biadab dan tidak mengerti betapa kuda besi berasap dianggap lebih penting daripada kerbau yang kami bunuh demi hanya untuk menyambung kehidupan.

      Apalah artinya manusia tanpa binatang? Jika semua binatang punah, manusia akan mati karena kesepian yang luar biasa. Karena apapun yang terjadi pada binatang akan terjadi pula secara cepat pada manusia. Semua hal saling bertalian.

Abu

      Tuan harus mengajari anak-anak Tuan kalau tanah di bawah telapak kaki mereka adalah abu dari kakek-kakek Tuan. Agar mereka menghargai tanah, ceritakanlah kepada mereka kalau bumi ini kaya dengan kehidupan. Ajarkanlah kepada anak-anak Tuan seperti kami mengajarkan kepada anak-anak kami, bahwa bumi adalah ibu kita. Apa yang terjadi pada bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Jika orang meludahi tanah maka ia meludahi dirinya sendiri.

      Yang kami ketahui bumi tidak dimiliki orang. Oranglah yang dimiliki bumi. Kami tahu, semua hal saling bertalian. Seperti darah yang menyatukan keluarga. Apa yang terjadi dengan bumi akan terjadi pada anak-anak kami. Manusia tidak merajut jaring-jaring kehidupan. Ia hanyalah bagian kecil dari padanya. Apa yang ia perbuat terhadap jaring kehidupan adalah tindakan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri. Bahkan orang kulit putih, yang Tuhannya berjalan dan berbicara dengannya seperti teman kepada teman tidak dapat dikecualikan dari nasib bersama. Kita semua akhirnya bersaudara. Kita akan melihatnya. Satu hal yang kita ketahui, yang pada suatu hari akan disadari pula oleh orang kulit putih, Tuhan kita adalah Tuhan yang sama.

      Sekarang Tuan boleh berpendapat bahwa Tuan memiliki Dia, sebagaimana Tuan ingin memiliki tanah kami. Tetapi tidak mungkin Tuan memiliki Dia sendiri. Dia adalah Tuhan dari semua manusia, yang perhatiannya sama besar baik kepada orang kulit merah maupun orang kulit putih. Bumi ini amat berharga bagi Dia. Merusak bumi akan membangkitkan balas dendam Sang Pencipta. Orang kulit putih juga akan lenyap, mungkin lebih cepat dari suku-suku lainnya. Kotorilah ranjang Tuan, maka pada suatu malam Tuan akan tercekik oleh kotoran Tuan sendiri.

      Pada saat Tuan mati, Tuan akan besinar terang, dibekali kekuatan Tuhan yang membawa Tuan ke Tanah ini, untuk tujuan istimewa memberi Tuan kekuasaan atas tanah ini dan atas orang kulit merah.

      Takdir adalah suatu misteri bagi kami, karena kami tidak tahu kapan semua kerbau habis disembelih, kuda liar dijinakkan, sudut-sudut rahasia hutan dipenuhi bau orang banyak, dan bukit-bukit dipenuhi kabel-kabel berbicara.

      Dimanakah semak belukar? Hilang
      Di manakah elang? Lenyap
      Di sinilah kehidupan berakhir
      Dan kehidupan baru pun dimulai!

Taken from A Speologi Book in Astacala - Bumi Ini Berharga
Bandung, November 2006

Dan Damai di Bumi

November 8th, 2006 by gejor

    Berkelana ke negeri-negeri eksotis. Menjelajah ujung-ujung dunia. Aku menyukai berbagai cerita petualangan. Mengagumi kisah-kisah kepahlawanan dan membela kebenaran serta persahabatan tulus ikhlas yang mengharukan tanpa mempermasalahkan perbedaan. Kadang tersedu, terhanyut dalam latar alam menjelajah pelosok bumi. Atau kadang ikut pula tersenyum melihat budaya manusia di berbagai belahan dunia.
    Dari belahan dunia timur sampai barat. Dengan tokoh yang berbeda. Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan alur cerita sambung menyambung.
    Banyak hal yang bisa dipetik dari cerita kepahlawanan dan petualangan. Membacanya seperti ikut membawa kita menjejakkan kaki di berbagai latar ceritanya yang beraneka ragam. Tidak saja mengajarkan tentang petualangan, persahabatan, dan kecerdikan. Tetapi juga mengajarkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama dan alam lingkungan. Mengajarkan banyak kebajikan. Pesan moral dan budi pakerti yang luhur. Dengan berbagai jalinan suku bangsa, ras, agama, dan berbagai nasionalisme.
    Seorang yang berkelana akan mempelajari banyak hal. Ia tidak akan mudah untuk mempercayai sesuatu. Semua akan dipelajari. Karena kehidupan adalah proses belajar yang tiada henti. Alam dan isinya adalah guru terbaik. Rasa ingin tahu dan mengeksplorasi akan tertanam. Keinginan untuk berbagi dan menempatkan diri sebagai orang lain. Atau menempatkan diri sebagai mahluk lain. Bagaimana kalau seandainya kita menjadi mereka? Pada dasarnya apa yang orang lain rasakan adalah sama dengan apa yang kita rasakan.
    Seperti kisah-kisah yang ditulis oleh Karl May, sang jawara cerita perjalanan yang nyaris ensiklopedi dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mengetahui berbagai keajaiban dunia tanpa menginjakkan kaki di tempat yang bersangkutan. Ternyata banyak sekali keindahan dan keanekaragaman di bumi ini. Suatu waktu mungkin aku akan mengunjungi tempat-tempat ceritanya. Berkelana di belahan Amerika bersama Winnetou si indian kulit merah dan sahabatnya Old Shatterhand si kulit putih. Mengarungi padang-padang prairi. Menyeberangi Sungai Missisipi. Bagaimana kita diajarkan untuk menghargai alam layaknya kita menghargai ibunda kita, hidup berdampingan, menjunjung perdamaian, petualangan mencari harta karun, serta tragedi penindasan dan kepunahan suku Indian. Mengukur tanah untuk jalan kereta api, perampasan tanah, perbudakan, tambang merkuri, pipa perdamaian, menangkap kuda mustang, berburu bison, membunuh beruang grizzly, membuat hujan di gurun, mencari jejak, melempar tomahawk, menembak di kegelapan, membuat pesawat terbang, dan sebagainya.
    Atau berkelana di Timur Tengah bersama seorang kristiani Kara Ben Nemsi, bersama sahabat muslimnya Haji Halef Omar. Menjelajah dari Afrika Utara, Mesir, Semenanjung Arabia, Mekah, Irak, Iran, Kurdistan, Libanon, Turki Eropa, Bulgaria, Macedonia, Albania, dan kembali ke Palestina. Menjelajahi negeri 1001 malam yang bukan khayalan. Mengetahuinya ibarat berkelana di belahan dunia. Layaknya bertemu dengan semua umat manusia dan mahluk ciptaanNya. Bertemu dengan Muslim Sunni, Muslim Syiah, Kristen Ortodoks, Kristen Chaldean, Agama Kaum Jesidi, dan sebagainya. Perjalanan ke Mekah, menembus pasir hisap, melawan penyakit maut pes, berpetualang di Kurdistan, mengenal kuda arab dan rahasianya. Pedang Damsyik yang sanggup memotong besi, permusuhan abadi di Balkan, kebudayaan orang Arab, mencari peninggalan purbakala Irak, Jamur Truffle, dan sebagainya.
    Dan akhir-akhir ini aku memang senang mengagumi cerita-cerita perjalanan Karl May tersebut. Yang sarat dengan petualangan dengan berbagai latar alam dan nilai-nilai moral bagi umat manusia. Tentang bagaimana kita menghargai lingkungan. Alasan kenapa kita tidak boleh membunuh. Tidak boleh memusuhi orang. Dan yang paling menarik adalah sikap terhadap seseorang yang memiliki perbedaan dengan kita. Terhadap orang yang memiliki kepercayaan lain. Atau terhadap orang dengan darah yang berbeda. Ras yang berjauhan. Yang saat ini, di bumi ini,  sungguh banyak pertumpahan darah karena alasan itu. Baik di negeri sendiri, ataupun di negeri seberang. Seperti pertikaian di Poso ataupun pertumpahan darah di Palestina yang tak kunjung akhir.
    Dalam petualangannya, Old Shatterhand si kulit putih tidak pernah berpikiran picik. Dia menghormati kepercayaan semua orang lain. Atau yang tidak punya kepercayaan sama sekali. Inilah hal-hal yang bisa dipelajari ketika membaca kisah Winnetou. Mungkin karena jiwa kebebasan yang mengalir dari darah ayahku, maka cerita tokoh pahlawan yang diceritakan Karl May ini menembus ke hati sanubari. Yang mungkin akan berbeda dengan orang-orang yang baru beranjak dewasa, yang entah kenapa saat ini banyak sekali sekat-sekat mulai didirikan dan benih-benih kecurigaan ditanamkan. Yang mungkin berbeda dan sangat sensitif jika dibandingkan dengan orang-orang yang telah dibentuk oleh keyakinan-keyakinan setempat ataupun lingkungannya. Berbagai keyakinan sempit yang tak pernah bisa kumengerti, yang saling mencaci, saling memaki, dan saling menghancurkan, walaupun atas nama Tuhan penguasa alam semesta, keturunan terhormat sekalipun, suku bangsa, atau agama manapun di muka bumi ini.
    Kita pernah belajar yang namanya DNA. Siklus genetik dari tubuh manusia. Dari riwayat perubahan gen antara orang Afrika, Asia, Amerika, terlihat bahwa ternyata manusia itu satu saudara, satu keturunan. Padahal tanpa pengetahuan tentang itu pun kita seharusnya menyadari bahwa kita bersaudara. Begitu juga dari cerita tentang adam dan hawa yang menurunkan umat manusia.
    Tapi, lepas dari itu semua, tetap banyak juga alasan yang tak akan bisa kita mengerti kenapa ada saja pertikaian di muka bumi. Alasan yang tak akan pernah bisa diterima dan kenapa itu harus terjadi. Takdir merupakan misteri. Semuanya adalah misteri. Mengapa manusia hidup dan kenapa manusia mati? Ada hitam, ada putih. Ada lelaki, akan ada perempuan. Ada baik, tentu saja ada jahat. Ada kedamaian, ada juga peperangan. Semua punya pasangannya dalam kehidupan ini. Semuanya pasti berbeda. Tapi bertalian satu sama lainnya. Warna di dunia memang beragam. Kenapa seperti itu?
    Lihatlah. Yang kutahu bumi ini begitu indah. Layaknya bunda tersayang yang memelihara anak-anaknya. Langit biru yang selalu memayungi dunia. Layaknya ayah tercinta yang akan selalu melindungi putranya. Kita semua adalah milikNya. Ditakdirkan bersama sebagai satu keluarga. Sebagai satu saudara. Di sebuah rumah yang bernama bumi. Dengan berbagai problema di dalamnya. Yang menuntut kita untuk bisa bijak mengatasinya. Mengarungi setiap indahnya. Memahami setiap gelapnya.
    Dan begitulah. Semoga damai selalu di bumi. Saya telah berbicara. Howgh!

Inspirated from Karl May - All of Books
Bandung, November 2006

Carpe Diem

October 23rd, 2006 by gejor

     Setiap hari Afrika mengawali pagi
     Seekor rusa bangun
     Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat
     Dari seekor singa yang tercepat
     Atau ia akan terbunuh

     Setiap pagi seekor singa bangun
     Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat
     Atau ia akan mati kelaparan

     Tidak masalah
     Apakah kau adalah seekor singa atau seekor rusa
     Ketika matahari terbit
     Lebih baik kau mulai berlari

     Bait terakhir di atas berusaha untuk mengingatkan kepada kita untuk segera memulai hari yang indah ini. Hari ini adalah hari ini. Hari kemarin telah tertinggal dan tak ada satupun usaha yang dapat mengembalikannya kembali. Kita telah melewati lorong waktu yang disediakan. Tak peduli apakah kita seekor singa ataupun seekor rusa seperti yang dikutip dari puisi tradisional Afrika di atas. Tak peduli apakah kita seorang mahasiswa, karyawan, pengusaha, tukang kayu, tukang sampah, ataupun pengangguran. Sering kita bernostalgia terhadap hal-hal yang telah dilakukan, menoleh kembali ke arah belakang. Tapi membiarkan diri berlarut-larut olehnya dan memaksakan kehadirannya dengan membuat perbandingan-perbandingan yang sudah tidak sesuai membuat kita hidup dengan mimpi-mimpi di masa lalu.
     Janus, nama salah satu dewa bangsa Romawi yang digunakan sebagai nama bulan yang pertama, digambarkan sebagai dewa dengan dua wajah. Satu wajahnya menghadap ke belakang dan satu lagi menghadap ke depan. Kita diberi pilihan berjalan, dan arah manakah yang akan kita tempuh? Arahkanlah diri kita pada apa yang ada di depan karena masa lalu telah lewat.
     Semua manusia memiliki kesempatan yang sama dengan talenta yang berbeda-beda. Kita diberi 24 jam sehari, 60 menit per jam, dan 60 detik per menit. Setiap hari kita disapa dengan cerahnya sinar matahari serta heningnya suasana di malam hari. Masalahnya hanyalah berapa bagian dari jumlah itu yang kita pergunakan dengan baik. Apakah kita ingin berada di tengah suasana cerahnya matahari atau lari darinya, berada dalam keheningan malam atau menempatkan diri di tengah hiruk pikuknya kehidupan.
     Setiap detik yang berjalan memiliki arti tersendiri. Betapa bahagianya seandainya kita bisa mengerti arti detik demi detik yang berjalan tersebut dan tidak menyia-nyiakannya. Demikian halnya dengan talenta. Apapun yang akan kita lakukan hari ini akan memberi suatu warna tersendiri bagi dunia ini. Dan warna yang kita miliki berbeda-beda. Saya akan memberinya warna hitam dan Anda akan memberinya warna kuning. Sang petugas keamanan akan memberinya warna hijau muda. Kuli bangunan memberinya warna oranye. Dan perawat memberinya warna putih. Lihatlah, dunia ini telah memperlihatkan kompleksitas warna dan ia terus berputar bersama waktu tanpa menunggu siapapun.
     Carpe Diem. Rebut hari ini! Sang singa tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lemah dan sang rusa juga tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat. Demikian juga dengan kita manusia yang harus tahu bahwa kita harus melakukan berbagai pekerjaan dan kegiatan. Begitu banyak yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk memberi warna dunia ini. Kita isi dengan apa selama dua puluh empat jam ke depan sehingga kita bisa berkata "Hari ini milikku!".
     Kita boleh saja memiliki rencana-rencana selama satu bulan ke depan, setahun, bahkan beberapa tahun. Namun rencana sebagus apapun tidaklah lebih baik dari sebuah langkah nyata. Kenyataannya adalah di hari ini dan saat ini, membuat detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam menjadi berarti bagi kita.
     Dan tindakan yang sebaiknya kita lakukan secepat mungkin adalah memulainya dari sekarang.
     Ayo kawan. Carpe Diem! Rebut hari ini!

Taken from Antonius Satya Wanadri - Carpe Diem
Bandung, Oktober 2006